suryawijaya.com

suryawijaya.com
Cayman Family Roots Names Data Base Sales

Jumat, 05 Agustus 2011

CHAPTER 5 BASIC PRINCIPLES OF INSURANCE II

CHAPTER 5
BASIC PRINCIPLES OF INSURANCE II

A.Contribution
1.Definisi Contribution:
Contribution is a right of an insurer to call upon others, similarly, but neccesarily equally liable to the same insured, to share the cost of an indemnity payment.
2.Corollary of indemnity
Memfokuskan pada proporsi tanggung jawab penanggung yang bertanggung jawab atas peril/subject matter of insurance yang sama, dalam hal terjadi double insurance sehingga tertanggung tidak mendapatkan indemnity lebih dari kerugian yang diderita.
Hal yang pokok di sini adalah bila penanggung telah membayar ganti rugi penuh, penanggung dapat menutup kerugiannya dari penanggung lain dengan proporsi yang seimbang
3.Timbulnya kontribusi
Berdasarkan common law, kontribusi berlaku apabila terdapat hal-hal sebagai berikut:
a.adanya dua atau lebih polis indemnity
b.polis-polis dimaksud menutup kepentingan bersama (common interest)
Case North British & Mercantile v Liverpool & London & Globe (1877) dikenal sebagai case “The King and Queen Granaries” . Rodocanachi mendepositkan padi di lumbung yang dimiliki oleh Barnett. Barnett mengasuransikannya. Pemilik mengasuransikannya untuk melindungi interestnya sebagai pemilik. Ketika terjadi kebakaran, penanggung penjamin/pengelola membayar dan mencari recovery dari penanggung pemilik padi. Karena interest berbeda, yang satu sebagai penjamin dan yang lain sebagai pemilik, diputuskan bahwa kontribusi tidak berlaku.
Case tersebut membuktikan bahwa untuk kontribusi antara polis-polis timbul di dalam hukum, interest in subject matter of insurance harus sama.
c.polis-polis dimaksud menutup resiko bersama (common perils)
Resiko yang dijamin oleh masing-masing polis tidak harus identik sepanjang common peril yang menyebabkan loss.
Case American Surety Co of New York v Wrightson (1910) asuransi menjamin dishonesty of employees diputuskan berkontribusi dengan asuransi yang menjamin dishonesty of employees dan kebakaran dan burglary.
Dishonesty adalah common peril
d.polis-polis dimaksud menutup objek asuransi bersama (common subject matter)
e.setiap polis harus membayar kerugian

4.Basis of Contribution
a.Rateable proportion
Perhitungan rateable proportion dapat dibagi dua cara, yaitu proporsi terhadap harga pertanggungan dan limit of liability
1.Proporsi terhadap harga pertanggungan
Contoh:
Polis A HP: Rp 1 M
Polis B HP: Rp 2 M
Polis C HP: Rp 3 M
Polis A bayar:Rp 1 M X Loss
Rp 1 M + Rp 2 M + Rp 3 M 1
Dan seterusnya untuk polis B & C

2.Proporsi terhadap liability atas loss
Contoh:
Loss Rp 1,5 M; Liability A Rp 0,5 M; Liability B Rp 1 M; Liability C Rp 1 M
Setelah dikenakan average:
Polis A membayar:
Rp 0,5 M X Rp 1,5 M = Rp 0,3 M
Rp 0,5 M + Rp 1 M + Rp 1 M 1
Dan seterusnya untuk polis B dan C
Pendekatan ini disebut “The Independent Liability Method”

b.Market Practice;
Market practice telah mengarah kepada metode standard yang sering digunakan dan kadang telah tergabung ke dalam formal agreement antar group company yang besar

c.Polis Property (not subject to average)
Kontribusi dihitung berdasarkan proporsi terhadap Harga Pertanggungan
SI by particular insurer x loss = liability of particular insurer
Total SI by all insurer
Contoh:
Insurer A SI = 10.000
Insurer B SI = 20.000
Loss = 12.000
Liability A = 10.000 x 12.000 = 4.000
30.000
Liability B = 20.000 x 12.000 = 8.000
30.000
12.000

d.Polis Property Lainnya;
Dalam hal polis-polis berlaku ketentuan average atau di mana loss limit individu memberlakukan di bawah harga pertanggungan pembagian kontribusi harus dihitung berdasarkan “Independent Liability”
Independent Liability adalah jumlah yang harus dibayar bila penanggung dimaksud adalah satu-satunya penanggung yang menjamin kerugian
Contoh:
Property diasuransikan kepada A dan B masing-masing sebesar Rp 2 M dan Rp 1 M subject to pro rata average. Nilai property pada saat terjadi loss Rp 4,5 M dan jumlah loss sebesar Rp 0,45 M.
Langkah I
Hitung berapa masing-masing penanggung akan membayar jika penanggung dimaksud hanya mempunyai polis yang in force
Untuk mendapatkan independent liability A, average diaplikasikan terhadap loss;
HP A X Loss
Value at risk 1
Rp 2 M X Rp 0,45 M = Rp 0,2 M
Rp 4,5 M 1

Independent liability B ;

Rp 1 M X Rp 0,45 M = Rp 0,1 M
Rp 4,5 M 1

Total Rp 0,3 M

Average condition wording menjadikan tertanggung sebagai penanggung untuk jumlah yang under-insurance
Dalam hal ini: Rp 4,5 M – (Rp 2 M + Rp 1 M) = Rp 1,5 M
Jadi tertanggung menanggung:

Rp 1,5 M X Rp 0,45 M = Rp 0,15 M
Rp 4,5 M 1

Langkah II,
Bila jumlah independent liability penanggung kurang dari atau sama dengan loss, maka masing-masing penanggung membayar independent liabilitynya.
Langkah III,
Bila jumlah independent liability lebih besar daripada loss, maka perhitungan loss-nya dibagi berdasarkan proporsi terhadap liabilities, yaitu:
Independent Liability (IL) Penanggung X Loss
Total IL Seluruh Penanggung 1
Contoh:
HP A: Rp 4,5 M ) subject to
HP B: Rp 1,0 M ) pro rata average
Loss: Rp 0,45 M
Value at risk: Rp 4,5 M
Langkah I – hitung average
Liability A = Loss = Rp 0,45 M
Liability B = Rp 1 M x Rp 0,45 M = Rp 0,10 M
Rp 4,5 M 1
Rp 0,55 M

Langkah II atau III?
Langkah III karena total independent liability seluruh penanggung lebih besar dari loss
A bayar: Rp 0,45 M x Rp 0,45 M = Rp 368, 2 juta
Rp 0,55 M 1
B bayar: Rp 0,10 M x Rp 0,45 M = Rp 81,8 juta
Rp 0,55 M 1
Rp 450 juta ( terjadi bersama-sama)
Contoh di atas mengilustrasikan metode dengan polis concurrent, tetapi metode ini dapat pula digunakan sama baiknya dengan polis nonconcurrent.
Contoh:
HP subject to pro rata average
A menjamin seluruh contents Rp 20 M
B menjamin stock saja Rp 15 M
Value at risk
- stock Rp 20 M
- content Rp 5 M
Kerugian pada stock Rp 10 M
Independent liability A:
Rp 20 M x Rp 10 M = Rp 8,0 M
Rp 20 M + Rp 5 M 1
Independent liability B:
Rp 15 M x Rp 10 M = Rp 7,5 M
Rp 20 M 1
Total = Rp 15,5 M
A bayar: Rp 8 M x Rp 10 M = Rp 5.161,3 M
Rp 15,5 M 1
B bayar: Rp 7,5 M x Rp 10 M = Rp 4.838,7 M
Rp 15,5 M 1
Total = Rp 10 M

e.Liability Insurance
Hal yang mungkin lebih dari satu polis liability menjamin kerugian yang sama walaupun hal ini tidak biasa
Contoh:
Polis public liability A mempunyai limit of indemnity any one accident sebesar Rp 100 juta. Polis public liability B mempunyai limit Rp 250 juta.
Tertanggung liable terhadap pihak ketiga Rp 125 juta.
Independent liability polis A sebesar limit: Rp 100 juta
Independent liability polis B sebesar loss : Rp 125 juta
Rp 225 juta
A bayar: Rp 100 juta x Rp 125 juta = Rp 55.555,56 juta
Rp 225 juta 1
B bayar: Rp 125 juta x Rp 125 juta = Rp 69.444,44 juta
Rp 225 juta 1
Total = Rp 125 juta

5.Modifikasi Prinsip Kontribusi
a.Non Contribution Clause
Kadang kala kontribusi dihilangkan dari polis dengan klausula sbb:
“This policy shall not apply in respect of any claim where the insured is entitled to indemnity under any other insurance”
Berarti bahwa polis tidak akan melakukan kontribusi bila ada polis lain yang in force.
Sebagai alternatif wording berikut ini dapat ditambahkan pada klausula di atas:
“Except in respect of any excess beyond the amount which would have been payable under such other insurance had this insurance not been effected”
Dengan klausula tersebut tertanggung boleh mengklaim dengan polis yang berisikan klausula tersebut tetapi hanya bila polis yang lain tidak membayar indemnity dan hanya untuk balance of loss, yaitu tidak ada “rateable” sharing.
Namun courts tidak setuju dengan klausula dimaksud dan jika kedua polis berisikan klausula dimaksud, kedua penanggung akan mengkontribusi rateably.

b.Klausula yang lebih spesifik
Bila polis yang diterbitkan memberikan jaminan yang lebih luas, kadang kala klausula seperti tersebut di atas dicantumkan untuk mencegah kontribusi antara polis yang memberikan jaminan yang luas dengan polis yang lebih spesifik di dalam penutupannya.
Sebagai contoh polis kebakaran atas stock barang dagangan hanya akan menjamin balance of loss setelah liability polis yang lebih spesifik habis digunakan.
Begitu pula polis kebakaran tidak akan mengkontribusi dengan polis marine cargo di dockside warehouse kecuali untuk excess of value yang tidak dijamin oleh polis marine.

c.Marine Agreement
Banyak penanggung yang telah sepakat bahwa kecelakaan yang diderita oleh karyawan yang menggunakan kendaraan majikan menuju ke tempat pekerjaannya dapat diklaim dengan polis employer’s liability dan tidak ada kontribusi dengan polis motor.
Dengan situasi demikian secara hukum klaim tersebut dapat dilakukan dengan polis motor dan polis employer’s liability. Namun karena market agreement maka klaim dapat dilaksanakan dengan polis employer’s liability.

B.The Personal Insurance Arbitration Service
1.PIAS didirikan tahun 1981 dengan tujuan menyediakan metode informal untuk menyelesaikan disputes di mana pemegang polis di wilayah UK mengalami financial loss karena penanggung tidak dapat memenuhi kewajibannya
2.Hanya berlaku untuk orang-orang yang diasuransikan sebagai pribadi pada salah satu penanggung yang menjadi anggota Service yang beroperasi sebagai lembaga independent, yaitu: The Chartered Institute of Arbitrators
3.Tertanggung yang tidap puas atas penanggungnya meminta penanggung menyelesaikan dispute di PIAS. Harus ada formal agreement di antara mereka sebelum arbitrase dilaksanakan, karena merupakan proses hukum, arbitrators yang ditunjuk akan mengeluarkan keputusan yang mengikat kedua belah pihak
4.Penanggung membayar seluruh biaya arbitrase kecuali biaya persiapan dokumen tertanggung
5.Tidak berlaku untuk dispute yang timbul dari pihak ketiga
6.Keputusan PIAS mengikat secara hukum, tapi tidak berlaku untuk pemegang polis Llyod’s yang hanya bisa menyelesaikan dispute di Lloyd’s Advisory Department

C.Proximate Cause
1.Definisi Proximate Cause:
a.The active, efficient cause that sets in motion a train of events which brings about a result, without the intervention of any force started and working actively from a new and independent source (Pawsey v Scottish Union and National, 1907). (Penyebab yang aktif, efisien yang berlangsung dalam suatu rangkaian yang menimbulkan suatu akibat, tanpa adanya intervensi dari setiap kekuatan, yang dimulai dan beroperasi secara aktif dari sumber/sebab baru yang berdiri sendiri)
2.Unsur-unsur Pokok dalam Proximate Cause
a.It is the dominant cause (Leyland Shipping Co v Norwich Union, 1918)
Adalah penyebab dari suatu rentetan peristiwa yang tidak terputuskan
b.Or the efficient of operative cause (P. Samuel & Co. v Dumas, 1924)
Must be direct relationship between cause and result
-apakah bahaya dari penyebab pertama masih melekat
Kalau masih melekat, berarti penyebab pertama adalah proximate cause
Kalau sudah hilang, dianggap proximate cause sudah berhenti di situ
-apakah ada usaha untuk menghilangkan bahaya itu
Kalau ada dan usaha itu gagal maka penyebab pertama adalah proximate cause

3.Pentingnya Prinsip Proximate Cause
Asuransi memberikan jaminan terhadap kerugian yang disebabkan oleh resiko-resiko tertentu yang dipertanggungkan, namun sering ditemui kesulitan dalam menentukan sebab-sebab yang menimbulkan kerugian, karena penyebabnya bisa lebih dari satu yang mungkin merupakan sederetan peristiwa atau beberapa peristiwa yang terjadi secara bersamaan.
Sehingga proximate cause itu dapat digunakan untuk menentukan penyebab kerugian (yang dijamin atau tidak dijamin dalam polis).

4.Novus Actus Interveniens
Pengaruh alamiah tidak merubah posisi proximate cause (unbroken chain)
-Tootal, Broadhurst, Lee v London & Lancashire Ins (1918) Efficient danger bertahan: unbroken chain
-Roth v Southeasthope Farmer (1918)Efficient danger bertahan meskipun telah berusaha dihilangkan: unbroken chain
-Leyland Shipping Co v Norwich Union (1918)Danger harusnya telah dapat dihilangkan (inefficient): broken chain
-Gaskarth v Law Union (1876)

5.Chains of Events
•Unbroken Chain
•New force intervenes: the chain is broken
•No connection: the chain is broken

6.Penyebab Kerugian
•Single cause (penyebab tunggal)
•Chain of event (penyebabnya lebih dari satu atau sederetan penyebab)
Dua kriteria yang perlu diperhatikan adalah:
 unbroken sequence (sederetan penyebab yang tidak terputus)
 broken sequence (sederetan penyebab yang terputus):
•Concurrent causes: 2 kejadian yang timbul pada saat bersamaan, tetapi masing-masing berdiri sendiri

7.Kelompok bahaya menurut asuransi:
•Insured perils
Yaitu bahaya yang disebut di dalam polis, seperti kebakaran, sambaran petir dan ledakan tertentu sebagaimana dinyatakan dalam polis.
•Excepted perils
Bahaya yang disebut di dalam polis sebagai bahaya yang dikecualikan, seperti peledakan tertentu.
•Uninsured perils
Yaitu bahaya yang tidak disebut di dalam polis, seperti badai, asap api dan air tidak dikecualikan, atau tidak disebut sebagai resiko yang dijamin dalam polis asuransi kebakaran.

8.Concurrent cause and insurance
Kejadian A Kejadian B
Kebakaran----------- >Damage< -------------Kebakakaran/Badai ----------- > < -------------Huru hara

a.No excepted peril involved
Jika peristiwa A terjadi secara kongkiren, tetapi independent satu sama lain dan hal itu tidak mungkin untuk dibedakan bagian mana uang rusak karena kebakaran dan mana yang karena badai, semua kerugian dianggap dijamin sepanjang tidak ada resiko yang dikecualikan.
Jika kerugian dapat dipisahkan, maka hanya bagian yang rusak karena kebakaran itu yang dijamin

b.Where an expected peril is involved
Dalam kejadian B, jika kerusakan tidak dapat dipisahkan, keduanya tidak dijamin, sepanjang adanya pengecualian. Jika dalam peristiwa B itu dapat dipisahkan, hanya bagian yang disebabkan karena kebakaran saja yang dijamin.

9.Summary:
a.Resiko yang dijamin tidak perlu penyebab pertama
b.Resiko yang dijamin harus bukan akibat langsung dari suatu pengecualian (kecuali polis secara khusus mengecualikan)
c.Kerusakan, sebagai akibat langsung dari resiko yang ditutup adalah dijamin meskipun resiko penyebab itu tidak disebut dalam polis (kecuali polis secara khusus mengecualikan akibat itu). Contoh: kerusakan karena air atau asap dari kebakaran adalah dijamin
d.Barang itu dijamin meskipun jenis resiko tidak secara nyata disebut sebagai penyebab, sejauh jenis resiko itu masuk dalam operative clause dan kerusakan akibat dari itu dijamin. Contoh: bangunan sebelahnya milik tertanggung terbakar dan kerusakan tertanggung disebabkan karena semprotan air pemadam kebakaran atau karena asap, maka barang milik tertanggung tersebut harus diganti (asalkan sumber api tadi tidak termasuk resiko yang dikecualikan dalam polis)
e.Resiko yang dijamin harus benar terjadi. Ketakutan kehilangan barang karena resiko yang dijamin bukan kerugian karena resiko itu (Moore v Evans, 1917)
f.Kerugian lebih jauh yang timbul dalam upaya mengurangi kerugian, termasuk dijamin. Contohnya kerusakan akibat penyemprotan spinkler atau pemadam kebakaran juga dijamin (Johnston v West of Scotland Insurance, 1828)
g.Novus actus interveniens, yaitu suatu kekuatan baru yang ikut mempengaruhi. Dalam kasus Pawsey dinyatakan bahwa dalam definisi proximate cause tidak boleh ada suatu intervensi dari kekuatan baru.
h.Kasus “last straw”. Dalam contoh di mana resiko semula memiliki arti bahwa kerugian lebih kurang pasti terjadi, maka resiko semula tersebut merupakan proximate cause, meskipun kekuatan baru itu timbul dari sumber lain (Leyland Shipping Co. Ltd v Norwich Union (1918) dan Johnston v West of Scotland)

10.Contoh kasus hukum berdasarkan class of business
a.Marine
Leyland Shipping v Norwich Union (1918). Kapal akhirnya tenggelam dalam suasana badai, tetapi ia telah bocor karena torpedo dan meskipun telah mendekat ke pelabuhan, kapal itu diperintahkan oleh otoritas pelabuhan untuk meninggalkan pelabuhan karena dikhawatirkan kapal akan tenggelam dan memblokir pelabuhan itu. Ancaman atau bahaya tenggelamnya kapal karena torpedo merupakan penyebab yang dominan.

Ionides v Universal Marine Insurance Co (1863). Kapten kapal kehilangan arah dan mencoba mendekat daratan untuk mencari lampu menara. Karena adanya permusuhan, lampu menara itu padam dan akhirnya kapal itu kandas. Permusuhan dan padamnya lampu menara dianggap proximate cause yang terpisah.

b.Kebakaran
Haris v. Poland (1941). Polis menjamin resiko yang bersifat accidental atau kejadian yang tidak diduga oleh tertanggung. Tertanggung meletakkan uang dan perhiasannya pada tungku api (heater) dan secara tidak terduga kemudian terbakar. Hakim berpendapat bahwa hal itu merupakan kerugian yang secara accidental dan memenangkan klaim tersebut.

Everett v London Union Insurance Co. (1865). Tempat tertanggung rusak karena terjadinya ledakan sejauh kurang lebih setengah mil, ledakan itu disebabkan oleh kebakaran. Keputusan kasus tersebut adalah bahwa kebakaran adalah proximate cause yang terpisah dan kerusakan itu disebabkan oleh peledakan. Hukum “In jure non remota causa sed proxima spectatur” menjadi dasar dari keputusan tersebut.

Gaskarth v Law Union Insurance Co (1876). Akibat kebakaran, tembok yang telah rusak itu dibiarkan berdiri, tetapi konsekuensinya roboh kena angin kencang, dan pengadilan memutuskan bahwa kerusakan akibat robohnya tembok itu bukan karena kebakaran.

Roth v South Eastrope Farmers (1918). Petir merusak bangunan dan sesaat kemudian timbul angin kencang sehingga timbul kerusakan. Kasusu ini diputuskan bahwa seluruh kerusakan adalah akibat petir.
Hal yang penting di sini adalah apakah resiko/peril orisinil masih berfungsi dan merupakan faktor yang dominan dalam kerugian. Dalam kasus pertama terbukti bahwa tembok itu tahan api, sedangkan dalam kasus kedua tidak demikian halnya dan angin kecang bertiup sebelum upaya perbaikan dilakukan.

Johnston v West of Scotland Ins. Co. (1928) di mana bangunan berada dalam ancaman roboh akibat kebakaran, dan otoritas setempat memerintahkan untuk merobohkan bangunan itu. Dalam proses perobohan tembok itu merobohi rumah tertanggung, dan kemudian diputuskan bahwa kerusakan itu penyebabnya adalah kebakaran. Sepanjang bangunan itu masih dalam kondisi yang membahayakan akibat kebakaran, maka resiko dari kebakaran itu tetap samapi bahaya itu dipisahkan. Proses merobohkan bangunan tersebut merupakan upaya mengurangi kerugian lebih besar, namun upaya itu gagal.

c.Asuransi Harta Benda Lainnya
Winikofsky v Army and Navy General (1919). Dalam kasus ini pencuri memanfaatkan adanya keadaan gelap selama dinyatakan adanya bahaya serangan udara. Diputuskan bahwa proximate cause bukan perang.

Shiells v Scottisch Assurance Co. Ltd (1889). Polis yang menutup asuransi ternak tidak membedakan jaminan atas luka dan mati. Klaim kematian dibayar apabila hewan itu cedera hewan akibat perbuatan manusia.

Marsden v City and Country Assurance (1865). Kelompok gang merusak jendela sewaktu petugas pemadam kebakaran mendekati tempat kebakaran. Diputuskan bahwa kerugian itu bukan disebabkan oleh kebakaran, melainkan kasusnya adalah asuransi kaca.

d.Asuransi Personal Accident
Etherington v Lanchashire and York Accident Ins. Co. (1909). Tertanggung jatuh dari kuda dan mengalami cidera dan menyebabkan dia harus dirawat di rumah sakit. Ruangan rumah sakit sangat dingin dan lembab sehingga ia kejangkitan penyakit pneumonia kemudian meninggal. Kasus itu diputuskan bahwa ia meninggal akibat kecelakaan dari kuda dan bukan dari penyakit pneumonia itu yang dikecualikan dalam polis asuransi kecelakaan.

Coxe v Employers’ Liability Assurance Corp. (1916). Seseorang tentara memiliki polis asuransi kecelakaan, yang didalamnya mengecualikan resiko akibat tidak langsung dari perang. Ia meninggal tertabrak kereta api sewaktu melakukan inspeksi sepanjang rel kereta api dalam masa peperangan. Proximate cause kematiannya adalah kecelakaan tetapi secara tidak langsung akibat perang. Perang sebenarnya penyebab yang terpisah tetapi rumusan polis telah mengecualikan akibat secara langsung atau tidak langsung dari peperangan.

e.Liability policies
Vandyke v Fender (1970). Seorang pegawai mengalami kecelakaan sewaktu ia pulang dari kantor tetapi tidak melalui route sebagaimana mestinya karena dalam perjalanan itu ia memang bermaksud mempunyai tujuan lain. Walaupun majikan memberikan jaminan (asuransi kecelakaan) untuk pegawainya dalam menjalankan tugas pekerjaan, termasuk pulang dan pergi ke kantor, tetapi dalam kasus ini pegawai tersebut tidak dapat mengklaim karena tidak sedang dalam rangka menjalankan tugas.



D.Reinsurance
1.Definisi reinsurance:
Reasuransi adalah persetujuan antara Penanggung (Ceding company) dan reasuradur, di mana penanggung menyetujui untuk menyerahkan/melimpahkan seluruh atau sebagian resiko atas suatu pertanggungan yang ditutupnya (ditanggung) kepada reasuradur, dan dengan menerima premi dari dari penanggung sebagaimana telah ditetapkan sebelumnya, reasuradur menyetujui untuk membayar ganti rugi kepada Penanggung berhubung dengan kerugian yang terjadi atas pertanggungan yang ditutupnya tersebut, semuanya itu berdasarkan atas syarat-syarat sebagaimana ditetapkan dalam perjanjian
Ceding co. atau reinsured biasanya adalah sebuah perusahaan asuransi, sedangkan reasuradur atau reinsurer adalah sebuah perusahaan asuransi atau sebuah perusahaan reasuransi profesional.
Menurut R.C. Reinarz, reasuransi adalah akseptasi oleh suatu Penanggung yang dikenal sebagai reasuradur dari semua atau sebagian resiko kerugian dari Penanggung yang disebut Ceding Company.

TRANSAKSI REASURANSI
REASURANSI
TERTANGGUNG
KETERANGAN:
-Kontrak asuransi dan reasuransi adalah masing-masing terpisah
-Antara tertanggung dengan reasuradur tidak terdapat jalur komunikasi
-Kontrak yang disepakati antara Perusahaan Asuransi dengan Reasuradur adalah di luar wewenang tertanggung
-Dalam hal Perusahaan Asuransi “bangkrut” tertamggung tidak berhak untuk menarik uang yang merupakan kewajiban Reasuradur kepada perusahaan asuransi
2.5 (lima) alasan reasuransi:
a.Meningkatkan kapasitas akseptasi
Fasilitas reasuransi akan memperbesar kapasitas direct insurer tersebut, sehingga memungkinkannya untuk mengaksep jumlah pertanggungan yang tinggi. Dalam hal seperti itu, reasuransi berfungsi sebagai “capacity boosting”
Problem:
Konsekuensi dari adanya peningkatan kapasitas tadi di mana sesuai dengan mekanisme pasar, pada saat ada “kelebihan kapasitas’ di industri asuransi dengan situasi lebih banyak asuradur dan reasuradur berlomba memperebutkan resiko dengan jumlah yang sama, sementara itu premi akan turun (tertanggung akan memperoleh manfaatnya). Di lain pihak, klaim tidak berubah (tidak turun).
Akibatnya kana ditemukan situasi dengan loss ratio yang buruk, yaitu:
-nilai klaim tetap
-premi yang diterima turun dan tidak sesuai dengan yang seharusnya untuk membentuk dana klaim tersebut

b.Stabilisasi kondisi keuangan
Perusahaan asuransi menghadapi ketidakpastian mengenai frekuensi terjadinya klaim dan berapa besar klaim yang harus dia bayar. Perusahaan asuransi dapat mengurangi fluktuasi biaya klaim yang mungkin terjadi dengan membayar sejumlah premi yang pasti kepada reasuradur dan reasuradur akan membantu direct insurer dalam menstabilkan tingkat kerugiannya.
c.Confidence untuk ekspansi bisnis
Dengan dihilangkannya beberapa ketidakpastian melalui pengalihan resiko kepada reasuradur, direct insurer mendapatkan rasa yakin (confidence) untuk memperbesar bisnisnya. Ini terutama dimaksudkan untuk perusahaan asuransi yang ingin menutup jenis pertanggungan yang masih baru bagi mereka, namun karena belum punya pengalaman, mereka belum mempunyai catatan atau statistik yang mengungkapkan tentang loss ratio dari jenis pertanggungan tersebut. Karena itu dipilih bentuk asuransi Stop Loss, sehingga bila loss ratio melebihi ratio tertentu, selebihnya akan dibebankan kepada reasuradur, baik keseluruhannya atau hanya sebagian.

d.Catastrophe protection
Keadaan finansial Direct Insurer dapat menjadi sangat buruk dalam hal ia harus menanggung kerugian-kerugian yang luar biasa jumlahnya (catastrophic losses). Reasuransi berfungsi sebagai suatu pengaman untuk melindungi direct insurers terhadap keadaan seperti ini (catastrophe protection).

e.Spread of risks
Reasuransi adalah mekanismen pengalihan resiko dari direct insurer kepada reasuradur. Oleh sebab itu, reasuransi berfungsi sebagai alat penyebar resiko (spread of risk).
Asuradur mungkin tidak menginginkan untuk konsentrasi tanggung jawabnya kepada setiap class of business, setiap jenis resiko, setiap area atau dalam bentuk klasifikasi lainnya.
Dengan mengatur fasilitas reasuransi secara tepat, maka akan dapat disebarkan dampak yang potensial dari kerugian-kerugian yang dihadapi akan datang.

3.Terminologi
a.Reasuradur/Reinsurer : Perusahaan yang mengaksep bisnis asuransi yang diunderwrite oleh perusahaan asuransi lain, baik akseptasi sebagian atau keseluruhan resiko.
b.Direct Insurer:Penanggung langsung/pertama, penanggung (asuradir) yang menerima resiko dari tertanggung (pembeli asuransi) dan yang sepanjang tertanggung sebagai pemegang polis dianggap sebagai satu-satunya orang atau badan hukum yang bertanggung jawab atas kewajiban yang telah dipikulnya.
c.Ceding Company/Ceding Office : Perusahaan asuransi yang menempatkan bisnis reasuransi kepada perusahaan reasuransi.
d.Guarantee:Istilah yang lazim dipergunakan untuk reasuransi, dalam cabang asuransi kebakaran. Dikenal pula a guarantee policy
e.Retensi:Besarnya resiko yang ditahan oleh ceding company untuk masuk ke dalam accountnya sendiri atau bagian dari resiko yang tidak direasuransikan.
f.Own Retention:Retensi sendiri, merupakan bagian dari resiko yang benar-benar ditahan dan menjadi tanggung gugatnya sendiri
g.Group Retention:Retensi kelompok/bersama, merupakan bagian dari resiko yang ditahan oleh penanggung-penanggung secara bersama-sama di mana mereka mempunyai/menetapkan O/R nya sendiri-sendiri.
h.Line:Jumlah yang ditetapkan sebagai retensi dari Ceding Insurer. Jumlah retensi Ceding Company, reasuradur dapat menerima reasuransi sampai sekian lines, misalnya one line, four lines, dan selanjutnya
i.Limit:Jumlah maksimum yang mana penanggung bersedia/siap mengaksep bisnis sampai jumlah tersebut dari setiap class of business
j.Sesi/Cession:Bagian dari nilai pertanggungan yang disalurkan/diserahkan ke reasuradur
k.Retrosesi/Retrocession:Bagian dari bisnis reasuransi yang diasuransikan kembali
l.Retrocessionnaire:Retrosesioner, reasuradur dari reasuradur
m.Retrocedent:Reasuradur Pemberi Sesi / Retrosesi
n.Reciprocity:Timbal balik, yang memberikan sesi/reasuransi menerima pula sesi/reasuransi secara timbal balik
o.Reinsurance Commission:Komisi Reasuransi
Prosentase tertentu terhadap premi sebagai potongan yang diberikan oleh reasuradur dalam perhitungan prosentase mana termasuk komisi asuransi (original commission) dan biaya-biaya yang dikeluarkan oleh ceding insurer
p.Profit Commission:Komisi Keuntungan
Prosentase tertentu terhadap keuntungan yang diperoleh reasuradur untuk dikembalikan kepada Ceding Insurer, karena keuntungan reasuradur itu dianggap terjadi karena keahlian serta ketelitian usaha dari Ceding Insurer. Komisi keuntungan ini perhitungannya menurut cara-cara tertentu
q.Pools:Pool, suatu bentuk perjanjian (kerjasama) di mana beberapa Insurer/Reinsurers setuju untuk menempatkan semua (atau sebagian) dari sesuatu jenis asuransi tertentu dalam satu central (pool), yang kemudian dibagi-bagikan antara anggota secara proportional sebagaimana telah disetujui bersama mengenai ; business, premi-premi, kerugian-kerugian, biaya-biaya ataupun keuntungan-keuntungan

4.4(empat) metode reasuransi:
a.Treaty
Merupakan perjanjian tertulis antara direct insurer dan reasuradur, di mana direct insurer secara otomatis memberikan suatu sesi kepada reasuradur dan secara otomatis pula reasuradur yang bersangkutan akan menerima tanpa negosiasi lebih lanjut semua sesi yang seusai dengan perjanjian treaty.
Perjanjian reasuransi berdasarkan treaty berlaku untuk suatu periode tertentu yang telah disepakati bersama dan tunduk pada pembatasan-pembatasan yang berkenaan dengan jenis resiko, nilai resiko atau pembatasan-pembatasan lainnya yang telah diatur dalam perjanjian itu.
Perjanjian reasuransi atas dasar treaty biasanya dibuat dan berlaku untuk periode 12 bulan (tahunan) dan untuk suatu portfolio bisnis tertentu, misalnya semua bisnis kebakaran yang diaksep oleh ceding co. dalam periode tersebut.
Perjanjian reasuransi secara treaty memberikan kapasitas tambahan otomatis kepada ceding co. atau direct insurer.
b.Facultative
Merupakan perjanjian reasuransi di mana masing-masing pihak (ceding co. dan reasuradur) sama-sama mempunyai kebebasan. Pihak ceding co. bebas menentukan apakah akan atau tidak akan mereasuransikan resiko yang bersangkutan, sedangkan pihak reasuradur bebas menentukan apakah menerima atau menolak resiko itu

Alasan menggunakan reasuransi fakultatif:
1.kapasitas treaty sudah penuh
2.resiko di luar perjanjian treaty
3.unusual risks (resiko-resiko yang tidak biasa)
Dengan cara facultative, tiap resiko ditawarkan secara individual (resiko per resiko) kepada reasuradur, dan ceding co. berkewajiban untuk melakukan full disclosure kepada reasuradur tentang fakta-fakta material yang berkenaan dengan pokok pertanggungan yang ditutupnya, terms dan condition dari penutupan tersebut, dan informasi lainnya yang dipandang perlu oleh reasuradur yang bersangkutan dalam mempertimbangkan akseptasi reasuransi itu.

c.Facultative Obligatory
Dalam penempatan reasuransi secara facultative obligatory, ceding co. bebas menentukan (facultative) apakah akan atau tidak akan mereasuransikan, dan apabila ceding co. itu telah memutuskan untuk mereasuransikan, pihak reasuradur wajib (obligatory) mengaksep bagian resiko yang diasuransikan kepadanya sepanjang reasuransi itu memenuhi perjanjian reasuransi untuk itu. Seperti halnya perjanjian treaty, perjanjian reasuransi secara facultative obligatory memberikan kepada ceding co. suatu kapasitas tambahan secara otomatis.
Jumlah yang diberikan kepada reasuradur facultative obligatory adalah kelebihan jumlah di atas gabungan jumlah yang diambil oleh ceding co. untuk own retention-nya dan jumlah yang ditempatkan pada reasuradur treaty.

d.Pools
Merupakan perjanjian antara perusahaan asuransi bahwa masing-masing dari mereka setuju untuk menempatkan reasuransi atas suatu bisnis tertentu pada sebuah perusahaan yang telah mereka tetapkan bersama sebagai sentral untuk penempatan reasuransi tersebut dan kemudian sentral tersebut akan mengembalikan atau meretrosesikan reasuransi-reasuransi yang telah diterimanya dari anggota perjanjian itu kepada semua perusahaan anggota kepada semua perusahaan dengan sesi seperti yang telah disetujui bersama.
Contoh: Indonesian Aviation Insurance Consortium (IAIC0 untuk bisnis aviation

5.Bentuk-bentuk reasuransi
Bentuk reasuransi dapat diklasifikasikan dalam 2 (dua) golongan, yakni “reasuransi proporsional” dan “reasuransi non-proportional”.
a.Reasuransi proporsional
Ciri-cirinya:
-Objek pertanggungan reasuransinya adalah harga pertanggungan/Total Sum Insured (Harga Pertanggungan, premi dan claim sebanding atau sesuai dengan proporsi yang telah ditetapkan).
-Perjanjian dilakukan untuk jangka waktu yang tidak terbatas (Indefinite periode/continously)
-Dasar yang dipakai: risk attaching basis yaitu liability dari reasuradur terus berjalan sampai jangka waktu pertanggungan
-Kondisi perjanjian mengikuti kondisi aslinya
-Bila reasuradur sudah menerima premi, maka akan terlibat dalam klaim.
Dengan bentuk reasuransi proposional, saham ceding co. dan saham reasuradur dalam suatu resiko yang direasuransikan sudah ditetapkan sebelumnya.
Contoh:
Ceding co. telah mengaksep suatu resiko dengan Harga Pertanggungan Rp 10.000.000.000,-
HP sebesar Rp 10.000.000.000,- itu dibagi antara ceding co. dan reasuradur sebagai berikut:
-own retention ceding co. Rp 4.000.000.000,- (atau 40% of 100%)
-reasuradur Rp 6.000.000.000,- (atau 60% of 100%)
Dengan pembagian HP seperti contoh di atas, maka premi dan klaim juga akan dibagi sesuai dengan proporsi ceding co. dan reasuradur dalam harga pertanggungan tersebut, yakni 40% (own retention ceding co) dan 60% (reasuradur). Bentuk reasuransi proporsional biasanya digunakan dalam reasuransi yang ditempatkan secara facultative, treaty (quota share dan surplus) dan facultative obligatory.

b.Reasuransi non-proporsional
Ciri-cirinya:
-Yang diasuransikan adalah kerugian (mengatur pembagian losses antara Ceding Company dengan Reinsurer)
-Besarnya klaim harus melampaui underlying retention (Excess Point)
-Perjanjian dilaksanakan untuk jangka waktu tertentu (fixed period: 12 bulan)
-Dasar yang dipakai: loss occuring basis yaitu jaminan yang diberikan oleh reinsurer adalah kerugian-kerugian yang terjadi pada jangka waktu pertanggungan
-Kondisi perjanjian tidak perlu mengikuti kondisi aslinya, asal dijamin dalam polis
-Walaupun reinsurer sudah menerima premi tetapi belum tentu terlibat dalam claim
Dalam hal terjadi suatu kerugian yang melibatkan reasuradur dalam reasuransi non-proporsional, ceding co. dan reasuradur tidak membagi kerugian itu di antara mereka berdasarkan proporsi atau perbandingan yang tetap. Bagian dari klaim yang menjadi liability ceding co. itu tidak harus melibatkan reasuradur karena ceding co meng-underwrite retensinya sebagai suatu bentuk first loss insurance, yakni bahwa ceding co. akan menanggung setiap kerugian sampai suatu jumlah tertentu yang telah ditetapkannya dan reasuradur hanya akan terlibat dalam jumlah di atas jumlah tertentu tersebut.
Bentuk-bentuk utama reasuransi non-proporsional biasanya digunakan dalam Excess of loss Reinsurance Treaty.

6.Jenis-jenis reasuransi treaty
Berdasarkan bentuknya, reasuransi treaty digolongkan dalam 2 (dua) kategori, yakni:
a.Reasuransi treaty proporsional, yang meliputi:
(1)Surplus Reinsurance Treaty
(2)Quota Share Reinsurance Treaty
b.Reasuransi treaty non-proporsional, yang meliputi:
(1)Catastrophe excess of loss reinsurance treaty
(2)Risk excess of loss reinsurance treaty
(3)Stop loss reinsurance treaty
(4)Aggregate excess of loss reinsurance treaty

(1)Surplus Treaty
Suatu perjanjian antara penanggung dengan penanggung ulang (reinsurer) di mana penanggung setuju untuk mensesikan dan reinsurer setuju untuk menerima jumlah yang melebihi retensi penanggung sampai limit treaty.
Limit atau kapasitas treaty dinyatakan dalam lines, di mana 1 line = retensi ceding company untuk any one risk. Jadi treaty 10 lines akan menyediakan kapasitas total ceding 11x net retensinya.
Untuk mencegah terjadinya kecendrungan ceding co. menggunakan surplus treaty untuk mensesikan sebesar-besarnya resiko-resiko jelek, maka biasanya diberlakukan retensi minimum di samping retensi maksimum
Untuk meningkatkan kapasitas, ada additional surplus treaty yang dinamakan second atau third surplus contracts
Contoh;
Retensi ceding = 20.000
5 (lima) line surplus = 20.000 x 5 = 100.000
Dengan demikian kapasitas akseptasi ceding = 20.000 x 6 = 120.000
Reasuransi setuju membayar 5/6 setiap klaim yang terjadi, sehingga bila ada klaim 54.000:
Ceding = 1/6 x 54.000 = 9000
Reasuransi = 5/6 x 54.000 = 45000
Manfaat surplus treaty antara lain:
-meningkatkan akseptasi
-balance of portfolio bisnis sehingga tercapai the law of the large number
Kelemahan surplus treaty antara lain:
-perusahan asuransi terikat untuk mensesikan bisnis yang melebihi O/R kepada reasuradur (komisi dan cara pembayaran sudah ditetapkan) sehingga bila bisnis sedang baik, perusahaan asuransi harus berbagi keuntungan dengan reasuradur.
-Harus membuat laporan secara berkala

(2)Quota share treaty
Merupakan kontrak reasuransi di mana ceding co. dan reasuransi menentukan bagian yang fixed untuk tiap resiko yang terjadi di ceding co.
Contoh:
Bagian yang ditetapkan 50%
SI = 100.000, premi = 10.000, loss = 5000
Retensi ceding = 50.000
Reasuradur = 50.000
Premi ceding co. = 5.000
Premi reasuradur = 5.000
Liability ceding atas loss = 25.000
Liability reasuradur atas loss = 25.000

Alasan menggunakan quota share:
1.untuk perusahaan asuransi baru, di mana pengalaman underwriting masih kurang dan dari segi finansial relatif lemah
2.surplus treaty menunjukkan hasil yang jelek
3.lebih ekonomis
Keuntungan quota share:
1.karena proporsi saham own retention ceding co. dan reasuradur sudah tetap dan limit sudah jelas, maka cara kerja quota share sangat sederhana dan tidak memerlukan pekerjaan administrasi yang banyak
2.memberikan proteksi otomatis, sekalipun untuk resiko yang buruk
3.komisi quota share untuk ceding. co umumnya lebih tinggi dibandingkan reasuransi treaty lainnya
Kelemahan quota share:
Bila market sedang menguntungkan, keuntungan harus dialokasikan kepada reasuradur dengan prosentase yang telah ditetapkan dan keadaan seperti itu dapat membuat kemampuan dan modal ceding co. kurang cepat berkembang.

(3)Excess of Loss reinsurance treaty
Dalam excess of loss, reasuradur akan terlibat dalam suatu kerugian apabila kerugian itu melebihi jumlah kerugian yang menjadi net retention ceding co. dan reasuradur akan membayar jumlah kelebihan (excess) di atas jumlah kerugian yang menjadi net retention ceding co.
Contoh:
Perusahaan asuransi “ABC” memiliki excess of loss reinsurance treaty dengan cover limit Rp 400.000.000,- each and every loss, each and every risk, excess of Rp 600.000.000,- each and every loss, each and every risk.
-Kerugian I Rp 300.000.000,-
Liability ceding co. Rp 300.000.000,-
Reasuradur bebas dari klaim karena batas net retention ceding co. yang ditetapkan sebesar Rp 400.000.000,- tidak terlampaui.
-Kerugian II Rp 400.000.000,-
Liability ceding co. Rp 400.000.000,-
Reasuradur bebas dari klaim karena jumlah kerugian belum melampaui batas net retention ceding co yang sebesar Rp 400.000.000,-
-Kerugian III Rp 500.000.000,-
Liability ceding co. Rp 400.000.000,- (net retention)
Liability reasuradur Rp 100.000.000,-
-Kerugian IV Rp 1.200.000.000,-
Liability ceding co. Rp 400.000.000,- (net retention)
Liability reasuradur Rp 600.000.000,- (cover limit treaty)
Sisa Rp 200.000.000,- kembali kepada ceding co. menambah net retentionnya.
Jika ceding co telah membeli cover tambahan dalam bentuk risk excess of loss treaty dengan cover limit, misalnya Rp 1.000.000.000,- excess of Rp 1.000.000.000,- maka ceding co. dapat mengklaim sisa sebesar Rp 200.000.000,- tersebut dari reasuradur risk excess of loss treaty tambahan ini.
Proteksi risk excess of loss treaty biasanya diatur dalam lapis-lapis (layers) guna proteksi reasuransi yang lebih besar dan sekaligus memperkecil premi reasuransinya. Sistim layering memungkinkan ceding co. menekan premi reasuransi treaty seperti itu karena semakin tinggi jarak suatu layer dari layar pertama, semakin kecil kemungkinan bagi layer yang lebih tinggi itu untuk terkena klaim, dan premi reasuransi untuk layer yang lebih tinggi itu akan lebih kecil dibanding dengan premi reasuransi untuk layer di bawahnya.

(4)Catastrophe excess of loss reinsurance treaty (Event excess of loss reinsurance)
Proteksi reasuransi excess of loss dapat pula diberikan atas setiap kerugian atau seri kerugian-kerugian yang timbul dari satu peristiwa atau kejadian (each and every loss or series of losses arising out of one event or occurrence).
Excess point atau net retention ceding co. dalam catastrophe excess of loss treaty biasanya ditetapkan lebih tinggi dari excess point atau net retention ceding company dalam risk excess of loss treaty, akan tetapi cara bekerjanya sama dengan working excess of loss treaty.
Catastrophe excess of loss treaty melindungi stabilitas keuangan ceding co. dalam hal terjadi satu peristiwa (one single event) yang membawa kerugian yang luar biasa (catastrophic losses) atas lebih dari satu resiko sehingga ceding co. akan menanggung kerugian own retention secara terakumulasi dalam setiap resiko itu tanpa adanya catastrophe excess of loss treaty, atau seandainya ceding co. hanya memiliki risk excess of loss treaty.
Kerugian-kerugian katastropik dapat terjadi dalam peristiwa-peristiwa seperti banjir besar yang melanda suatu daerah tertentu, atau gempa bumi yang memusnahkan banyak harta benda di suatu atau pada beberapa daerah.

(5)Stop Loss (Excess of Loss Ratio)
Cara kerja Stop Loss Treaty sama dengan excess of loss treaty. Perbedaannya adalah excess of loss treaty terletak pada dasar penetapan tanggung jawab (liability) ceding co. dan reasuradur.
Perbedaan dalam penetapan liability antara excess of loss treaty dengan stop loss

Excess of loss Stop Loss
Penetapan liability ceding co. dan reasuradur dilihat dari apakah jumlah kerugian yang terjadi telah melampaui suatu jangka/jumlah tertentu yang telah ditetapkan oleh ceding co. sebagai net retentionnya Penetapan liability ceding co dan reasuradur dilihat dari apakah ratio kerugian terhadap premi (loss ratio) dalam suatu periode tertentu, biasanya 12 bulan. Reasuradur baru akan terlibat dalam klaim apabila loss ratio dari ceding co telah melebihi loss ratio yang telah ditetapkan sebelumnya
Contoh:
Perusahaan asuransi “XYZ” memiliki Stop Loss Treaty dengan cover 90% (10% menjadi tanggungan ceding co sendiri) dari kelebihan loss ratio di atas 70% hingga 100%. Pendapatan premi own retention ceding co ini selama periode treaty tersebut, misalnya Rp 100.000.000,- dan klaim-klaim yang menjadi tanggungan own retention ceding co. dalam periode yang sama, misalnya Rp 120.000.000.000,- (atau loss ratio 120%)
Pembagian tanggungan masing-masing pihak dalam klaim Rp 120.000.000.000,- tersebut adalah sebagai berikut:
Tanggungan ceding co. Tanggungan reasuradur
Rp 70 milyar (70%x100.000.000)
Rp 30 milyar (30%x100.000.000)
Rp 20 milyar 70%
30%
20%
120% Rp 70 milyar
Rp 3 milyar (10%)
Rp 20 milyar
Rp 120 milyar
Rp 27 milyar (90%)
Rp 27 milyar
Hasil pertanggungan di atas menunjukkan bahwa fasilitas Stop Loss Treaty ini dapat memperkecil atau menekan loss ratio dari klaim-klaim own retention ceding company dari semula 120% menjadi hanya 93%.

(6)Aggregate Excess of Loss
Dalam hal treaty Aggregate Excess of Loss, ceding co menentukan berapa besar jumlah bersih yang akan ditahannya sendiri (net retention) jumlah total semua kerugian-kerugian dari suatu tahun penutupan (underwriting year) tertentu: bilamana jumlah total (aggregate) semua kerugian-kerugian dari underwriting year tersebut telah melebihi net retention yang telah ditetapkan oleh ceding company tersebut, reasuradur akan bertanggung jawab atas kelebihan total (aggregate) semua kerugian-kerugian itu hingga suatu jumlah yang telah ditetapkan dalam treaty tersebut sebagai cover limit (batas tanggung jawab) dari reasuradur.
Contoh:
Perusahaan asuransi “PQR” memiliki aggregate excess of loss treaty untuk kerugian-kerugian yang terjadi dalam periode 12 bulan dari 1 Januari 1995 dengan cover Rp 5.000.000.000,- (total atau aggregate) dari semua kerugian-kerugian yang dialami underwriting year 1995 di atas (excess of) Rp 1.000.000.000,- (total atau aggregate) dari semua kerugian yang dialami underwriting year 1995.
Setelah periode treaty tersebut berakhir dan semua kerugian-kerugian dari underwriting year 1995 dijumlahkan, ternyata total atau aggregate dari semua kerugian-kerugian dari underwriting year 1995 ini adalah Rp 7.000.000.000,-.
Dengan demikian pembagian liability adalah:
Net retention ceding company………………………..………Rp 1.000.000.000,-
Reasuradur aggregate excess of loss treaty……………..………Rp 5.000.000.000,-
Sisa (menjadi tambahan atas net retention ceding company)……Rp 1.000.000.000,-
Catatan:
Jika ceding company telah membeli cover tambahan, jumlah sisa Rp 1.000.000.000,- tersebut di atas akan menjadi liability dari reasuradur yang memberikan cover tambahan itu.

Tidak ada komentar:

Mengenai Saya

Indonesian Open University studentut Online Kammarkollegiet Swedish State's Insurance Institute Affairs Education