suryawijaya.com

suryawijaya.com
Cayman Family Roots Names Data Base Sales

Kamis, 04 Agustus 2011

CHAPTER 1. DASAR TEORI HARGA PASAR

1. Ilmu Ekonomi
Adalah ilmu yang mempelajari tingkah laku manusia dalam memenuhi kebutuhan hidupnya.

2. Masalah Ekonomi
- jumlah kebutuhan tidak sebanding dengan tersedianya alat pemenuhan kebutuhan itu sendiri
- barang yang dibutuhkan dapat diproduksi, namun alat/faktor produksi terbatas
- keterbatasan sumber daya (scarcity of resources) perlu adanya alokasi sumber daya

3. Sistem Ekonomi
(Sistem dalam memecahkan masalah ekonomi):
- Central Planning/Planned Economies
- Market Economies
- Kombinasi Central Planning dan Market Economies

Central Planning:
- Semua masalah ekonomi ditangani oleh satu badan secara sentral
- Badan sentral ini yang mengatur dan melaksanakan poduksi, distribusi barang/jasa
- Sistem ini banyak dianut oleh negara berpaham komunis
- Kelemahan sistem ini bahwa individu tidak memiliki kebebasan dalam memenuhi kebutuhan hidup

Market Economies:
- Dalam sistem ini produksi dan distribusi ditentukan oleh operasi kekuatan pasar melalui mekanisme harga
- Sumber daya (resources) dialokasikan dalam rangka memberikan kepuasan setiap individu dan masyarakat secara keseluruhan
- Persoalan yang ada bahwa dengan timbulnya berbagai pasar persaingan tidak sempurna, sehingga pengalokasian sumber daya tidak dicapai secara optimal melalui mekanisme harga
- Dengan sistem ini berlaku laissez faire (yang kuat yang menang) sehingga timbul masalah efisiensi dan keadilan sosial

Sistem Campuran:
- Dalam sistem campuran ini lebih menitikberatkan pada salah satu di antaranya dan melakukan penyesuaian dari waktu ke waktu melalui pengaruh politik

4. Pihak-pihak pengambil keputusan
Keputusan-keputusan yang menyangkut masalah ekonomi di suatu negara pada dasarnya merupakan keputusan yang dibuat oleh pihak-pihak di bawah ini:
a. Rumah tangga (household)
Merupakan sekelompok orang yang hidup di bawah satu atap secara bersama-sama menentukan jumlah uang yang akan dibelanjakan dan jumlah tenaga kerja yang ditawarkan
b. Perusahaan (firm)
Merupakan satu unit pengambil keputusan yang menggunakan tanah, tenaga kerja dan barang modal guna menghasilkan barang dan jasa yang kemudian dijual kepada rumah tangga, perusahaan lain dan pemerintah
c. Pemerintah (government)
Adalah segala bentuk badan pemerintah termasuk pemerintah daerah

5. Faktor-faktor produksi
- Land : Sumber daya alam (tanah, mineral, air, hutan, dll)
- Labour : Sumber daya manusia (skill)
- Capital : Ouptput yang dihasilkan perusahaan lain (gedung, mesin)

6. Supply
- Pengertian:
Supply adalah sejumlah komoditi yang diproduksi dan ditawarkan oleh produsen pada tingkat harga tertentu
- Hukum:
P naik Qs naik
P turun Qs turun (ceteris paribus)
- Supply schedule
Daftar jumlah supply pada berbagai tingkat harga
- Supply curve
Grafik yang menggambarkan hubungan antara Qs dan P

Supply schedule
P(price) 5 10 15 20 25
Q(quantity) 0 500 1000 1500 2000


P/unit







Q

- Determinant of Supply:
• Price of the commodity
• Price of other commodity
• Price of factors of production
• Present state of technology
• Goals of the Firms

• Price of other commodity
P naik switch to other commodity Qs turun
• Price of factors of production
P naik Qs turun
• Change in the state of technology
Perubahan teknologi dalam metode atau range of product dapat menekan biaya, sehingga menaikkan Qs
• Goals of the Firm
Menaikkan profit melalui kenaikan Qs
Menaikkan salary melalui kenaikan Qs

- Jika terjadi perubahan dalam faktor-faktor yang mempengaruhi supply, maka dapat terjadi kenaikan atau penurunan supply. Hal ini diilustrasikan dalam gambar 1/3 (a) dan (b).
Dalam kedua gambar itu kurva S menggambarkan supply sebelum terjadi perubahan. Dalam gambar (a) terjadi kenaikan supply; di mana kurva S1 telah bergeser ke kanan dari kurva S, yaitu pada setiap harga ditawarkan suatu jumlah yang lebih besar daripada sebelumnya. Dalam gambar (b) di mana kurva S2 telah bergeser ke kiri dari kurva S menunjukkan penurunan supply.

Gambar 1/3 (a) increase in supply (b) decrease in supply

P/unit S P/unit S2
S1 S

 



0 Q 0 Q

Suatu kenaikan supply mungkin disebabkan oleh penurunan harga atas komoditi lainnya atau harga faktor-faktor produksi yang dipergunakan, atau karena penemuan cara produksi yang lebih efisien. Sebaliknya suatu penurunan supply mungkin disebabkan karena harga komoditi lainnya atau faktor-faktor produksi leibh tinggi. Akibatnya, dapat dilihat bahwa perubahan harga atas produksi menyebabkan suatu pergerakan kurva supply (move along the curve) sedangkan perubahan dalam faktor-faktor produksi menyebabkan pergeseran kurva supply secara menyeluruh (move shift from the curve)

7. Demand
- Pengertian
Demand adalah sejumlah komoditi yang diinginkan untuk dibeli oleh konsumen pada tingkat harga tertentu
- Jenis:
• Effective demand
Yaitu demand yang didukung dengan daya beli
• Potential demand
Yaitu demand yang hanya didasarkan pada keinginan, tetapi tidak didukung dengan daya beli
- Hukum
P naik Qd turun
P turun Qd naik (ceteris paribus)
- Demand Schedule
Adalah daftar Qd pada berbagai tingkat harga
- Demand Curve
Adalah grafik yang menggambarkan hubungan antara Qd dan P pada berbagai tingkat harga

Demand Schedule
P (price) 5 10 15 20 25
Q (quantity) 3000 2500 2000 1500 1000


P/unit








Q
- Determinant of demand
• Price of the commodity
• Income
• Wealth
• Price of other commodities
Substitutes
Complementary
Independent
• Preference and habits

• Income
Engel Curves
Adalah grafik yang menggambarkan hubungan Qd dan Income (lihat lampiran: Grafik 1/1)

Normal goods : Y naik Qd naik
Inferior goods : Y naik Qd turun

Income inferior goods


Normal goods







• Wealth
Apabila tingkat kemakmuran seseorang naik, ia mungkin merasa tidak perlu menghemat sehingga banyak menghabiskan pendapatannya untuk konsumsi sehingga Qd naik.

• Price of other commodities
 Substitutes
Contoh : jika harga butter turun maka permintaan terhadap margarine akan turun karena orang akan beralih pada butter yang harganya relatif lebih murah. Hubungan demikian timbul dalam kaitannya dengan substitusi permintaan komoditi A karena harga komoditi B.
P butter turun Qd butter naik Qd margarine turun

Price B





Demand for A
 Complementer
Contoh : jika harga mobil turun, maka permintaan bahan bakar akan naik.Dalam hal ini terdapat apa yang disebut dengan komoditi yang bersifat komplementer
P mobil turun Qd mobil naik Qd bahan bakar naik

Price B






Demand for A
 Independent
Contoh: jika harga susu turun, permintaan susu naik, sedangkan permintaan sepatu tetap (tidak terpengaruh). Hal ini karena permintaan terhadap beberapa komoditi adalah tidak tergantung satu sama lain, sehingga suatu perubahan harga satu barang tidak akan berpengaruh terhadap permintaan yang lain.

Price B








Demand for A

• Preference dan habits
Contoh : beberapa orang menyukai coklat, sedangkan yang tidak sehingga mereka yang tidak menyukai coklat ini tidak akan menimbulkan permintaan terhadap coklat. Beberapa orang membeli rokok atau koran sebagai kebiasaan mereka.

- Seperti halnya penawaran (supply), permintaan juga naik atau turun, sehingga permintaan bisa bergeser ke kiri atau ke kana sebagaimana dilukiskan dalam gambar 1/6. Dalam setiap gambar ditunjukkan bahwa kurva D adalah kurva semula dan kurva D1 (gambar a) memperlihatkan bahwa suatu jumlah yang diminta lebih tinggi pada setiap tingkat harga, sedangkan dalam gambar b, kurva D2 memperlihatkan jumlah yang diminta lebih rendah, dan gambar c terjadi kenaikan permintaan pada tingkat harga tertentu.
(a) Increase in demand (b) Decrease in demand (c) Partial increase in demand



 
 D1
D
D D1 D2 D

Perubahan permintaan yang demikian dapat dikarenakan oleh suatu perubahan salah satu faktor-faktor seperti tsb di atas yang mempengaruhi permintaan individu kosumen.
Sebagai tambahan dapat disebutkan bahwa permintaan dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor lainnya, seperti:
- perubahan jumlah penduduk; untuk banyak komoditi, dengan kenaikan penduduk akan terjadi pula kenaikan permintaan
- perubahan komposisi penduduk; jelasnya bentuk barang dan jasa yang diminta oleh orang tua akan berbeda dari yang diminta oleh orang muda
- perubahan distribusi pendapatan nasional dan tingkat kemakmuran yang diakibatkan oleh pajak dan subsidi. Hal ini akan menyebabkan perubahan bukan saja dalam jumlah yang diminta, karena orang miskin cendrung membelanjakan bagian pendapatannya tetapi juga dalam bentuk komoditi yang diminta.

8. Equilibrium Price
- Pengertian
P(e) adalah harga pada tingkat di mana
Qd = Qs
P(e) adalah harga pada tingkat kurva S dan kurva D berpotongan.

Demand & Supply Schedule
P D S Excess D Excess S
5 3000 0 3000 -
10 2500 500 2000 -
15 2000 1000 1000 -
20 1500 1500 0 0
25 1000 2000 - 1000
30 500 2500 - 2000
35 0 3000 - 3000
P(e) = P20
Qs = 1500
Qd = 1500


Supply
P/unit



Pe


Demand

Qe Q

9. Government price Control
• Price minimum
• Price maksimum
- Price minimum excess supply
- Price maximum excess demand protect consumers

Pada Grafik 1 /8 ditetapkan Pmax, yaitu harga di bawah harga equilibrium. Timbul adanya excess demand (Q2-Q1).
Dengan excess demand timbul black market, karena konsumen bersedia membayar di atas Pmax untuk bisa memperoleh tambahan quantities.

Pada Grafik 1 /8, ditetapkan Pmin (diatas Pe) terjadi excess supply (Q4-Q3), sehingga produsen secara ilegal akan menjual harga di bawah harga Pmin.
Maximum price Minimum price
P S P S

Pmin

Pe

P max
D D

0 Q1 Q2 0 Q3 Q4
10. Change in demand and supply
S2 S
P

P2 S1

Pe

P1


D

0 Q2 Qe Q1

a. Kenaikan S (S1)menyebabkan penurunan p dan menaikkan q penjualan
b. Penurunan S (S2) menyebabkan kenaikan p dan penurunan q penjualan (ceteris paribus)


P
S
P1
Pe

P2
D1
D
D2

0 Q2 Qe Q1

c. Kenaikan D (D1) menyebabkan kenaikan p dan kenaikan q penjualan
d. Penurunan D (D2)menyebabkan penurunan p dan q penjualan (ceteris paribus)

11. Elasticity
A. Price elasticity of demand (Ep) mengukur sensitivitas tingkat perubahan demand akibat perubahan harga



Ep = Qd X P

P Q

• Jika Ep = 0 (perfectly inelastic0, maka perubahan harga tidak mempengaruhi demand
Ep = 0, Qd tetap
• Jika –1< Ep < 0 (relatively inelastic), maka perubahan harga membawa sedikit perubahan terhadap demand -1 < Ep < 0, maka % Qd < % P • Jika - < Ep < -1 (relatively elastic), maka perubahan harga membawa banyak perubahan terhadap demand - < Ep < 0, maka % Qd > % P
• Jika Ep = 1 (unit elasticity), maka untuk setiap perubahan harga akan menyebabkan demand berubah pada tingkat yang sama
Ep = 1, maka % Qd = % P
• Jika Ep = - (perfectly elastic), maka perubahan harga yang sangat sedikit saja akan menyebabkan demand berubah secara signifikan.
B. Determinants of price Elasticity of Demand
• Barang subsitutusi
Barang pengganti dapat mempengaruhi elastisitas demand terhadap barang tertentu
Misal : Teh dan kopi
• Tingkat keperluan/kebutuhan
Kebutuhan akan barang pokok lebih tidak elastis dibandingkan dengan barang kebutuhan sekunder.
Misal : Bahan pokok dan bukan pokok
• Kebiasaan (habit)
Kebiasaan mengkonsumsi barang tertentu biasanya relatif inelastic
Misalnya ; Kebiasaan merokok
• Harga dan Income
Semakin kecil perbedaan kenaikan harga dibanding dengan pendapatan, elasticity semakin kecil.
C. Income Elasticity of Demand
Mengukur tingkat sensitivitas perubahan demand akibat perubahan pendapatan

Ey = Q X Y

Y Q
Barang inferior : Ey negatif karena Y naik , Qd turun
Barang normal : Ey positif karena Y naik , Qd naik

D. Cross Elasticity of Demand
Mengukur tingkat sensitivitas perubahan demand akibat perubahan harga barang lain

Eab = Qa X Pb

Pb Qa

Barang substitusi : cross elasticity (Eab) positif karena kenaikan harga barang substitusi B akan menaikkan permintaan barang A
Barang komplementer : cross elasticity (Eab) negatif karena kenaikan harga barang komplementer B akan menurunkan permintaan barang A.



CHAPTER 2. AN INTERMEDIATE THEORY OF DEMAND

A. TOTAL UTILITY AND MARGINAL UTILITY
1. Total Utility
Keinginan konsumen untuk memiliki komoditi karena kepuasaan yang diperoleh dari memiliki barang tersebut. Konsumen membeli barang dan jasa karena kepuasaan yang diperoleh dari mengkonsumsi barang tersebut.
Tidak mungkin mengharapkan konsumen menginginkan komoditi yang mendatangkan ketidakpuasan (kotoran, polusi, dll). Dalam hal komoditi baik, juga tidak diharapkan adanya kenaikan dalam konsumsi jika tidak diikuti dengan kenaikan tingkat kepuasan.

Total utility adalah kepuasan total yang diperoleh konsumen dari pemakaian barang/jasa.
Total utility berbeda untuk tingkat konsumsi yang berbeda. Diharapkan total utility naik karena tingkat konsumsi meningkat.

Pada suatu titik, total utility ini akan mencapai maksimum. Pada titik ini, konsumen tidak akan mendapatkan kepuasan tambahan dari kenaikan tingkat konsumsi, bahkan mungkin akan mengalami penurunan kepuasan.
Titik maksimum dari total utility ini disebut titik jenuh (saturation point).

Total utility dapat digambarkan dalam bentuk kurva atau persamaan aljabar
TU = aq - bq²
Asumsi:
- utility dapat diukur
- dapat dibedakan ukuran kepuasan antara yang lebih besar dan lebih kecil







utility



Saturation point
Kurva total utility ini berupa kurva parabola cembung ke atas
2. Marginal utility
Marginal utility adalah perubahan dalam total utility yang dihasilkan dari suatu perubahan kecil (misalnya satu unit) dalam pemakaian suatu komoditi per satuan waktu.
Apabila perubahan konsumsi yang dibuat sangat kecil, marginal utility menjadi sama dengan kemiringan kurva total utility. Apabila dituliskan dalam persamaan aljabar:
MU = a – 2bq
Kurva MU akan memperlihatkan penurunan secara terus menerus bila jumlah konsumsi meningkat

MU






0 Q

B. DIMINISHING MARGINAL UTILITY
• Jumlah konsumsi suatu barang berpengaruh terhadap kepuasan atau “utility” yang diperoleh dari barang lain
• Jika total utility diperoleh dari konsumsi terhadap lebih dari satu komoditi secara serempak, kita tidak dapat menjumlahkan the Individual Total Utilities yang diperoleh jika mengkonsumsi komoditi-komoditi tersebut pada saat yang sama
TU = TU (x,y) TU = fungsi dari baik x maupun y
Contoh : kepuasan yang diperoleh dari pemakaian mobil tidak dapat ditentukan tanpa mempertimbangkan pemakaian bensin.
• Jika dua komoditi yang tidak berhubungan atau independen , total utility dapat diperoleh dari penjumlahan the Individual Utilities
TU = TU(x) + TU(y)
Contoh : kepuasan yang diperoleh dari pemakaian gunting dan deterjen
• Jika ingin menghitung Marginal Utilities pada komoditi-komoditi yang berhubungan, maka
MU (a,b) = MU (a/b) + MU (b/a)
Marginal utility tidak hanya tergantung pada x, tetapi juga pada level di mana komoditi lain diasumsikan konstan
Contoh: sangat sedikit kepuasan yang akan diperoleh dari pemakaian mobil jika pemakaian bensin konstan pada angka 0.
• Jika ingin menghitung Marginal Utilities pada komoditi-komoditi yang independen
MU (a,b) = MU (a) + MU (b)
• The Hypothesis of Diminishing Marginal Utility
Apabila jumlah konsumsi meningkat, total utility meningkat sampai suatu saat mencapai maksimum, selanjutnya mengalami penurunan.
Sedangkan MU akan menurun dengan bertambahnya jumlah konsumsi  the Hypothesisi of Diminishing Return
(Q naik , MU turun ).

Q naik  TU naik  TU max  TU turun
MU + MU=0 MU –
MU mula-mula besar, kemudian berangsur-angsur berkurang sampai TU maksimum (MU=0), selanjutnya akan berkurang (MU= -)
Contoh : konsumsi air. Pada saat konsumsi air pada tingkat yang rendah, penambahan tingkat konsumsi menghasilkan penambahan kepuasan yang cukup besar, selanjutnya penambahan kepuasan dari meningkatnya jumlah konsumsi berangsur-angsur berkurang sampai mencapai tingkat maksimum (Tumax, MU=0), setelah TU akan berkurang.

C. TINGKAH LAKU KONSUMEN
1. Rasionalitas
Asumsi:
Konsumen bertindak secara rasional untuk memaksimalkan kepuasannya
a. aksioma kelengkapan (axioms of completeness)
Bila konsumen dihadapkan pada 2 pilihan: A atau B, konsumen akan memilih A atau memilih B atau tidak memilih keduanya
b. aksioma transitivity (axioms transitivity)
Bila konsumen dihadapkan pada 3 pilihan : A,B,C, jika A lebih baik daripada B dan B lebih baik daripada C, maka konsumen akan memilih A daripada C.
c. aksioma pilihan rasional (axioms of rational choice)
Bila konsumen dihadapkan pada 3 pilihan : A,B,C, maka jika konsumen memilih C maka berarti A lebih baik daripada B dan C.
2. Keterbatasan konsumen
Konsumsi pada barang bebas akan mencapai TU max (MU=0), sedangkan pada barang ekonomis, barang harus dibeli sehingga harus dikaitakan dengan penghasilan konsumen.
Tujuan konsumen adalah : to maximise utility subject to a budget constraint (memaksimumkan kepuasan dengan keterbatasan dana yang ada).
Konsumen harus memilih berapa banyak dari masing-masing komoditi yang berbeda yang harus dikonsumsinya untuk memaksimalkan tingkat kepuasannya, sementara pada saat yang sama konsumen juga tidak boleh menggunakan lebih dari anggarannya. Diasumsikan di sini bahwa simpanan dan pinjaman diabaikan, konsumen menghabiskan semua pendapatannya untuk konsumsi.
3. Konsumen dalam keseimbangan (Consumer in Equilibrium)
Dikatakan bahwa konsumen berada pada keseimbangan jika tidak ada insentif untuk berpindah dari posisi yang ada sekarang.
Dengan kata lain jika konsumen mengkonsumsi sejumlah barang dan jasa yang memaksimalkan total utilitynya berdasarkan anggarannya yang terbatas.
Tujuan konsumen adalah membeli sebanyak mungkin unit utility yang dimungkinkan oleh pendapatan yang dimilikinya dan harga yang sudah fixed.

Tabel 2/2
Commodity A (Price $2 per unit) Commodity B (Price $1 per unit)
Quantity (Qa) Marginal Utility (MUa) Total Utility Quantity (Qb) Marginal Utility (MUb) Total Utility
1 50 52.5 1 17 17.5
2 45 100 2 16 34.0
3 40 142.5 3 15 49.5
4 35 180.0 4 14 64.0
5 30 212.5 5 13 77.5
6 25 240.0 6 12 90.0
7 20 262.5 7 11 101.5
8 15 280.0 8 10 112.0
(di mana Mua = 55-5Qa dan Mub = 18 – Qb, total income = $13, Pa $2/unit, Pb $1/unit)

Tabel 2/3
Quantity A MU/Price A Quantity B MU/Price B Total Utility
3 20.00 7 11.00 244.00
4 17.50 5 13.00 257.50
5 15.00 3 15.00 262.00
6 12.50 1 17.00 257.50

Asumsi: barang A dan barang B merupakan barang independen
Kondisi/persyaratan bagi consumer in equilibrium adalah:
Konsumen memaksimalkan total utilitynya dengan keterbatasan anggaran, yaitu jika rasio MU/P (marginal utility terhadap harga) konstan untuk semua barang yang dibeli. Kondisi konsumen dalam keseimbangan dapat digambarkan dengan simbol sebagai berikut:
1. MUa = MUb = MUc = …..
Pa Pb Pc

2. Pa.Qa + Pb.Qb + Pc.Qc + …… = Income
Di mana MUa : Marginal Utility dari barang A
Pa : Harga barang A
Qa : Quantity barang A yang dikonsumsi
Pada contoh di atas, kondisi keseimbangan tercapai pada saat Qa = 5 dan Qb = 3
4. Pertukaran antar Individu
Sebagian besar kegiatan ekonomi terdiri dari pertukaran komoditi antara individu melalui media uang.
Individu tidak mengharapkan pertukaran yang tidak menghasilkan keuntungan/manfaat. Dengan kata lain, pertukaran komoditi akan terus terjadi sampai semua individu mencapai posisi equilibrium dimana respetif utilitynya telah mencapai maksimum.
Dalam pertukaran antar individu, tidak akan diperoleh peningkatan dalam TU satu pihak tanpa menurunkan kepuasan pihak lain.
Posisi keseimbangan terjadi ketika ratio MUa/MUb sama untuk setiap konsumen:
MUa X = MUa Y = MUa Z = …..
MUb MUb MUb
X : konsumen X
Y : konsumen Y
D. PENGARUH PERUBAHAN HARGA
1. Turunnya kurva demand
Bagaimana menjelaskan mengapa kurva demand rumah tangga terhadap produk umumnya menurun?
Untuk memakai tori utility dalam menjelaskan hal ini, kita perlu mengasumsikan bahwa hipotesis diminishing marginal utility berlaku untuk semua komoditi. Kenyataannya ada beberapa teori yang berbeda tentang tingkah laku konsumen yang dapat digunakan untuk menggambarkan bentuk kurva demand (misal teori kurva indifference dan teori the revealed preference). Dalam teori ini tidak perlu membuat hipotesis tentang tingkah laku marginal utility dan oleh karena itu dianggap lebih umum.

Konsumen berada pada equilibrium jika rasio marginal utility terhadap harga tetap sama untuk semua komoditi yang didapat
2. Income effect dan Substitution effect
Permintaan suatu barang antara lain dipengaruhi oleh harga barang itu sendiri. Jika harga barang naik, ceteris paribus (sementara faktor lain tetap), permintaan terhadap barang yang bersangkutan biasanya akan turun.
Perubahan jumlah yang diminta yang disebabkan karena perubahan harga (ceteris paribus) dapat dibagi menjadi dua bagian:
Income effect adalah perubahan permintaan yang disebabkan karena adanya perubahan daya beli (real income)
Substitution effect adalah perubahan permintaan disebabkan karena adanya perubahan harga relatif suatu barang terhadap barang lain.
Pengaruh substitution effect dan income effect akan berbeda untuk jenis barang normal, barang inferior atau barang giffen.

Jenis barang Income effect Substitution effect Total effect
Barang normal
Contoh : sepatu Bata Price A turun
(ceteris paribus) Real income (daya beli) naik sehingga permintaan brg A naik. Harga brg A sekarang relatif lebih murah dibandingkan brg substitusinya (brg B). Orang yang semula menggunakan brg B beralih ke brg A, sehingga permintaan brg A naik Qd A naik
Barang inferior
Contoh : tiwul Price A turun
(ceteris paribus) Real income (daya beli) naik, permintaan brg A turun. Hal ini karena brg inferior umumnya adalah barang yang berkualitas rendah dan murah yang dikonsumsi pada saat pendapatan relatif rendah. Naiknya real income justru menurunkan minat untuk konsumsi barang inferior karena konsumen yang merasa lebih kaya akan mengurangi konsumsi barang inferior dan beralih ke brg lain yang mutunya lebih baik (brg normal). Harga brg A sekarang relatif lebih murah dibandingkan brg substitusinya (brg B). Orang yang semula menggunakan brg B beralih ke brg A, sehingga permintaan brg A naik Qd A naik sedikit. Hal ini karena pada barang inferior, faktor substitution effect lebih besar dibandingkan income effect.
Barang giffen
Contoh : dedak Price A turun
(ceteris paribus) Real income (daya beli) naik, permintaan brg A turun banyak. Hal ini karena konsumen yang merasa lebih kaya (karena naiknya real income) tidak ingin lagi mengkonsumsi barang giffen yang mutunya sangat rendah dan beralih ke barang lain yang mutunya lebih baik. Harga brg A sekarang relatif lebih murah dibandingkan brg substitusinya (brg B). Orang yang semula menggunakan brg B beralih ke brg A, sehingga permintaan brg A naik Qd A turun sedikit. Hal ini karena pada barang giffen, income effect lebih besar dibandingkan substitution effect


3. Elastisitas Harga dari Permintaan (Price Elaasticity of Demand)
Price elasticity of demand adalah tingkat sensitivitas perubahan permintaan akibat perubahan harga. Jika suatu kenaikan



CHAPTER 3. THE DEMAND FOR INSURANCE

I. Peran Asuransi
Kepuasan utama yang diperoleh konsumen dengan membeli asuransi adalah adanya financial security yang diperoleh karena memindahkan resiko ke perusahaan asuransi.
Pada dasarnya dampak pembelian asuransi bagi pemegang polis:
1. dengan membayar premi, pemegang polis dapat memindahkan resiko
2. pemegang polis mendapat kepastian mengenai biaya karena cost of risk yang semula tidak diketahui diganti dengan biaya yang sudah pasti, yaitu sebesar premi dibayar.
3. Pemegang polis hanya menanggung resiko yang tidak dapat dialihkan dan resiko yang memang hendak ditahan sendiri
4. Dengan membeli asuransi, pemegang polis juga dapat menerima servis lain dari perusahaan asuransi seperti nasihat mengenai upaya-upaya pencegahan kerugian (loss prevention and control), recovery of uninsured loss (misalnya ex-gratia).

Namun demikian harus diingat bahwa peran asuransi di atas kadangkala tidak selalu/semuanya dapat dirasakan manfaatnya, karena:
1. Tdak semua resiko dapat diasuransikan, hanya pure risk yang dapat diasuransikan.
2. Asuransi hampir selalu tidak mampu memberi penggantian secara sempurna yang dapat mengembalikan posisi keuangan pemegang polis ke posisi semula sebelum terjadinya kerugian.
Hal ini disebabkan karena adanya under insurance dan penerapan limitation of indemnity, yaitu:
• Sum insured
• Average karena adanya under insurance
• Excess
• Franchise
• Limits of liability (misalnya pada TPL)
• Deductible
3. Pembayaran premi, baik dalam hal jumlah maupun waktu pembayarannya, juga tidak selalu dapat dipastikan. Hal ini terjadi jika premi ditetapkan secara retrospective (misalnya dalam asuransi cash in transit dan stock insurance). Selain itu, adanya faktor inflasi juga dapat menyebabkan premi di masa datang berbeda dengan premi ditetapkan pada masa sekarang.
• Asumsi yang dipakai dalam pembahasan selanjutnya hanya melibatkan sektor rumah tangga dan sektor dunia usaha. Sektor pemerintah diabaikan karena pemerintah memiliki unit-unit exposure yang besar sehingga resiko sudah dapat diperkirakan. Selain itu, pemerintah dianggap mampu menutup kerugian melalui mekanisme pajak sebagai sumber penerimaan pemerintah yang utama.

II Faktor-faktor yang mempengaruhi permintaan terhadap asuransi
Faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat permintaan asuransi dapat digolongkan dalam 2 kelompok.
• Endogenous, yaitu faktor-faktor yang dapat dikontrol oleh konsumen
Misalnya : Selera dan preferensi
Pendapatan
Kekayaan (wealth)
Karakteristik kondisi keuangan
• Exogenous, yaitu faktor-faktor yang berada di luar kontrol konsumen
Misalnya: Asuransi wajib
Perpajakan
Harga asuransi
Inflasi
Kebijkasanaan pemerintah lainnya

Selera dan preferensi
Keputusan untuk membeli atau tidak membeli asuransi sangat tergantung dari preferensi dan sikap konsumen terhadap resiko.
Sikap konsumen terhadap resiko dapat dikategorikan ke dalam 3 golongan:
1. Risk averter
Risk averter adalah orang yang tidak menyukai resiko. Mereka mau membayar lebih dari perkiraan kerugian yang mungkin diderita, asalkan dapat menyingkirkan resiko.
2. Risk neutral
Orang yang risk neutral bersikap indifference mengenai ada atau tidaknya resiko. Untuk menyingkirkan suatu resiko, mereka tidak mau membayar lebih dari perkiraan kerugian yang mungkin diderita.
3. Risk preferer (risk taker)
Risk preferer adalah orang yang menyukai keadaan yang beresiko. Dengan kata lain, ia tidak keberatan menerima resiko yang lebih tinggi sepanjang terdapat kemungkinan memperoleh hasil yang lebih tinggi pula.

Ilustrasi berikut mengenai preferensi konsumen terhadap resiko dan pilihannya untuk membeli atau tidak membeli asuransi berdasarkan The Friedman and Savage Theory.
Contoh :
A memiliki kekayaan bernilai Rp 100 juta dan dihadapkan pada resiko kebakaran. Jika kebakaran terjadi, kekayaan A akan berkurang menjadi Rp 10 juta. Probabilita terjadinya kebakaran adalah 50%.
Pertanyaaan:
Apakah A akan menghindari resiko kerugian karena kebakaran dengan membeli polis asuransi?

Expected Losses
Jika terjadi kebakaran, kerugian yang diderita adalah : Rp 100 juta – Rp 10 juta = Rp 90 juta
50% X Rp 90 juta = Rp 45 juta
Fair Risk Premium
Harga premi asuransi murni yang wajar adalah harga yang mencerminkan expected loss, yaitu Rp 45 juta.

Jika A tidak membeli asuransi, maka:
1. resiko kerugian karena kebakaran berada pada A
2. kekayaan yang dimiliki bisa tetap Rp 100 juta atau hanya menjadi Rp 10 juga jika kebakaran terjadi. Oleh karena itu expected kekayaan adalah:
Probabilita kekayaan tanpa kebakaran + probabilita kekayaan setelah kebakaran
= (0,5 X Rp 100 juta) + (0,5 X Rp 10 juta)
= Rp 55 juta ………….> masih bersifat uncertain

Jika A membeli asuransi, maka:
1. resiko kerugian karena kebakaran hilang (resiko menjadi 0)
2. kekayaan yang pasti dimilikinya menjadi:
Kekayaan tanpa kebakaran - premi asuransi dibayar
= Rp 100 juta – Rp 45 juta
= Rp 55 juta …………> bersifat certain

Apakah A akan membeli asuransi atau tidak, tergantung dari bagaimana preferensi A terhadap resiko, apakah A tergolong individu yang risk averter, risk neutral, atau risk preferer. Keputusan yang akan diambil adalah keputusan yang memberikan expected utility yang lebih tinggi.

















Risk averter
Kurva biru menunjukkan kurva utility dari kondisi uncertainty (ada resiko). Kurva hijau merupakan kurva utility pada kondisi certainty dari seorang risk averter. Dari kedua kurva utility tsb terlihat bahwa:
• pada tingkat kekayaan yang sama (Rp 55 juta), utility memiliki kekayaan pada kondisi certainty lebih tinggi daripada utility expected kekayaan pada kondisi uncertainty.
• Dengan kata lain, jika risk averter dihadapkan pada 2 alternatif:
Alternatif 1 : memiliki kekayaan Rp 55 juta secara pasti, atau
Alternatif 2 : memiliki kekayaan Rp 100 juta dengan probabilita 50% atau Rp 10 juta dengan probabilita 50%
Maka alternatif 1 memiliki kepuasan yang lebih tinggi.
• Jika harga premi murni yang ditetapkan perusahaan asuransi wajar (=value of expected loss), maka seorang risk averter akan memilih membeli asuransi karena utilitynya lebih tinggi daripada tidak membeli asuransi. Dengan membeli asuransi, ia akan terbebas dari resiko kerugian akibat kebakaran sehingga memperoleh kepastian mengenai jumlah kekayaan akan dimilikinya (Rp 55 juta).

Risk Neutral
Jika A seorang risk neutral, utility dari membeli asuransi (menghilangkan resiko) dengan tidak membeli asuransi (menahan resiko) adalah sama. Karena itu baginya tidak ada bedanya apakah ia membeli atau tidak membeli asuransi.

Risk Preferer
Kurva utility seorang risk preferer pada kondisi certainty digambarkan oleh kurva merah. Kurva biru menggambarkan kondisi uncertainty. Dari kedua kurva utility tsb terlihat bahwa:
• Pada tingkat kekayaan yang sama (Rp 55 juta), utility memiliki expected kekayaan pada kondisi uncertainty leibh tinggi daripada utility memiliki kekayaan dalam kondisi certainty.
• Dengan kata lain, jika risk preferer dihadapkan pada 2 alternatif:
Alternatif 1 : memiliki kekayaan Rp 55 juta secara pasti, atau
Alternatif 2 : memiliki kekayaan Rp 100 juta dengan probabilita 50% atau Rp 10 juta dengan probabilita 50%
Maka alternatif 2 memiliki kepuasan yang lebih tinggi
• Jika harga premi murni yang ditetapkan perusahaan asuransi wajar, maka seorang risk averter akan memilih untuk tidak membeli asuransi karena utilitynya lebih tinggi daripada membeli asuransi. Dengan tidak membeli asuransi, ia masih mempunyai kesempatan untuk memilik kekayaan senilai Rp 100 juta. Walau, jika terjadi kebakaran, kekayaannya akan berkurang hingga menjadi hanya Rp 10 juta, seorang yang tergolong menyukai resiko akan mengambil resiko tsb.

Premi Murni yang Maksimum (P*)
Contoh di atas menunjukkan bahwa individu yang memiliki diminishing marginal utility (sebagaimana digambarkan pada kurva hijau) adalah risk averter.
Risk averter akan bersedia membayar premi di atas premi yang wajar, asalkan ia dapat mengalihkan resiko. Membayar premi di atas premi yang wajar berarti membayar premi yang nilainya lebih tinggi dari expected loss yang mungkin akan dideritanya. Namun demikian, tentunya premi asuransi tidak dapat terlalu mahal dan tetap ada batas maksimumnya (P*). Besarnya premi maksimum atau P* yang mau dibayar oleh konsumen tergantung dari preferensi konsumen tersebut terhadap resiko .

Kondisi awal, kekayaan (W2) adalah Rp 100 juta, premi (P) Rp 45 juta, konsumen memilih untuk membeli asuransi karena utility yang diperoleh lebih tinggi dari utility tidak membeli asuransi
Keputusan Kekayaan Utility
- membeli asuransi
- tidak membeli asuransi 100 juta – 45 juta = 55 juta
50% x 100 juta + (50% x 10 juta) = 55 juta 100
75

Jika premi naik menjadi Rp 50 juta, maka:
Keputusan Kekayaan Utility
- membeli asuransi
- tidak membeli asuransi 100 juta – 50 juta = 50 juta
50% x 100 juta + (50% x 10 juta) = 55 juta 95
75

Dengan naiknya harga premi, kekayaan pembeli asuransi akan turun dari Rp 55 juta menjadi Rp 50 juta, sehingga utilitynya akan menurun. Selama utility dari membeli asuransi masih lebih tinggi daripada utility tidak membeli asuransi, konsumen akan tetap membeli asuransi. Konsumen tidak akan membeli asuransi jika utility dari kekayaan setelah membeli asuransi lebih rendah dari 75.

Jika harga premi mencapai Rp 70 juta, maka
Keputusan Kekayaan Utility
- membeli asuransi
- tidak membeli asuransi 100 juta – 70 juta = 30 juta
50% x 100 juta + (50% x 10 juta) = 55 juta 75
75

Pada kondisi ini, konsumen menjadi indifference apakah akan membeli asuransi atau tidak. Namun, jika premi bergerak naik melebihi Rp 70 juta, sudah pasti konsumen tidak akan membeli asuransi, karena utility pasti turun dan menjadi lebih rendah dari 75. Jadi harga maksimum dari premi adalah Rp 70 juta.

Kesimpulan:
• premi maksimum (P*) adalah premi yang membuat utility konsumen sama nilainya apakah ia membeli asuransi atau tidak membeli asuransi
• nilai kekayaan (W2 – P*) disebut certainty equvalent dari situasi yang risky. Artinya pada tingkat kekayaan tsb, tingkat utility akan sama dengan tingkat utility dari kekayaan yang tidak pasri.


Pengaruh Perbedaan Preferensi Konsumen Terhadap Tingkat Premi Maksimum dan Elastisitas Harga

Ilustrasi gambar:
• baik konsumen a maupun konsumen b mengalami diminishing marginal utility
• konsumen yang memiliki diminishing marginal utility adalah risk averter
• konsumen a dan konsumen b pada gambar di atas keduanya merupakan risk averter
• namun, konsumen b lebih risk averse dibanding a
• konsumen b mau membayar lebih banyak untuk mengalihkan resiko
• karena itu, batas harga maksimum bagi konsumen b jauh lebih tinggi daripada konsumen a
• bagi konsumen b, premi harus naik dalam jumlah yang sangat tinggi sebelum b memutuskan untuk tidak membeli asuransi
• dengan kata lain, permintaan konsumen b terhadap asuransi bersifat inelastis

Pendapatan
• Asuransi bukan inferior goods. Jadi, jika pendapatan naik, permintaan terhadap asuransi akan naik pula

Dampak kenaikan pendapatan bagi rumah tangga
Y naik  konsumsi durable goods naik  demand untuk fire & burglary insurance naik
Y naik  pinjaman untuk membeli fixed asssets naik  demand untuk life (credit) insurance naik

Dampak kenaikan pendapatan bagi badan usaha
Y naik  omzet (turnover) naik  jumlah produksi naik  jumlah stock naik  Sum insured naik
Product liability ins naik

Y naik  omzet (turnover) naik  jumlah produksi naik  jumlah pegawai naik  employers liability ins naik

Y naik  omzet (turnover) naik  jumlah produksi naik  mesin naik  Sum insured naik
Machinery breakdown ins naik

Kekayaan (wealth)
Umumnya kenaikan kekayaan akan diikuti dengan kenaikan permintaan terhadap asuransi. Namun untuk beberapa hal, terkadang ditemui kenyataan yang sebaliknya. Beberapa hal berikut ini perlu diperhatikan

Pertama, makin kaya seseorang, ia makin tidak membutuhkan asuransi. Hal ini antara lain disebabkan karena:
• Makin kaya seseorang, makin mampu ia menanggung sendiri resiko-resiko yang kecil nilainya
• Makin kaya seseorang, makin mampu ia mendiversifikasikan kekayaannya sehingga mengurangi kemungkinan kerugian sekaligus
• Makin kaya perusahaan, makin mampu untuk melakukan self insurance
Kedua, individu atau badan usaha yang sudah kaya umumnya menghasilkan pendapatan investasi yang cukup tinggi. Mereka tidak khawatir lagi dengan resiko kehilangan pendapatan (earning power) sebagaimana orang yang kekayaannya masih rendah.

Karakteristik Kondisi Keuangan Badan Usaha
Faktor-faktor yang berkaitan dengan kondisi keuangan suatu badan usaha yang dapat mempengaruhi permintaan terhadap asuransi adalah:
1. tujuan perusahaan secara keseluruhan dan preferensinya terhadap resiko
2. struktur organisasi pengambil keputusan:
individu umumnya lebih risk taker dibanding kelompok
manajemen umumnya lebih risk taker dibanding pemegang saham
3. arus kas perusahaan
jika expected loss relatif kecil dan predictable, perusahaan akan cenderung menanggung sendiri resiko
4. kemampuan perusahaan untuk memperoleh pinjaman kontingen jika mengalami kerugian yang tidak biasa. Jika kemampuan ini tinggi, maka perusahaan mungkin tidak memerlukan asuransi
5. tinggi rendahnya pinjaman dalam struktur permodalan perusahaan. Makin tinggi hutang yang dimiliki perusahaan, kebutuhan terhadap asuransi makin meningkat. Hal ini diperuntukkan untuk menghindari hilangnya atau turunnya nilai kekayaan yang biasanya dijadikan jaminan hutang.
6. Tingkat persaingan yang dihadapi. Makin tinggi tingkat persaingan makin tinggi kebutuhan terhadap asuransi
7. Apakah unit usaha dimaksud merupakan cost centre atau profit centre. Jika cost centre, yang diutamakan adalah penekanan biaya, sehingga mungkin tidak akan berasuransi secara penuh, jika profit centre, kebutuhan terhadap asuransi cendrung tinggi untuk mengurangi fluktuasi pendapatan.

Asuransi Wajib
• Berapapun harganya, asuransi wajib harus dipenuhi
• Asuransi wajib umumnya merupakan kebutuhan minimum, konsumen terkadang membutuhkan perlindungan leibh dari yang diberikan melalui asuransi wajib
• Ada asuransi yang tidak diwajibkan oleh pemerintah, namun bersifat “wajib” untuk kegiatan-kegiatan tertentu misalnya : untuk memperoleh KPR, klausula konstruksi, dsb
Perpajakan
Permintaaan asuransi dari rumah tangga
Tax relief mengurangi harga premi asuransi. Akibatnya permintaan asuransi meningkat.

Permintaan asuransi dari badan usaha
• Dampak corporate tax pada permintaan terhadap asuransi ada dua:
- premi asuransi merupakan tax deductibles expenses
Ketentuan pajak ini membawa dampak positif bagi perusahaan asuransi, yaitu peningkatan permintaan terhadap asuransi
- biaya yang dikeluarkan untuk uninsured losses juga dianggap tax deductible expenses. Ketentuan ini, sebaliknya membawa dampak negatif pada permintaan asuransi yaitu perusahaan mendapat insentif untuk melakukan self insurance
• selain pengurangan corporate tax, perusahaan juga diberikan tax allowance untuk penyediaan peralatan dalam rangka loss prevention & reduction

Harga asuransi
• produk asuransi bukan giffen goods, karena itu kenaikan harga umumnya membawa dampak penurunan permintaan
• yang dimaksud dengan harga asuransi adalah komponen pure premium atau risk premium ditambah loading

Harga produk lain
Produk yang bukan barang substitusi atau barang komplementer
Jika harga barang lain naik, ceteris paribus, pendapatan riil menurun dan akan mengakibatkan turunnya permintaan terhadap asuransi (income effect)

Produk substitusi
• Produk substitusi dari asuransi adalah risk retention (self insurance). Jika perusahaan memilih untuk melakukan self insurance, perusahaan harus selalu likuid atau mempunyai cukup kekayaan yang dapat diubah menjadi liquid assets dengan segera, untuk mengganti kerugian/kehilangan yang diderita
• Biaya self insurance adalah perbedaan antara return non-liquid assets dengan liquid assets atau biaya merubah non liquid assets menjadi liquid assets.
• Biaya self insurance naik apabila
return dari non liquid assets naik, atau
harga pasar non liquid assets turun
Jika hal ini terjadi, maka permintaan terhadap asuransi akan naik

Product complementer
Barang komplementer dari asuransi cukup banyak, misalnya penurunan harga mobil akan menyebabkan kenaikan permintaan mobil, yang pada gilirannya akan menaikkan permintaan terhadap asuransi mobil.

Inflasi
• Pengertian inflasi adalah adanya kenaikan harga-harga secara umum. Di UK, inflasi berarti adanya kenaikan harga bersamaan dengan kenaikan gaji, karena gaji juga naik, maka pada dasarnya inflasi tidak mengurangi permintaan konsumen terhadap barang-barang. Dampak langsung dari inflasi di UK adalah naiknya nilai sum insured dan limit of liability produk asuransi.
• Walau inflasi berarti kenaikan harga maupun gaji, namun konsumen kadang-kadang memiliki suatu preferensi bahwa proporsi kenaikan harga berbeda dengan kenaikan gaji.
• Konsumen dikatakan memiliki money illusion jika mereka beranggapan bahwa kenaikan gaji lebih besar dari kenaikan harga-harga. Dengan adanya money illusion, permintaan terhadap barang-barang dan asuransi diperkirakan akan meningkat
• Pembeli dari kalangan dunia usaha umumnya memiliki informasi yang lebih baik dan tidak akan terkena money illusion

Kebijakan Pemerintah Lainnya
Kebijakan pemerintah yang juga dapat mempengaruhi permintaan antara lain seperti:
• Penetapan harga maksimum atau minimum
• Perubahan pada asuransi wajib (misalnya limit of liability dinaikkan)
• Perubahan dasar perhitungan tarif

III Asuransi Jiwa yang Mengandung Unsur Tabungan (Saving-based Life Insurance)
• Bentuknya antara lain endowment dan whole life
• Faktor-faktor yang mempengaruhi permintaan terhadap produk asuransi jiwa ini:
- preferensi konsumen antara melakukan konsumsi sekarang atau menabung untuk konsumsi masa depan
- pendapatan : makin tinggi pendapatan, tingkat tabungan umumnya meningkat
- yiels (return) dari savings-based life insurance

IV Elastisitas Permintaan Asuransi
Pembahasan mengenai elastisitas permintaan asuransi dibagi dalam 3 jenis elastisitas, yaitu elastisitas harga, elastisitas pendapatan dan elastisitas silang (cross elasticity)

Elastisitas Harga
• Dilihat dari faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat elastisitas, produk asuransi memiliki karakteristik sebagai berikut:
 No close substitute product, kecuali untuk produk asuransi jiwa yang mengandung unsur tabungan
 Proporsi premi asuransi relatif rendah dibandingkan dengan tingkat pendapatan, kecuali untuk produk asuransi jiwa yang mengandung unsur tabungan
 Pengetahuan konsumen terhadap tingkat resiko relatif rendah
 Resiko dan produk asuransi pada dasarnya cukup sulit untuk dimengerti dan dievaluasi
• Dengan karakteristik tsb, permintaan asuransi pada umumnya bersifat inelastis terhadap harga
• Namun, analisis lebih lanjut menurut class of business akan memberi pemahaman yang lebih tepat mengenai perilaku permintaan terhadap asuransi.
 Asuransi wajib umumnya lebih inelastis terhadap perubahan harga
 Asuransi jiwa yang mengandung unsur tabungan (misalnya endowment) cendrung lebih elastis karena keberadaan barang substitusi (tabungan, deposito, reksadana)
 Konsumen dari kalangan dunia usaha (commercial buyers) umumnya memiliki pengetahuan yang lebih tinggi terhadap resiko dan produk asuransi sehingga permintaan dari kalangan dunia usaha lebih bersifat elastis dibanding permintaan dari rumah tangga

Elastisitas Pendapatan
• Elastisitas pendapatan untuk produk asuransi diperkirakan cukup tinggi atau relatif elastis, karena:
1. kenaikan pendapatan umumnya diikuti dengan kenaikan tabungan dengan proporsi yang lebih tinggi. Sebagai akibatnya kenaikan pendapatan menyebabkan kenaikan terhadap produk asuransi jiwa dan dana pensiun
2. kenaikan pendapatan menaikkan konsumsi durable goods dan konsumen untuk aktivitas leisure (hiburan dan liburan), yang pada gilirannya menaikkan permintaan terhadap produk asuransi, terutama personal insurance
3. kenaikan pendapatan suatu negara juga biasanya diikuti dengan kenaikan investasi barang modal yang lebih tinggi yang akan mendorong permintaan terhadap property insurance, kenaikan pendapatan suatu negara juga meningkatkan arus perdagangan internasional yang juga merupakan sumber permintaan untuk marine insurance
4. di banyak negara berkembang, produk asuransi merupakan luxury goods. Ciri utama luxury goods adalah permintaan yang sangat elastis terhadap perubahan pendapatan

Cross elasticity
Cross elasticity produk asuransi jiwa endowment dengan produk-produk perbankan atau reksadana adalah positif. Namun karena produk asuransi jiwa bersifat jangka panjang dan surrender membawa dampak kerugian di pihak pemegang polis, dampak perubahan harga pada barang substitusi tidak terlalu banyak berpengaruh pada produk yang sudah berjalan, tapi lebih banyak berpengaruh pada permintaan produk baru.



CHAPTER 4. TEORI PENAWARAN LANJUTAN : PRODUKSI

A. Faktor Produksi
Jenis Faktor Produksi
1 Land (tanah), mencakup tidak hanya yang berada di permukaan bumi, namun termasuk pula sumber daya alam yang terdapat di dalamnya.
2 Labour (tenaga kerja), adalah segala usaha seseorang baik fisik maupun mental (skill) yang digunakan dalam proses produksi
3 Capital (barang modal), merupakan barang-barang yang dibuat untuk membantu proses produksi, misalnya mesin-mesin. Termasuk pula dalam barang modal ini social capital (infrastructure), misalnya jalan raya
4 Entrepreneurs (usahawan) adalah orang yang mengorganisasikan, memutuskan dan mengambil resiko dalam memutuskan produk apa yang akan dibuat dan faktor produksi apa yang akan digunakan

Mobilitas faktor produksi
Pengertian : mudah tidaknya faktor produksi berpindah untuk digunakan dalam keperluan lainnya.
Klasifikasi :
1. Mobilitas pekerjaan (occupational mobility)
Mobilitas pekerjaan ini berkaitan dengan berubahnya jenis penggunaan dari faktor produksi
2. Mobilitas industrial (industrial mobility)
Berkaitan dengan berpindahnya faktor produksi dari suatu industri ke industri lain
3. Mobilitas geografis (geographical mobility)
Adalah perpindahan faktor produksi dari satu daerah ke daerah lain
Mobilitas tiap-tiap faktor produksi berbeda. Sebagai contoh, tanah hanya mungkin melakukan mobilitas pekerjaan dan industrial. Sementara barang modal cendrung rendah tingkat mobilitasnya . Di antara faktor produksi, yang secara potensial paling tinggi mobilitasnya adalah labour. Namun, kadang-kadang ada kendala yang menyebabkan mobilitas tenaga kerja berkurang, misalnya masalah perumahan atau ikatan keluarga.

Makin panjang masa kerja yang tersisa dari penggunaan suatu faktor produksi, akan makin mobile faktor produksi tsb. Misalnya, pegawai yang sudah mendekati usia pensiun lebih sulit mencari kerja baru.

Kebijakan pemerintah dapat mempengaruhi tingkat mobilitas faktor produksi. Misalnya dengan pembatasan penggunaan tanah di daerah tertentu.

B. Skala Waktu Pengambilan Keputusan
Guna meningkatkan produksi atau output, perusahaan dapat melakukan berbagai hal, mulai dari yang sederhana seperti menambah jam lembur sampai yang rumit seperti memulai upaya penelitian dan pengembangan (R&D).

Menambah jam lembur relatif lebih mudah dilakukan daripada melakukan R & D. Kedua contoh di atas menunjukkan bahwa terdapat skala waktu dalam pengambilan keputusan untuk merubah tingkat output. Skala waktu tsb dapat dikelompokkan dalam 3 klasifikasi:
1. Jangka pendek
Dalam jangka pendek, untuk merubah tingkat output, satu atau lebih faktor produksi tetap (fixed). Biasanya faktor produksi yang dianggap dapat diubah adalah tenaga kerja, sedangkan yang tetap adalah barang modal.
2. Jangka panjang
Dalam jangka panjang, semua faktor produksi dapat diubah untuk merubah tingkat output
3. Jangka sangat panjang
Dalam jangka sangat panjang, terdapat perubahan teknologi

C. Produksi dalam jangka pendek
Asumsi:
1. Keputusan dibuat oleh perusahaan dengan konsisten dan rasional
2. Untuk simplifikasi, perusahaan hanya memproduksi 1 (satu) jenis produk
3. Perusahaan menerapkan tingkat teknologi yang paling efisien yang tersedia

Fungsi Produksi
Menjelaskan kaitan antara input (faktor produksi) dan jumlah produksi (ouptput) untuk setiap waktu tertentu. Untuk simplifikasi, pembahasan mengenai fungsi produksi hanya memperhitungkan faktor produksi tenaga kerja dan barang modal.
Secara matematis, fungsi produksi digambarkan sebagai:
Q = f(L,K), di mana L = labour atau jumlah jam kerja man/hours
K= barang modal
Fungsi produksi menunjukkan bahwa perusahaan dapat menaikkan atau menurunkan output dengan merubah jumlah faktor produksi yang digunakan.

Total & Marginal Physical Product (total product & marginalproduct)
Total Product adalah total output yang diproduksi perusahaan dengan fungsi produksi tertentu.
Dalam jangka pendek, jika salah satu faktor produksi (input) tetap, maka total produk dapat diubah melalui perubahan faktor produksi yang bersifat variabel.

Dalam tabel ditunjukkan hubungan antara total produk dan faktor produksi. Diasumsikan labour merupakan faktor produksi yang bersifat variabel dan mesin merupakan faktor produksi yang fixed (4 unit mesin).
Labour (man hours) Total Product Average Product Marginal Product
0 0 0 0
1 11 11 11
2 40 20 29
3 81 27 41
4 128 32 47
5 175 35 47
6 216 36 41
7 245 35 29
8 256 32 11
9 260 28.9 4
10 262 26.2 2
11 263 23.9 1
12 261 21.75 -2

Average Product (AP) : tingkat produksi rata-rata untuk setiap faktor produksi variabel

Average product = Total produk = Total Product

Jumlah fak.prod. variabel # Labour

Marginal Product (MP) : tambahan output yang disebabkan oleh tambahnya 1 unit labour

Marginal product = Total Product

Labour
product










36

AP


MP
0 6 labour

Terlihat bahwa average product maksimum pada saat berpotongan dengan marginal product yaitu pada L =6 dan marginal product adalah maksimum pada saat L =4

Hypothesis of Diminishing Returns
Menyatakan bahwa kenaikan total produksi, pada tingkat tertentu, akan menurun, jika salah satu faktor produksi (yang bersifat variable) ditambah, sementara faktor produksi lain tetap.
Fenomena diminishing return ini ditunjukkan dengan kurva marginal product yang menurun.
Kombinasi labour dan barang modal yang paling efisien adalah tingkat produksi yang memiliki average product tertinggi (the optimum rate of output in the short run).

D. Biaya dalam jangka pendek
Asumsi: harga faktor produksi sudah given, tidak dapat dipengaruhi oleh perusahaan.

Kurva biaya dalam jangka pendek
Diketahui : biaya labour $ 5 per hour
Biaya mesin $ 10 per machine
TP L K Cost of L
TVC Cost of K
TFC TC AVC AFC AC MC
0 0 4 0 40 40
11 1 4 5 40 45 0.45 3.64 4.10 0.45
40 2 4 10 40 50 0.25 1.00 1.25 0.17
81 3 4 15 40 55 0.19 0.49 0.68 0.12
128 4 4 20 40 60 0.16 0.31 0.47 0.11
175 5 4 25 40 65 0.14 0.23 0.37 0.11
216 6 4 30 40 70 0.14 0.19 0.32 0.12
245 7 4 35 40 75 0.14 0.16 0.31 0.17
256 8 4 40 40 80 0.16 0.16 0.31 0.18
260 9 4 45 40 85 0.17 0.15 0.33 1.25
262 10 4 50 40 90 0.19 0.15 0.34 2.50
263 11 4 55 40 95 0.21 0.15 0.36 5.00
261 12 4 60 40 100 0.23 0.15 0.38 -2.5
Total cost adalah total biaya yang dibutuhkan untuk memproduksi output dalam jumlah tertentu. TC mencakup biaya yang dikeluarkan untuk faktor produksi variabel maupun faktor produksi yang fixed.
TC = TVC + TFC

Variabel cost (biaya variabel) : biaya yang dikeluarkan untuk faktor input yang bersifat variabel (dapat diubah jumlahnya) misalnya biaya upah. Biaya ini bergerak searah dengan tingkat produksi.

Fixed cost (biaya tetap) : biaya yang dikeluarkan untuk faktor input yang bersifat tetap (tidak dapat diubah jumlahnya), misalnya biaya mesin, biaya gaji, biaya listrik, dan lain-lain. Biaya ini, sampai tingkat produksi tertentu, umumnya bersifat tetap berapapun tingkat produksi.

Total cost adalh jumlah biaya variabel dan biaya tetap

Marginal cost adalah tambahan biaya yang dikeluarkan karena memproduksi tambahan 1 unit output.












Tingkat produksi optimum dalam jangka pendek
Dalam jangka pendek, tingkat produksi optimum adalah pada saat biaya rata-rata minimum (AC minimum). Tingkat output ini dikenal sebagai Optimum Rate of Ouptput in the Shortrun.

Pengukuran biaya : explicit cost vs. implicit cost
Biaya dapat dikelompokkan ke dalam 2 klasifikasi yaitu : explicit cost dan implicit cost.
Pengertian umum terhadap biaya biasanya mengacu pada explicit cost yaitu biaya yang benar-benar dikeluarkan dalam bentuk pengeluaran kas (monetary), misalnya biaya yang dikeluarkan untuk membayar gaji pegawai, listrik, dll.

Dalam konteks ilmu ekonomi, pengertian biaya adalah seluruh biaya (full cost) yang tidak hanya meliputi explicit cost, namun juga harus memperhitungkan biaya implisit.
Biaya implisit (imputed) adalah biaya dari faktor produksi yang dimiliki sendiri sehingga biasanya dalam pendekatan akuntansi, tidak diperhitungkan. Misalnya, pemakaian gedung yang dimiliki sendiri atau biaya modal.
Biaya implisit sering juga disebut opportunity cost, yaitu the value of the next best forgone alternative.
Contoh:
Total penerimaan $ 100.000
Biaya :
Bahan baku $ 10.000
Pegawai $ 15.000
Listrik, telephone dll $ 5.000
Gedung yang digunakan adalah milik sendiri yang jika disewakan akan menghasilkan uang sewa sebesar $ 20.000
Modal yang dibutuhkan untuk usaha ini adalah $ 200.000 dan tingkat bunga deposito adalah 10%.
Gaji yang akan diterima jika bekerja pada perusahaan lain adalah $ 10.000
Laba menurut perhit akuntasi $ 70.000
True profit/loss $ 20.000 (=100.000-10.000-15.000-5.000-20.000-20.000-10.000)

E. Produksi dalam jangka panjang
Kurva biaya rata-rata jangka panjang (Long Run Average Curve):
Kurva ini menggambarkan struktur biaya perusahaan apabila semua faktor produksi dapat disesuaikan seiring dengan perubahan tingkat output.


LRAC
SRAC1 SRAC2 SRAC3
SRAC4 SRAC5











Q3 Q

Secara matematis LRAC dikatakan sebagai envelope of SRAC.
Dalam jangka panjang, tingkat produksi yang optimum adalah pada saat LRAC minimum (Q3).

Skala Ekonomis
Dari gambar diatas, diketahui bahwa kurva LRAC menurun pada tingkat produksi yang makin besar. Fenomena ini dikenal sebagai economies of scale (increasing return to scale). Perusahaan dikatakan memasuki fase increasing return to scale apabila peningkatan skala produksi menyebabkan penurunan biaya rata-rata.

Sebaliknya, kondisi yang menyebabkan kurva LRAC meningkat pada saat tingkat produksi makin besar lagi, disebut sebagai diseconomies of scale (diminishing return to scale). Perusahaan memasuki fase decreasing return to scale apabila peningkatan skala produksi diikuti dengan peningkatan biaya rata-rata.

Faktor penyebab economies of scale adalah:
a. Adanya pembagian kerja yang memungkinkan tenaga kerja terspesialisasi sehingga dapat menguasai tugas pekerjaan secara mendalam.
b. Memungkinkan dilakukannya integrasi vertikal yaitu adanya kontinuitas pekerjaan dari shift sebelumnya sehingga tidak perlu dilakukan persiapan seperti pemanasan mesin sehingga dapat menghemat penggunaan bahan baku dan bahan pelengkap
c. Harga dan biaya operasi mesin-mesin kapasitas besar relatif lebih murah
d. Dengan peningkatan output, penggunaan mesin-mesin yang terspesialisasi akan lebih ekonomis
e. Pembelian output dalam jumlah besar, memperbesar kemungkinan mendapatkan potongan harga

Faktor-faktor penyebab diseconomies of scale adalah:
a. Keterbatasan manajemen untuk mengawasi perusahaan yang sudah terlalu besar
b. Sulit memperoleh daya yang berkualitas dalam jumlah yang terlalu besar.



CHAPTER 5. AN INTERMEDIATE THEORY OF SUPPLY : COMPETITION
I. Revenue
Adalah penerimaan yang diperoleh dari penjualan produk
Terdapat 3 jenis utama:
a. Total Revenue (TR)
Adalah total pendapatan yang diterima dari penjualan produk
TR = P X Q
b. Average Revenue (AR)
Adalah pendapatan yang diperoleh untuk setiap output yang dijual
AR = TR/Q
(PXQ)/Q = P, maka AR = P
c. Marginal Revenue (MR)
Adalah tambahan pendapatan (TR) dengan adanya tambahan satu unit ouput.
Merupakan slope atau turunan pertama dari TR

Recall CH 1:
Kurva demand yang menjelaskan hubungan antara harga suatu barang dengan tingkat permintaan mempunyai bentuk downward sloping.
Y








0 X

Persamaan matematis untuk kurva yang berbentuk downward sloping seperti di atas adalah : y = a- bx

Contoh berikut menggunakan kurva demand yang memiliki persamaan metematis :
P = 2000 – 2Q
Dengan persamaan ini :
Jika Q = 100, maka P = 2000 – 2(100) = 1800
Jika Q – 900, maka P = 2000 – 2(900) = 200

Sehingga bentuk kurva demand tersebut adalah :
P

1800





200


0 100 900 Qd

Kurva TR, AR dan MR
P/Rev







MR AR
Q


TR





TR


Q

Beberapa point yang dapat dicatat:
a. TR max pada saat MR = 0
b. MR selalu berada di dalam AR karena slope MR lebih besar akibat dari perusahaan yang ingin meningkatkan penjualan harus bersedia menurunkan harga seluruh unit
c. Jika kurva permintaan (AR) berupa garis lurus maka slope MR selalu dua kali AR
d. MR negatif pada Demand inelastis
MR positif pada Demand elastis
MR = 0, pada point elasticity of Demand

II. Revenue dan Profit
Profit = TR –TC
Hubungan antara ketiga variabel di atas digambarkan sbb:

TC





TR

Q2
Profit







Q2
Jumlah profit yang dihasilkan berubah-ubah tergantung jumlah output yang diproduksi. Pada gambar tersebut, keuntungan maksimum dapat diperoleh dengan memproduksi sebanyak Q2.
Perusahaan yang hanya dapat menutup opportunity cost atau hanya dapat membuatnya bertahan dalam usaha (TR =TC) disebut memperoleh normal profits. Jika lebih daripada itu maka perusahaan tersebut dikatakan memperoleh super-normal profits. Jika TC>TR maka dikatakan perusahaan memperoleh sub-normal profit.

Perusahaan selalu memiliki berbagai tujuan. Bagaimanapun, profits memainkan peranan yang sangat penting karena tanpa mendapatkan normal profit, dalam jangka panjang, perusahaan tidak akan dapat bertahan sebab perusahaan tersebut tidak akan mampu menutup biaya-biaya.

Sehingga, walaupun tidak selalu akan dapat tercapai, tujuan dasar perusahaan diasumsikan selalu untuk menghasilkan laba yang sebesar-besarnya. Asumsi tersebut pula yang menjadi dasar dilakukannya analisis produksi. Pada bagian akhir chapter ini dibahas pula mengenai beberapa kritik tentang asumsi dasar tersebut.

Profit terbesar diperoleh pada saat:
Jarak TR dan TC terjauh
Pada saat itu slope dari kurva TR dan TC adalah sama
Karena slope dari TR = MR, dan slope dari TC = MC, maka profit terbesar pada saat : MR = MC

MR dan MC berpotongan pada dua titik, yaitu pada saat profit maksimum dan pada saat profit minimum. Untuk menguji tingkat output tertentu apakah maksimum atau minimum kita dapat menambahkan atau mengurangkan angka output tersebut. Jika setelah ditambahkan masih terdapat peningkatan keuntungan maka titik perpotongan tersebut merupakan titik keuntungan minimum dan sebaliknya.

III. Pasar Persaingan
Terdapat 4 tingkat persaingan pasar, yaitu:
1. pasar persaingan sempurna (perfect competition)
2. pasar persaingan monopolistik (monopolistic competition)
3. pasar oligopoli (oligopoly)
4. pasar monopoli (monopoly)

Pembagian keempat jenis pasar tersebut antara lain dilandasi dari variabel-variabel utama sebagai berikut:
a. jumlah pembeli dan penjual
b. jenis produk
c. hambatan untuk keluar dan masuk pasar

1. Pasar persaingan sempurna
Ciri-cirinya:
- jumlah pembeli dan penjual sangat besar sehingga tidak ada pelaku pasar yang mampu mempengaruhi harga
- produk yang dihasilkan adalah identik (homogen) sehingga tidak ada preferensi terhadap produk atau perusahaan tertentu
- sangat mudah untuk keluar masuk pasar
- pembeli dan penjual memiliki pengetahuan yang lengkap mengenai kondisi pasar, harga dan lain-lain

a. Equilibrium jangka pendek
Pada pasar persaingan sempurna demand dan supply adalah sebagaimana terdapat pada figure 5.7 sisi kiri. Harga equilibrium pada pasar adalah Pe. Mengingat posisi perusahaan dalam pasar ini hanya sebagai price taker, maka perusahaan hanya dapat menjual barang yang diproduksinya pada tingkat harga Pe. Dengan demikian, kurva demand yang dihadapi oleh setiap individu adalah berbentuk garis horisontal (elastis sempurna). Artinya berapapun output yang diproduksi, perusahaan menjualnya dengan harga Pe tersebut.

Untuk memperoleh profit maksimum, setiap perusahaan akan memproduksi pada tingkat output di mana MC = MR, yaitu pada tingkat output Qe.
Keuntungan per output adalah sebesar: P – AC
Keuntungan total adalah : (P – AC) x Q

Contoh pada gambar berikut ini menunjukkan keadaan di mana perusahaan menghasilkan super normal profit

MC AC


P = AR = MR





Qmax

b. Equilibrium jangka panjang
Kondisi perusahaan yang dapat menghasilkan supernormal profit sebagaimana contoh di atas, dalam pasar persaingan sempurna tidak akan bertahan dalam jangka panjang. Hal ini disebabkan karena keuntungan super normal ini akan mengundang perusahaan lain untuk masuk karena tidak adanya barriers to entry.

Masuknya perusahaan baru akan menggeser kurva supply pasar ke kanan yang mengakibatkan harga equilibrium turun. Harga akan terus turun sampai harga tersebut sama dengan AC dari setiap perusahaan. Pada saat tersebut, perusahaan hanya menghasilkan normal profit sehingga tidak ada lagi insentif bagi perusahaan baru untuk masuk ke pasar. Dengan demikian, posisi equilibrium jangka panjang tercapai pada titik P = AC.

Dalam hal penurunan harga telah mencapai keadaan perusahaan hanya memperoleh sub-normal profit, maka banyak perusahaan yang keluar dari industri. Hal ini mengakibatkan kurva supply bergeser ke kiri dan mengakibatkan harga naik. Equilibrium jangka panjang akan tercapai pada saat perusahaan memperoleh normal profit pada saat P = AC.


MC AC


Pe -----------------------------------------------


P =AR =MR
Pe’


Qmax

Q
2. Pasar monopoly
Dalam pasar monopoli hanya terdapat satu penjual. Hal ini dapat terjadi karena:
- peraturan perundangan
- satu-satunya pemilik bahan tertentu
- kerjasama antara para penjual (cartel) dapat pula menghasilkan monopoli semu

Dalam pasar ini, kurva permintaan pasar adalah juga merupakan kurva permintaan perusahaan karena perusahaan adalah satu-satunya penjual yang ada di pasar. Oleh karena itu, perusahaan dapat mempengaruhi harga equilibrium dengan merubah kuantitas yang diproduksi.

Untuk mendapatkan profit maksimum, perusahaan memproduksi pada saat MR = MC yaitu pada Q1. Bagaimanapun pelaku monopoli tidak dapat menentukan sekaligus mengenai jumlah equilibrium dan harga yang berlaku karena harga ditentukan oleh permintaan pasar.


MC AC










MR AR

0 Q1
MR = MC

Perusahan monopoli dapat saja memperoleh sub normal profit ketika AC lebih tinggi daripada AR. Hal ini dapat terjadi karena inefisiensi atau karena pasar terlalu kecil sehingga skala ekonomis tidak tercapai.

MC AC










MR AR

0 Q1(MR=MC)

Gambaran jangka pendek pada gambar 1 dan 2 di atas yang terjadi dalam jangka pendek dapat pula berlaku dalam jangka sangat panjang karena sifat dari pasar monopoli yaitu sangat sulitnya untuk masuk dan keluar dari pasar.

3. Monopolistic competition
Pasar kompetisi ini terjadi pada pasar yang terdapat banyak penjual barang-barang yang mirip tetapi tidak sama sekali identik. Contoh dari pasar persaingan ini di Indonesia adalah shampoo yang tersedia dengan beberapa merek dan jenis.

Karena produk yang hampir sama tersebut maka konsumen produk tertentu dapat saja memakai barang lain sebagai substitusi. Oleh karena itu, setiap perusahaan tidak hanya memperhatikan produk yang dihasilkannya saja tetapi juga selalu memperhatikan kebijaksanaan harga/produk dari perusahaan lain.

Equilibrium jangka pendek dalam pasar ini pada kondisi dihasilkannya supernormal profit adalah sebagaimana terdapat dalam gambar 5.14


Gambar 5.14



MC AC








MR AR

0 Q1


Equilibrium jangka panjang diperlihatkan dalam gambar 5.15. Pergerakan equilibrium sehingga AR mendekati AC mirip dengan yang terjadi di pasar persaingan sempurna. Namun demikian dalam pasar ini beberapa perusahaan dapat saja memperoleh super normal profit dalam jangka panjang karena efisiensi atau kekuatan produk yang dimiliki.


Gambar 5.15

MC AC











MR AR

Q1

4. Oligopoly
Dalam pasar ini terdapat sedikit penjual dengan produk yang sama atau sangat mirip. Contoh di Indonesia misalnya film Kodak dan Fuji.

Karena kemiripan dan merupakan substitusi, kebijaksanaan penurunan harga dari persaingan biasanya akan diikuti dengan kebijaksanaan yang sama dari perusahaan lainnya. Akan tetapi, kebijaksanaan menaikkan harga biasanya tidak diikuti oleh pesaing.

Sehingga, dapat diramalkan bahwa perusahaan dalam pasar ini dalam jangka panjang hanya dapat memperoleh normal profit.

Apabila perusahaan A menurunkan harga, maka perusahaan B juga ikut menurunkan harga sehingga kenaikan output penjualan yang semula diharapkan sebesar Q-Q2, ternyata hanya sebesar Q-Q1. (Gambar 5.13)




Gambar 5.13









Perusahaan A
Perusahaan B



0 Q Q1 Q2

Apabila perusahaan B menaikkan harga, perusahaan A tidak ikut menaikkan harga, sehingga penurunan output penjualan yang mulanya diperkirakan hanya sebesar Q-Q3, ternyata menjadi sebesar Q-Q4 (Gambar 5.14)

Gambar 5.14






Perusahaan A


Perusahaan B


Q4 Q3 Q


IV. Beberapa kritik terhadap Teori Perusahaan (Theory of The Firm)
• Tidak selamanya perilaku perusahaan didasarkan semata-mata pada upaya memaksimumkan keuntungan
• Teori alternatif
 Cost plus pricing atau full cost pricing
 Revenue maximization
 Non-price competition

 Cost plus pricing
Teori ini menyatakan bahwa yang dilakukan perusahaan adalah pertama, menghitung biaya rata-rata per produk berdasarkan perhitungan akuntansi.

Selanjutnya, perusahaan menetapkan persentase tertentu sebagai mark-up untuk ditambahkan pada biaya rata-rata untuk memperoleh harga jual.
Kurva demand, kemudian akan menentukan berapa banyak produk yang dapat dijual pada harga tersebut (lihar figure 5/16)
Sebagai contoh:
Biaya rata-rata per produk Rp 1000
Mark up yang ditetapkan 20%
Harga jual per produk menjadi 1000 + (20% x 1000) = 1200

Jika perusahaan menetapkan mark-up yang tetap (fixed), tanpa memperhatikan tingkat persaingan, dalam penentuan harga, maka dapat diperkirakan bahwa perusahaan ini tidak berupaya memaksimumkan profit.

Jika besaran mark-up disesuaikan dengan tingkat persaingan, maka cost plus pricing (full cost pricing) dapat dikatakan sejalan dengan teori profit maximization.





AC+markup

AC


AR




 Revenue maximization
Perusahaan berusaha untuk memaksimumkan penjualan atau market share. Hal ini biasanya dilakukan dengan tetap memperhatikan pencapaian tingkat keuntungan tertentu yang dapat menjamin kelangsungan hidup perusahaan dalam jangka panjang.
Figure 5/17 memperlihatkan bahwa output Q1 akan menghasilkan revenue yang maksimum sekaligus dapat memenuhi tingkat keuntungan tertentu yang harus dihasilkan perusahaan.
Penerapan teori ini tergantung dari kepemilikan dan kontrol yang ada pada perusahaan:
Pemilik perusahaan  profit maximization (dividen)
Manager  revenue maximization (bonus, prestige)

Untuk memperoleh keuntungan maksimum, seharusnya perusahaan berhenti menjual pada saat Qmax, tetapi perusahaan terus menjual sampai Q1 yang merupakan batas maksimum Q yang dipersyaratkan perusahaan untuk tetap mempertahankan profit pada tingkat tertentu.














0 Qmax Q1


Profit









0 Qmax Q1

 Non price competition
Dalam pasar atau industri di mana produk yang ditawarkan sangat beragam (differentiated), faktor selain harga dapat menjadi alat persaingan yang penting, misalnya iklan, kualitas produk, atau pelayanan.
Konsekuensi dari upaya meningkatkan kualitas produk, pelayan atau frekuensi iklan adalah biaya yang meningkat. Perusahaan berusaha menutup peningkatan biaya ini melalui peningkatan permintaan, sehingga pada gilirannya perusahaan dapat menaikkan harga jual lebih tinggi.

Sebagai contoh, lihat figure 5/18

Equilibrium awal
- kurva permintaan AR1
- kurva biaya rata-rata adalah AC
- harga P dan kuantitas Q

Peningkatan iklan
- kurva biaya rata-rata (AC) akan meningkat menjadi AC1
- kurva permintaan (atau kurva AR) bergeser ke atas menjadi AR2

Equilibrium baru
- harga menjadi P1
- kuantitas dijual Q1







AC1

P1

AC
P
AR2

AR1


0 Q Q1



CHAPTER 6. THE SUPPLY OF INSURANCE

I. Pendahuluan
Bab-bab sebelumnya telah membahas faktor-faktor yang mempengaruhi penawaran (supply).
Tujuan dari pembahasan bab ini adalah untuk mengidentifikasikan faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat penawaran jasa asuransi
Pembahasan terutama akan berfokus pada faktor:
• Biaya
• Persaingan

II. Biaya Perusahaan Asuransi
A. Pengertian
• Pengertian biaya harus dilihat dalam konteks opportunity costs yang terdiri dari biaya eksplisit dan implisit.
 Biaya eksplisit perusahaan asuransi adalah semua pengeluaran kas untuk pembayaran klaim, komisi, gaji, biaya overheads (untuk sewa, telephone, listrik) dan lain-lain.
 Biaya implisit adalah “biaya” dari faktor-faktor produksi yang dimiliki sendiri. Misalnya opportunity costs dari modal.
• Komponen biaya-biaya utama perusahaan asuransi:
1. Initial expenses untuk memperoleh bisnis : komisi, biaya pemeriksaan dokter (life insurance), biaya administrasi, dll.
2. Renewal expenses yang dikeluarkan untuk mengadministrasikan bisnis : komisi renewal, biaya penagihan premi, dll.
3. Pembayaran klaim
- merupakan biaya utama
- biaya klaim dapat dikontrol melalui proses underwriting yang baik atau pemberian nasihat dalam loss prevention
- pada awal penutupan biaya klaim belum dapat diketahui dengan pasti jumlahnya

B. Biaya dalam jangka pendek
• Biaya variabel : komisi,klaim, dll
• Biaya tetap : sewa, gaji, overhead, dll
• Komposisi antara biaya variabel dan biaya tetap tergantung dari
• kebijakan manajemen
• modus operandi : melalui broker (VC) atau kantor cabang (FC)
• produk yang dijual
• Kaitan komposisi FC dengan break even

TR TC TR TC


FC


FC




C. Biaya dalam jangka panjang
• Struktur biaya jangka panjang (long run average cost) perusahaan asuransi dipengaruhi oleh ada tidaknya economies of scale.
• Penting tidaknya economies of scale bagi suatu perusahaan dipengaruhi oleh:
1. Perbandingan antara ukuran skala efisiensi minimum (minimum efficient scale) dengan ukuran pasar
Makin dekat skala efisiensi minimum dengan ukuran pasar, makin penting peran economies of scale. Misalnya:

Jenis
industri Skala Efisien Minimum Ukuran Pasar Penting tidaknya memiliki skala usaha yang besar
Industri A
Industri B Rp 20 milyar
Rp 3 milyar Rp 100 milyar
Rp 100 milyar Penting
Kurang penting

2. Kecepatan turunnya biaya rata-rata jangka panjang (long run average cost)


LRAC LRAC










Skala usaha penting Skala usaha tidak penting


• Bagaimana dengan perusahaan asuransi ? Apakah skala usaha penting bagi perusahaan asuransi?
Studi menunjukkan bahwa skala ekonomis tidak terlalu penting bagi perusahaan asuransi terutama karena:
a. skala efisien minimum hanya sekitar 1.6% dari total pasar (penelitian oleh D.W Colenut 1977)
b. komposisi biaya terbesar perusahaan asuransi adalah biaya klaim yang merupakan biaya variabel, sehingga walau skala usaha membesar (yang ditandai dengan peningkatan premi), biaya rata-rata kemungkinan tidak akan turun secara signifikan
Dalam perusahaan asuransi, skala usaha yang ekonomis dapat diperoleh melalui:
• komputerisasi
• brand image
• kapasitas permodalan
• spesialisasi tenaga kerja
• the law of the large number yang memungkinkan akurasi yang lebih tepat dalam penetapan premi

D. Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi biaya
• Komposisi produk
• Lokasi
• Struktur tenaga kerja
• Metode pemasaran
• Inflasi
• Standar pelayanan
• Besar cadangan
• Reasuransi
• Pertumbuhan

III Persaingan Dalam Industri Asuransi
Persaingan yang terjadi dalam industri dapat berupa:
• Variasi premi
• Ruang lingkup penutupan
• Jenis produk (misal di life insurance : participating/non participating)
• Pelayanan yang diberikan
• Kecepatan dalam penanganan klaim
• Proses underwriting
• Promosi
• Tingkat komisi yang ditawarkan kepada perantara

Konsumen rumah tangga cenderung hanya melihat faktor harga, sementara konsumen badan usaha juga memperhatikan faktor lain.
Bagi perusahaan asuransi kerugian, proses pelayanan klaim menjadi faktor kunci dalam pemasaran.

Upaya pemasaran melalui pemberian komisi yang terlalu tinggi kepada agen atau broker dapat bertentangan dengan kepentingan masyarakat.

Faktor-faktor yang mempengaruhi persaingan :
a) Jumlah Perusahaan dan Konsentrasi Pasar
Di Inggris
Dilihat dari jumlah perusahaan dan produk yang cukup berbeda satu sama lain, struktur pasar persaingan asuransi adalah monopolistic competition. Namun demikian terdapat beberapa perusahaan besar yang menguasai pasar cukup signifikan.

Di Indonesia
Per akhir 1996 terdapat kurang lebih 100 perusahaan asuransi kerugian dan kurang lebih 50 perusahaan asuransi jiwa. Dilihat dari jumlah perusahaan yang cukup banyak dan cukup bervariasinya produk dan pelayanan yang ditawarkan, pasar persaingan asuransi Indonesia adalah monopolistic competition.
Namun demikian sama halnya dengan di Inggris, beberapa perusahaan memiliki pangsa pasar yang cukup dominan, misalnya pada asuransi kerugian, ada 3 perusahaan terbesar yang menguasai 35% pangsa pasar.

b) Kemudahan untuk Masuk atau Keluar
Persaingan cenderung bertambah ketat jika tidak ada hambatan untuk masuk industri.
Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi barriers to entry:
1. skala ekonomis : di asuransi tidak ada
2. keuntungan dari product diversifikasi yang dimiliki perusahaan yang sudah berdiri
3. organisasi (cabang)
4. keunggulan dari segi biaya yang relatif lebih rendah bagi perusahaan yang sudah berjalan (perusahaan baru masih harus mengeluarkan start-up cost atau acquisition cost yang cukup tinggi)
5. persyaratan modal minimum
6. peraturan perundang-undangan yang harus dipenuhi, misalnya mengenai kualifikasi direksi atau tenaga ahli
7. hubungan dengan reasuransi

c) Kerjasama di Antara Perusahaan Asuransi
Adanya kerjasama di antara perusahaan, misalnya dalam hal penetapan tarif dapat mengurangi persaingan.
Bentuk-bentuk kerjasama yang mungkin dilakukan:
1. mengumpulkan statistik mengenai besarnya kerugian/klaim guna meningkatkan keakuratan penetapan premi
2. persetujuan tarif minimum guna menghindari persaingan dalam tarif (perang tarif), co. tarif asuransi kebakaran
3. standardisasi polis. Tujuannya antara lain untuk menghindari perselisihan dalam kasus contribution, co. PSKI, PSKB.
4. Pencegahan kerugian (loss prevention)

d) Karakteristik Pembeli Jasa Asuransi
Makin tinggi pengetahuan pembeli, makin kompetitif persaingan di industri asuransi, karena pembeli akan mengetahui adanya perbedaan harga atau servis sehingga konsumen dengan mudah berpindah ke perusahaan yang menawarkan perjanjian yang lebih baik.
Namun demikian secara umum, di dalam industri asuransi, pengetahuan yang dimiliki konsumen terbatas (terutama konsumen individu) sehingga bargaining position mereka tidak terlalu tinggi.

e) Kebijakan Pemerintah
Pemerintah dapat mengendalikan persaingan antara lain dengan cara:
a. mendirikan perusahaan asuransi BUMN untuk menutup asuransi yang bersifat sosial
b. membuat ketentuan mengenai harga yang wajar, investasi, solvabilitas, penggabungan, dll.



CHAPTER 7. INSURANCE AND MARKET PRICE

Adanya satu harga pasar, yang terbentuk akibat interaksi kurva permintaan pasar dan kurva penawaran pasar, dapat dikatakan hanya terdapat pada pasar persaingan sempurna. Pembahasan dalam bab ini adalah mengenai penentuan harga oleh suatu perusahaan. Tentu saja, makin tinggi tingkat kompetisi dalam industri maka harga yang ditetapkan suatu perusahaan akan menjadi lebih mendekati sama (seragam) dengan harga dari perusahaan-perusahaan lain.

Premi atau harga asuransi (the price of insurance of office premium) adalah sejumlah uang yang dibayar oleh tertanggung untuk menutup biaya yang wajar atas kerugian-kerugian yang dijamin serta biaya-biaya yang dikeluarkan oleh perusahaan asuransi.

Terdapat empat elemen dalam office premium, yaitu:
1. premi resiko atau premi murni
2. loading untuk biaya-biaya (expenses loading)
3. loading untuk variabilitas klaim (contingency loading)
4. laba (shareholders’ profit)

Ketiga elemen yang terakhir sering disebut sebagai the loading.

1. Premi resiko dan contingency loadings
Premi resiko adalah bagian dari premi asuransi yang ditujukan untuk menutup nilai sekarang (present value) dari jumlah perkiraan rata-rata biaya klaim pada setiap masa asuransi. Sehingga premi resiko dapat diartikan sebagai sejumlah uang yang jika dikumpulkan dari pemegang polis, dalam jangka waktu tertentu untuk setiap tahunnya, akan cukup dan tidak berlebih untuk membayar biaya klaim.

Karena premi hampir selalu diterima lebih dahulu daripada pembayaran klaim maka pendapatan bunga yang dihasilkan dari premi tersebut juga harus dipertimbangkan terutama untuk produk-produk asuransi yang berjangka sangat panjang seperti asuransi jiwa atau tanggung jawab hukum.

Dalam rumus, jika P adalah premi resiko dan C adalah klaim yang dibayar t tahun kemudian dan tingkat bunga rata-rata adalah I, maka:

P (1+i) = C

Karena terdapat pendapatan bunga tersebut maka premi selain dipengaruhi oleh tingkat kompetisi, dipengaruhi pula oleh tingkat bunga yang antara lain dipengaruhi oleh tingkat inflasi.

Penanggung dapat memperoleh keuntungan dari bunga ini jika hasil dari investasi melebihi tingkat inflasi.

Dalam praktek seringkali ditemui kesulitan dalam menghitung premi resiko, karena:
a. jumlah dan frekuensi klaim di masa yang akan datang harus diestimasi;
b. diperlukan jumlah tertentu dari exposures yang homogen untuk dapat menghasilkan estimasi statistik yang representatif
c. jangka waktu (lags) pembayaran klaim yang terlalu lama dapat mengakibatkan premi sangat tergantung pada estimasi cadangan klaim (outstanding claims) atau dapat mengakibatkan perhitungannya menjadi out of date.

The contingency loading adalah bagian dari premi asuransi yang dipergunakan untuk menanggung kemungkinan variabilitas dari biaya klaim.

Premi resiko hanya menanggung biaya klaim rata-rata yang diperkirakan akan terjadi setiap tahunnya. Padahal, biaya klaim yang terjadi dapat saja sangat berbeda dari tahun ke tahun. Makin besar variabilitas tersebut maka akan makin tinggi biaya kontingen yang perlu ditambahkan. Tanpa tersedianya biaya tersebut atau cadangan maka perusahaan dalam perjalanannya dapat bankrut walaupun premi resiko rata-rata telah sama dengan klaim rata-rata. Perhatikan tabel 7/1 dan tabel 7/2


Tabel 7/1
Case A Case B
Number of claims per year
0
1
2
3
more than 3 Probability
0.3
0.6
0.1
0
0 Number of claims per year
0
1
2
3
more than 3 Probability
0.6
0.1
0.2
0.1
0
Expected number of claims per year
0.8

Standard deviation 0.6 Expected number of claims per year
0.8

Standard deviation 1.08

Tabel 7/2
Number of claims per year Total premium Claims Gains/losses Probability
Case A 0
1
2 100
100
100 0
100
200 + 100
0
- 100 0.3
0.6
0.1
Case B 0
1
2
3 100
100
100
100 0
100
200
300 + 100
0
-100
-200 0.6
0.1
0.2
0.1
Pada dasarnya seluruh estimasi perkiraan klaim di masa yang akan datang tergantung pada dua hal, yaitu jumlah klaim (frequency) dalam suatu periode dan besarnya (severity) rata-rata setiap klaim. Pemisahan kedua hal tersebut memberikan manfaat terutama pada keadaan di mana tingkat inflasi relatif tinggi. Dengan pemisahan ini juga dimungkinkan untuk mempelajari besarnya variabilitas dari frekuensi dan besar klaim. Perhatikan tabel 7/3

Tabel 7/3
Year Number of claims Average claim size ($) Total claims in year ($)
1
2
3
4
5 1
10
20
5
4 100
10
5
20
25 100
100
100
100
100

2. Loading for Expenses
Loading untuk biaya-biaya (loading for expenses) atau the expenses loading adalah bagian dari premi asuransi yang dibayar oleh tertanggung untuk membayar biaya-biaya lain selain dari biaya klaim. Biasanya biaya non klaim ini terjadi pada masa awal kontrak.

Biaya-biaya ini mencakup jumlah dalam proporsi yang besar dan masing-masing berbeda untuk setiap cabang asuransi. Perhatikan tabel 7/4

Net claims as a% of net premiums Expenses as a % of net premiums
Liability 1969
1974 55.4
56.2 32.2
28.3
Marine, aviation and transport 1969
1974 72.7
73.8 11.4
21.5
Motor vehicle 1969
1974 66.9
62.4 32.3
31.4
Pecuniary loss 1969
1974 36.9
52.9 48.3
34.1
Personal accident 1969
1974 53.1
49.5 44.4
47.4
Property 1969
1974 50.8
49.4 43.7
42.9

Pembebanan expenses loading dibagi menjadi da yaitu dikaitkan dengan biaya tetap dan variabel. AC = AVC + AFC
Expenses Loading = a.P + b

Expenses loading adalah kombinasi dari
• AVC yang proporsional dengan penutupan atau besar premi (yaitu a.P); dan
• AFC yang tidak tergantung dari tingkat premi (yaitu b)

Perhitungan biaya untuk masing-masing kelas (cabang ) asuransi dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu:
a. Total absorption pricing
Metode ini membebankan biaya-biaya tetap dari perusahaan asuransi kepada masing-masing cabang asuransi dengan metode tertentu. Biaya tetap yang dibebankan tersebut misalnya biaya gaji direksi dalam mengurus cabang asuransi kebakaran.

Berbagai dasar dapat ditentukan dalam pembebanan biaya tersebut misalnya berapa jam waktu yang dihabiskan direksi dalam mengurus asuransi kebakaran atau berapa banyak ruangan kantor yang dipakai untuk mengurus asuransi kebakaran dan seterusnya.

Di samping kesulitan dalam menentukan persentase atau bagian pembebanan tersebut terdapat kesulitan utama dalam pembebanan biaya tetap kepada masing-masing cabang asuransi dengan menggunakan metode ini yaitu bahwa jumlah AFC dari penjualan di masa depan juga sulit diperkirakan.

b. Total contribution pricing
Karena kelemahan-kelemahan metode pertama di atas maka digunakan metode lain yang disebut dengan total contribution pricing. Pada metode ini hanya AVC dari setiap cabang asuransi yang dialokasikan sebagai biaya sehingga pembebanan harga asuransi pada setiap cabang tersebut hanya didasarkan pada biaya variable dan tidak pada total biaya.

Setiap kelebihan penerimaan rata-rata (harga) suatu cabang asuransi atas AVC dianggap sebagai kontribusi dari cabang tersebut kepada biaya tetap. Tujuan dari masing-masing cabang adalah memaksimumkan profit.





MC AVC




MR AR

0 Output



3. The profit loading
The profit loading atau laba adalah bagian dari premi untuk membayar dividen kepada pemegang saham atau pemberi modal perusahaan asuransi. Gambaran mengenai hal ini sebagaimana terdapat pada cost plus pricing di chapter 5.

Pembahasan mengenai laba dalam bab ini bukan untuk menghitung berapa laba yang layak diperoleh namun hanya menjelaskan mekanisme pengenaan laba dalam premi asuransi

a. The large tariff office
Bentuk grafik seperti pada pasar oligopoli. Hal ini bisa terjadi karena perusahaan besar bisa mempengaruhi harga. Dalam hal ada tarif, perusahaan besar gambling. Bila dia menurunkan harga, ada kemungkinan perusahaan lain juga ikut menurunkan harga sehingga timbul kerugian (kenaikan jumlah output penjualan yang semula diperkirakan sebesar Qe-Q4, ternyata hanya naik sebesar Qe-Q3). Sebaliknya jika perusahaan menaikkan harga, ada kemungkinan bahwa perusahaan lain tidak ikut menaikkan harga, sehingga juga timbul kerugian (penurunan output yang semula diperkirakan sebesar Qe-Q1, ternyata mengalami penurunan sebesar Qe-Q2).














0 Q2 Q1Qe Q3 Q4

b. Small tariff office
Perusahaan kecil tidak dapat menentukan harga sehingga ia hanya menjual pada tingkat tarif atau di atas tarif
Apabila perusahaan menjual di atas tarif, maka dia akan mendapat supernormal profit sebesar luas bidang ABCD, sedangkan bila perusahaan menjual pada tingkat tarif, dia akan mendapat supernormal profit sebesar luas bidang EFGH. Pilihan perusahaan untuk menjual pada tingkat tarif atau di atas harga tarif tergantung luas bidang profit mana yang lebih besar, ABCD atau EFGH.





MC AC MC

A B AR 1 AC
E F
Ptarif MR2 = AR2 = P Ptarif MR2=AR2

D C
H G
MR 1 AR1 MR 1



c. Large non tariff office
Sama dengan large tariff office. Kalau sudah tercapai keseimbangan, sulit untuk merubah harga. sebab kebijaksanaan perusahaan untuk menurunkan harga biasanya juga akan diikuti oleh perusahaan lain, sebaliknya apabila perusahaan menaikkan harga, perusahaan lain biasanya tidak akan ikut menaikkan harga, sehingga timbul kerugian bagi perusahaan yang menaikkan harga.




CHAPTER 8. INSURANCE AND THE ECONOMY

A. Insurance, Risk and Uncertainty
• Uncertainty (ketidak pastian) adalah salah satu kenyataan hidup (facts of life).
• Tidak seorang pun mengetahui apa yang akan terjadi di kemudian hari dan sejarah menunjukkan bahwa telah banyak dilakukan usaha-usaha untuk mengurangi resiko.
• Untuk memahami peranan asuransi, perlu dimengerti konsep uncertainty dan resiko serta bagaimana menanganinya.
• Pengertian resiko (terdapat 2 aliran/pengertian)
a. Pengertian 1:
Resiko adalah kemungkinan terjadinya kerugian
b. Pengertian 2:
Resiko adalah tingkat variasi dari berbagai kemungkinan hasil yang dihadapi oleh individu atau perusahaan
• Perbedaan pengertian antara resiko dan ketidakpastian (menurut Frank H. Knight):
a. Resiko adalah ketidakpastian yang tingkat kemungkinan kejadiannya dapat dihitung. Misalnya:
- kemungkinan memperoleh angka 6 pada lemparan sebuah dadu
- kemungkinan seseorang berusia 35 tahun meninggal dunia sebelum mencapai usia 36 tahun
Berbagai kejadian tsb hanya dapat dihitung jika observasi dilakukan pada jumlah kejadian yang sangat besar (the law of the large number).
b. Ketidakpastian (true uncertainties) adalah apabila kemungkinan kejadiannya sama sekali tidak dapat diperkirakan atau dihitung. Misalnya:
- perubahan nilai tukar
- tingkat bunga
- keberhasilan produk baru
Kaitan antara ketidakpastian dan asuransi
Mekanisme asuransi memungkinkan pengumpulan dalam jumlah besar resiko yang sama sehingga expected risk dapat dihitung.
• Jenis-jenis resiko:
a. Menurut penyebabnya:
- resiko dinamis, diakibatkan oleh perubahan dalam sistem ekonomi
contoh : resiko yang diakibatkan oleh perubahan teknologi, persaingan, temuan baru, selera, perubahan peraturan pemerintah, jumlah penduduk dll.
- resiko statis, diakibatkan oleh kejadian alam atau manusia lain
contoh : gempa bumi, kebakaran, pencurian
b. Menurut dampaknya:
- resiko spekulatif : dapat mengakibatkan keuntungan (profit) atau kerugian (loss).
contoh : resiko yang timbul dari adanya inovasi produk baru
 resiko spekulatif lebih merupakan kategori resiko dinamis
 kerugian sebagian pihak biasanya merupakan keuntungan pihak lain
 resiko spekulatif, secara keseluruhan, kadangkala membawa manfaat bagi masyarakat luas.
- resiko murni : jika terjadi, akan mengakibatkan kerugian
 penyebab resiko murni sama dengan resiko statis dan resiko murni ini biasanya dapat diasuransikan
• Metode menangani resiko murni
a. Risk avoidance
Memilih kegiatan atau sesuatu dengan resiko terendah. Misalnya:
- mencari lokasi usaha di dataran yang lebih tinggi dan jauh dari sungai untuk mengurangi resiko banjir
- mencari sistem pemanasan lain selain menggunakan boiler untuk mengurangi resiko kebakaran
Kesulitannya:
- terkadang tidak praktis (incovinience)
- costly atau dengan menghindari resiko, perusahaan mungkin tidak memperoleh keuntungan yang maksimal
- lebih praktikal jika diterapkan sejak tahap perencanaan
- memerlukan sistem penghindaran resiko yang lain
b. Risk reduction
- preventive, meniadakan penyebab kerugian
- protective or quasi-preventive yaitu melindungi sesuatu atau seseorang dari kerugian/kecelakaan
- minimising, membatasi kerugian sekecil mungkin
- salvaging, upaya penyelamatan yang tersisa
c. Risk assumption
Individu atau perusahaan menanggung sendiri resiko yang dihadapinya (self insurance)
- harus dibedakan antara planned dan unplanned risk assumption. Unplanned risk assumption umumnya disebabkan karena ketidaktahuan dan inertia (ketidakberdayaan). Ketidaktahuan bisa disebabkan karena resiko terlalu kecil sehingga tidak disadari apalagi jika nilainya relatif kecil biasanya dimasukkan dalam biaya operasi.
- Cara-cara yang dapat ditempuh untuk melakukan risk assumption:
i. Contingency reserve: perusahaan menyisihkan cadangan untuk menghadapi kemungkinan kerugian. Jika terjadi kerugian, penggantian dianggap sebagai biaya operasi.
ii. Full insurance fund : secara teratur perusahaan melakukan kontribusi pada suatu fund yang khusus ditujukan untuk menghadapi resiko-resiko yang tidak diasuransikan.
Kelemahan sistem ini:
- kesulitan memperkirakan kerugian yang mungkin terjadi serta nilai sisanya
- resiko kerugian dapat terjadi sebelum dana yang dikumpulkan mencukupi
- pada saat kerugian terjadi, dana yang likuid kemungkinan tidak cukup tersedia
- dana yang diperoleh tidak memperoleh perlakuan pajak yang menguntungkan
iii Captive Insurance : mendirikan perusahaan asuransi yang khusus menutup pertanggungan untuk perusahaan-perusahaan dalam sendiri
d. Risk distribution : menyebarkan resiko ke beberapa individu. Contoh : dengan mendirikan firma, CV atau PT. Metode ini sesuai untuk menangani resiko spekulatif.
e. Risk transfer : memindahkan resiko kepada pihak lain dan salah satu bentuknya adalah dengan asuransi. Bentuk lain misalnya pemilik rumah mengalihkan penanganan resiko kebakaran kepada penyewa
f. Hedging atau risk neutralisation, merupakan salah satu cara menangani resiko spekulatif. Dilakukan dengan mengambil posisi atau melakukan aktivitas lain untuk memperoleh gain guna mengkompensasi kemungkinan kerugian pada suatu aktivitas. Contoh : melakukan hedging dalam mengelola resiko nilai tukar mata uang atau tingkat bunga atau diversifikasi produk.

Asuransi tidak selalu menjadi alternatif yang paling baik, dengan alasan sebagai berikut:
- terkadang lebih mahal
- metode lain mungkin lebih efektif

• The Value of Insurance and Moral Hazard
Secara umum, mekanisme asuransi dapat mengurangi biaya bagi perusahaan, rumah tangga atau masyarakat secara umum. Penurunan biaya ini dapat dijelaskan dengan dua bagian:

Pertama, sebagaimana diketahui kebanyakan masyarakat adalah risk-averse. Masyarakat yang seperti ini bersedia untuk membayar premi guna mengalihkan resiko. Karena kepuasan mereka lebih tinggi dengan berasuransi, dapat dikatakan bahwa asuransi merupakan metode yang bermanfaat bagi masyarakat untuk mengalihkan resiko.

Kedua, dengan berlakunya the law of the large number, asuransi merupakan metode yang murah untuk menangani resiko.

Dalam kaitannya dengan moral hazard, manfaat asuransi bagi penurunan biaya secara keseluruhan bisa berdampak dua:
Walau mekanisme asuransi sebenarnya telah men-discourage moral hazard dengan penerapan tingkat premi yang berbeda, namun adanya asuransi dapat pula menyebabkan peningkatan moral hazard.

B. Asuransi dan Investasi
• Kegiatan investasi merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari asuransi. Untuk memenuhi kewajiban yang diperjanjikan, premi yang dikumpulkan oleh perusahaan asuransi harus diinvestasikan.
• Perusahaan asuransi merupakan salah satu institutional investor yang cukup berperan di pasar modal.
• Tujuan utama dari kegiatan investasi adalah untuk kepentingan tertanggung. Perusahaan asuransi berusaha memaksimumkan return dengan tingkat resiko yang tidak berlebihan.
• Sumber return adalah:
- fixed level of income, dan/atau
- capital gain (selisih lebih antara harga jual dengan harga beli)
• Lebih spesifik tujuan berinvestasi adalah:
- pada asuransi yang bersifat jangka panjang (life), tujuan utama investasi adalah untuk:
 menjamin tersedianya dana yang cukup untuk memenuhi kewajiban masa datang
 menawarkan sarana menabung (berinvestasi) dengan tingkat hasil yang kompetitif
- pada asuransi yang berjangka pendek, tujuan utama investasi adalah agar perusahaan memiliki dana untuk memenuhi kewajiban pada saat kewajiban itu timbul.

Asuransi Jiwa dan Tabungan Jangka Panjang
Beberapa produk asuransi jiwa seperti dwiguna dan whole life, selain memiliki elemen jasa proteksi resiko, juga mengandung elemen tabungan atau investasi. Peningkatan permintaan terhadap produk asuransi jiwa dapat berarti peningkatan tabungan (atau penurunan konsumsi).

Manfaat produk ini terhadap perekonomian dapat dilihat dari beberapa aspek berikut:
- memberi perlindungan terhadap kematian dini (premature death)
- sarana untuk menabung atau berinvestasi
- dampak sampingan pada ekonomi:
tergantung dari kondisi perekonomian, produk asuransi jiwa dapat membawa manfaat positif atau sebaliknya.
 Pada saat inflasi : pembelian produk asuransi jiwa dapat mengurangi tingkat konsumsi, yang pada gilirannya dapat meredam tingkat inflasi.
 Pada saat perekonomian mengalami unemployment : pembelian produk asuransi malah memperburuk keadaan, karena pada saat seperti ini, yang dibutuhkan perekonomian adalah peningkatan konsumsi untuk mendorong produksi.

Investasi dan Sektor Swasta
Karakteristik kekayaan/investasi perusahaan asuransi, antara lain:
- dapat menghasilkan stable yield
- dapat menghasilkan stable growth
- liquid dan mudah untuk dipasarkan
- memiliki status pajak yang baik

Biasanya setiap bentuk investasi tidak dapat memiliki seluruh karakter di atas. Dengan pengelolaan investasi yang baik akan dapat dicapai portfolio investasi yang paling sesuai dengan kebutuhan perusahaan asuransi.

Dampak/manfaat investasi perusahaan asuransi pada sektor swasta:
a. Membuat pasar modal lebih efisien
- bargaining power perusahaan asuransi sebagai investor cukup besar, sehingga dapat menuntut adanya full disclosure dari pihak emiten. Akibatnya pasar modal dapat berfungsi dengan lebih efisien.
Pasar modal dikatakan efisien bila harga saham sudah dengan sendirinya terhitung dengan fair, karena masing-masing pihak (investor maupun emiten) memiliki informasi yang lengkap mengenai fakta-fakta material yang mempengaruhi harga saham tersebut.
- pengetahuan dan kebutuhan perusahaan asuransi terhadap bentuk investasi di pasar modal (saham dan obligasi) menyebabkan perusahaan asuransi menjadi investor yang tidak melakukan profit taking dalam jangka pendek. Hal ini menjadikan pasar modal menjadi lebih stabil.
b. Penyediaan dana bagi sektor swasta melalui pembelian saham pada pasar perdana
c. Menyediakan dana melalui pembelian saham di pasar sekunder sekaligus mempertinggi likuiditas di pasar sekunder. Pada pasar sekunder, jual beli saham terjadi antara investor, sudah tidak melibatkan emiten (perusahaan publik lagi). Walau sektor swasta tidak menikmati secara langsung dana dari perusahaan asuransi, namun adanya pasar sekunder yang likuid mendorong emiten maupun investor untuk masuk bursa.
d. Apabila memiliki jumlah saham yang cukup signifikan, perusahaan asuransi juga dapat melakukan pengawasan langsung pada perusahaan-perusahaan publik.

Investasi dan Sektor Publik
Di negara-negara maju, sektor pemerintah umumnya mengeluarkan surat utang dengan jangka waktu yang berbeda-beda (Treasury Bills, Treasury Notes dan Treasury Bonds).
Hasil dari bentuk investasi yang dikeluarkan pemerintah biasanya lebih rendah namun jelas lebih aman. Perusahaan asuransi merupakan salah satu pembeli dari surat berharga pemerintah tersebut.
Surat-surat berharga pemerintah tersebut dapat digunakan sebagai alat kebijakan moneter (misalnya dalam kebijakan tight money policy, perusahaan asuransi diharapkan mau membeli surat berharga pemerintah).

C. Asuransi dan Employment
Industri asuransi tergolong sektor yang padat karya. Pertumbuhan di sektor asuransi berdampak pada peningkatan kesempatan kerja.



CHAPTER 9. ASURANSI DAN EKONOMI INTERNASIONAL

A. Asuransi dan Neraca Pembayaran
Kontribusi sektor asuransi pada neraca pembayaran tergantung dari besar kecilnya arus premi, komisi dan klaim dari dan ke luar negeri. Penghitungan kontribusi neto sektor asuransi harus juga memasukkan pendapatan atau pengeluaran dari broker yang melakukan transaksi keperantaraan asuransi dengan luar negeri.
A.1. The extent of overseas business
• Inggris adalah salah satu dari sedikit negara yang justru mengekspor jasa asuransi ke pasar internasional dan mampu mendatangkan devisa bagi negaranya. Berdasarkan data tahun 1978, 40% pendapatan premi Inggris berasal dari luar negeri.
• Untuk Indonesia, seperti kebanyakan negara lain, transaksi luar negeri sektor asuransi menunjukkan adanya defisit.

A.2. The nature of the balance of payments
a. Pengertian
Neraca pembayaran adalah catatan sistimatis yang memuat semua transaksi yang dilakukan oleh penduduk suatu negara dengan penduduk di negara-negara lain pada suatu periode tertentu. Pencatatan dilakukan dengan sistem pembukuan double entry.

b. Format
Neraca pembayaran Inggris terdiri dari 3 bagian:
1. Current account, yang memuat:
- ekspor dan impor barang
- ekspor dan impor jasa (perbankan, asuransi, pariwisata, dll)
- transfer keuntungan atau pembayaran bunga
2. Capital account, yang memuat transaksi arus modal dari/ke luar negeri dengan rincian sebagai berikut:
- investasi pada surat berharga
- investasi penyertaan langsung (pendirian pabrik, cabang, dll)
- investasi keuangan (pemberian/penerimaan pinjaman)
3. Official financing, menunjukkan nilai dana yang dibutuhkan untuk menstabilkan neraca pembayara.

Jika current account dan capital account menunjukkan angka defisit, maka berarti arus uang ke luar negeri lebih besar dari arus masuk dari luar negeri. Hal ini dapat dibiayai dengan:
- cadangan devisa yang dimiliki
- meminjam dari IMF
- meminjam dari bank sentral luar negeri

A.3. The nature of overseas insurance business
Sektor asuransi dapat melakukan transaksi internasional melalui dua cara berikut ini:
- Establishment business
 Menunjuk agen di luar negeri untuk melakukan underwriting atas nama perusahaan, atau

 Mendirikan cabang atau kantor perwakilan di luar negeri untuk menutup bisnis di luar negeri
- Service business
 Menurut cara ini, perusahaan tidak mendirikan badan usaha di luar negeri. Proses underwriting terhadap penutupan di luar negeri tetap dilakukan di pusat.
 Transaksi service business ini umumnya terjadi :
- antara perusahaan asuransi, atau
- antara perusahaan asuransi dengan perusahaan yang melakukan ekspor impor barang, atau
- captive insurance company dengan induk perusahaanya

Pada prakteknya, kebanyakan supply jasa asuransi ke luar negeri oleh perusahaan asuransi di Inggris dilakukan melalui pendirian badan usaha di luar negeri (establishment business). Hal ini disebabkan karena pemerintah di suatu negara umumnya melarang penduduknya untuk membeli asuransi langsung dari luar negeri dan lebih mendorong pendirian perusahaan joint venture.

A.4.The influence of insurance on the balance of payment
(Lihat tabel 9/3 untuk service business dan tabel 9/4 untuk establishment business)
Transaksi asuransi internasional yang mengakibatkan penerimaan premi dari luar negeri dicatat sebagai berikut:
Pada capital account : (debit) kenaikan cadangan devisa
Pada current account : (kredit) pendapatan premi

Pembayaran klaim ke luar negeri dicatat sebagai berikut:
Pada current account : (debit) pembayaran klaim
Pada capital account : (kredit) penurunan cadangan devisa

B. Hambatan dalam Perdagangan Internasional Sektor Asuransi
Banyak terdapat hambatan dalam perdagangan internasional (barriers to trade) di sektor asuransi

Barriers to trade diartikan sebagai kriteria atau persyaratan yang ditetapkan oleh suatu negara bagi produk asing sehingga produk asing tersebut menjadi kurang kompetitif dibanding produk dalam negeri.

B.1. Alasan dilakukannya barriers to trade di sektor asuransi
Pembatasan yang umumnya diterapkan adalah:
 Batasan yang diterapkan bagi pendirian cabang dari perusahaan asuransi asing.
 Batasan bagi penutupan pertanggungan ke luar negeri baik melalui penempatan langsung maupun reasuransi.

Alasan dilakukannya hambatan-hambatan tersebut antara lain adalah:
a. Politis
Terutama diberlakukan oleh negara yang menganut sistem pemerintahan terpusat di mana badan usaha umumnya dimiliki oleh negara dan tidak ada badan usaha swasta atau asing yang dapat beroperasi.
Namun ada pula negara yang tidak menganut sistem pemerintahan terpusat, seperti India, Mesir, Aljazair atau Iraq yang menganut kebijaksanaan bahwa perusahaan asuransi harus merupakan perusahaan nasional.
b. Melindungi tertanggung dalam negeri
Larangan bagi pembelian asuransi kepada perusahaan asuransi asing adalah untuk melindungi tertanggung dalam negeri dari kemungkinan insolvency atau praktek dagang yang tidak fair dari perusahaan asing, mengingat perusahaan yang didirikan di luar negeri tersebut (perusahaan asing) tidak dapat diawasi oleh pemerintah di suatu negara.
c. Mengurangi tingkat persaingan yang kurang sehat
Masuknya serbuan perusahaan asing membuat persaingan semakin ketat, yang pada gilirannya dapat mendorong perusahaan untuk melakukan perang harga yang akan merugikan industri asuransi.
d. Membangun pasar dalam negeri
Dengan melindungi perusahaan lokal dari perusahaan asing, diharapkan industri asuransi yang dianggap industri penting ini dikuasai oleh perusahaan nasional.
e. Melindungi neraca pembayaran
Penutupan asuransi ke luar negeri dapat menambah defisit neraca pembayaran
f. Menyalurkan dana dari publik dalam negeri untuk pembangunan
Dana yang berasal dari premi yang dibayar oleh pemegang polis lokal diharapkan dapat diinvestasikan kembali oleh perusahaan asuransi nasional ke pasar modal lokal untuk membiayai kebutuhan dana perusahaan lokal dan pembangunan secara umum

B.2. Jenis-jenis hambatan dalam perdagangan asuransi
Walau terdapat hambatan dalam perdagangan asuransi secara internasional, namun pembatasan itu jarang terjadi pada bisnis resasuransi dengan alasan bahwa sifat dasar bisnis reasuransi adalah bisnis internasional karena membutuhkan penyebaran resiko secara geographical.

Beberapa bentuk hambatan yang sering diberlakukan bagi perusahaan asuransi asing adalah sebagai berikut:
- Melarang publik suatu negara untuk melakukan penutupan asuransi pada perusahaan asing yang tidak didirikan di negara tersebut. Indonesia juga menerapkan peraturan ini (Pasal 2 Peraturan Pemerintah Nomor 73/1992).
- Pemerintah dapat membuat peraturan bahwa perusahaan yang merupakan rekanan proyek pemerintah harus melakukan penutupan asuransi dengan perusahaan nasional.
- Beberapa negara menerapkan peraturan yang membatasi pembelian mata uang asing oleh warga negaranya untuk membayar premi ke luar negeri.
- Menetapkan batasan bagi penempatan reasuransi keluar negeri. Beberapa negara menetapkan bahwa penutupan asuransi sampai dengan nilai uang pertanggungan tertentu harus direasuransikan ke dalam negeri. Misalnya uang pertanggungan sampai dengan Rp 50 milyar harus direasuransikan di dalam negeri. Atau, ada juga pengaturan bahwa untuk kelas asuransi tertentu (misalnya kendaraan bermotor) tidak boleh direasuransikan ke luar negeri.

Pengaturan Indonesia mengenai penempatan reasuransi ke luar negeri mensyaratkan bahwa penempatan reasuransi ke luar negeri harus dilakukan dengan memperhatikan kapasitas daya tampung nasional. Ketentuan pasal 26 Surat Keputusan Menkeu Nomor 224/1993 berikut ini mendorong upaya untuk melakukan reasuransi ke dalam negeri.
 Perusahaan asuransi harus memiliki dukungan reasuransi treaty dengan sekurang-kurangnya 1 perusahan asuransi dan 1 perusahaan reasuransi dalam negeri.
 Dukungan reasuransi treaty yang timbul antara 1 perusahaan asuransi dengan perusahaan asuransi lainnya harus dilakukan secara timbal balik.
- Penetapan pajak bagi premi reasuransi ke luar negeri (lihat peraturan yang berlaku di Indonesia mengenai withholding tax untuk premi reasuransi ke luar negeri).
- Ada negara yang mengatur bahwa ceding company yang menempatkan reasuransinya ke luar negeri harus membentuk cadangan teknis atas premi yang direasuransikan tersebut, sedangkan untuk premi yang direasuransikan di dalam negeri tidak harus membentuk cadangan. Akibat dari peraturan ini, solvabilitas perusahaan yang banyak melakukan reasuransi ke luar negeri akan menjadi lebih rendah dibanding perusahaan yang tidak banyak menempatkan reasuransinya ke luar negeri.
- Pembedaan persyaratan modal disetor minimum. Seperti contoh di Indonesia, modal disetor perusahaan nasional lebih rendah daripada perusahaan joint venture.
- Perusahaan asing hanya boleh memasuki pasar lokal dengan mendirikan perusahaan joint venture dengan pihak lokal. Kepemilikan maksimum pihak asing pun dibatasi (80%). Dan umumnya, ada pengaturan yang mensyaratkan agar proporsi kepemilikan pihak lokal meningkat. Peraturan semacam ini juga diberlakukan di Indonesia.

C. Asuransi dan Nilai Tukar
Nilai tukar (exchange rate) didefinisikan sebagai harga suatu mata uang dibanding dengan mata uang asing.
Misalnya US$ 1 = Rp 2500 atau Rp1 = US$ 0,0004
Mata uang domestik dikatakan menguat jika:
Nilai tukar menjadi US$ 1 = Rp 2300
Sebaliknya, mata uang domestik dikatakan melemah jika:
Nilai tukar menjadi US$ = Rp 2700
Seperti halnya produk lain, harga mata uang juga ditentukan oleh kekuatan supply dan demand (figure 9/1)
C.1. Fixed and floating exchange rate
 Fixed exchange rate atau par value system adalah:
Nilai tukar antara mata uang domestik dan asing ditetapkan fixed pada suatu nilai tertentu dengan kemungkinan variasi yang telah ditentukan misalnya 2%
Contoh : US$ 1 ditetapkan fixed Rp 2500 dengan batas atas dan bawah 2% Rp 2450 – Rp 2550
Dengan sistem seperti ini, bank sentral akan menjaga nilai tukar agar bergerak hanya di dalam range yang telah ditetapkan tersebut.
Sistem ini menimbulkan masalah karena bank sentral suatu saat mungkin tidak dapat menahan kekuatan demand dan supply.
 Floating rate
Dalam sistem ini nilai tukar benar-benar bergerak mengikuti kekuatan demand dan supply.
Implikasi dari penerapan sistem nilai tukar floating adalah:
- Tidak akan ada suatu index yang dapat mencatat pergerakan nilai mata uang suatu negara dengan mata uang internasional, karena bisa saja suatu mata uang menguat terhadap Dollar namun melemah terhadap Yen.
- Kondisi neraca pembayaran (balance of payment) dapat mempengaruhi nilai tukar. Meningkatnya defisit neraca pembayaran suatu negara (misalnya karena impor melebihi ekspor) dapat melemahkan nilai mata uang domestik.
- Nilai tukar mata uang domestik terhadap asing dewasa ini lebih banyak dipengaruhi tindakan spekulan.
C.2. Pengaruh perubahan nilai tukar terhadap profitability
Dalam bagian berikut akan dijelaskan pengaruh fluktuasi nilai tukar terhadap:
1. profitability
2. solvency, dan
3. persaingan

Pengaruh perubahan nilai tukar terhadap profitability
Perubahan nilai tukar akan mempengaruhi keuntungan perusahaan, jika hal perubahan tersebut terjadi pada periode antara saat menerima premi dan membayar klaim.
Perhatikan contoh berikut ini,
Suatu perusahaan asuransi kerugian yang ada di Inggris melakukan penutupan asuransi suatu property yang berada di US :
- premi yang diterima US$ 250.000
- klaim dibayar US$ 150.000
• Misalkan, pada saat premi diterima (T=0) nilai tukar adalah £ 1 = $ 2.5
• Pada saat pembayaran klaim (T=1), nilai £ bisa tetap atau mengalami depresiasi menjadi £ 1 = $ 2.0

Perhatikan dampak dari ketiga alternatif kondisi di bawah ini terhadap tingkat profitabilitas perusahaan:
Premi diinvestasikan di UK Premi diinvestasikan di US
Waktu T = 0  £1= $ 2.5
T = 1  £1= $ 2.5 T = 0  £1 = $ 2.5
T = 1  £1 = $ 2.0 T = 0  £1 = $ 2.5
T = 1  £1 = $ 2.0
T = 0 Premi £ 100.000 £ 100.000 $ 250.000
T = 1 Klaim £ 60.000 £ 75.000 $ 150.000
T = 1 Surplus £ 40.000 £ 25.000 $ 100.000 or £ 50.000

Sebagaimana contoh di atas, terlihat bahwa melemahnya nilai tukar £ terhadap US$ yang terjadi antara saat penerimaan premi dan pembayaran klaim, membuat surplus perusahaan UK yang beroperasi di Amerika menurun

Pada dasarnya dampak perubahan nilai tukar terhadap profitability perusahaan multinasional yang beroperasi di luar negeri sangat bervariasi, tergantung arah pergerakan nilai tukar (melemah atau menguat) dan tergantung apakah setelah perubahan tersebut perusahaan sedang dalam kondisi surplus (atau menerima pendapatan) atau defisit (atau mengeluarkan biaya).

Jika perusahaan harus melakukan pembayaran, maka perusahaan akan mengalami keuntungan jika mata uang negaranya menguat.
Contoh :
Nilai pembayaran klaim dalam Rp Nilai pembayaran klaim dalam US$
Rp 500.000.000
Rp 500.000.000 $ 1 = Rp 2500  $ 200.000
$ 1 = Rp 3000  $ 166.667

Pengaruh perubahan nilai tukar pada solvency
Batas tingkat solvabilitas yang diterapkan di Inggris adalah:
Admitted Assets – Kewajiban  18% Premi Bruto



free reserves

Misalkan, suatu perusahaan di UK menerima premi bruto sbb:
- dalam mata uang domestik £ 200.000
- dalam mata uang $ $ 1.600.000 ($1 = £ 0.5)

Nilai free reserves yang semua diinvestasikan di UK adalah 250.000
Nilai tukar kemudian melemah 25% dibanding $ menjadi $ 1 = 0,625
Bagaimana dampaknya pada solvency margin?

Tabel 9/7 Unmatched situation
Sebelum depresiasi Setelah depresiasi
Sterling premium
Dollar premiums


Free reserves
Solvency margin £ 200.000
£ 800.000
£ 1.000.000

250.000
250.000/1.000.000 = 25% £ 200.000
£ 1.000.000
£ 1.200.000

250.000
250.000/1.200.000 = 20,8%

Turunnya mata uang £ (menguatnya $) membuat kewajiban perusahaan meningkat. Apabila peningkatan kewajiban ini tidak diikuti dengan peningkatan di sisi aktiva (investasi), maka kondisi solvabilitas akan menurun.

Seandainya perusahaan dalam contoh di atas melakukan matching assets & liability (kewajiban dalam mata uang asing diimbangi dengan penempatan kekayaan dalam mata uang asing pula), maka kondisi solvabilitas tidak akan banyak terpengaruh.
Misalkan, 80% dari free reserve perusahaan ditempatkan dalam mata uang $, maka setelah depresiasi yang terjadi adalah sebagai berikut:

Tabel 9/8 Matched situation
Sebelum depresiasi Setelah depresiasi
Sterling premium
Dollar premiums


Free reserves
Dalam
Dalam $


Solvency margin £ 200.000
£ 800.000
£ 1.000.000


£ 50.000
£ 200.000
£ 250.000

250.000/1.000.000 = 25% £ 200.000
£ 1.000.000
£ 1.200.000


£ 50.000
£ 250.000
£ 300.000

300.000/1.200.000 = 25%

Pengaruh perubahan nilai tukar pada persaingan
Jika perubahan nilai tukar diperkirakan terjadi pada periode setelah menerima premi dan sebelum membayar klaim, maka perusahaan asing yang mata uangnya menguat akan mengalami keuntungan dari perubahan nilai tukar tersebut. Kenaikan keuntungan dari perubahan nilai tukar tersebut dapat dimanfaatkan untuk menurunkan premi.



UNDANG-UNDANG NO 2/1992
PERATURAN PEMERINTAH NO 73/1992
KEPUTUSAN MENTERI KEUANGAN NO 223 S/D 226 TAHUN 1993

1. PENGERTIAN
• Pengertian Asuransi
UU No 2/1992
Asuransi atau pertanggungan adalah perjanjian antara dua pihak atau lebih dengan mana pihak penanggung mengikatkan diri kepada tertanggung, dengan menerima pembayaran premi asuransi, untuk memberikan penggantian kepada tertanggung karena kerugian, kerusakan atau kehilangan keuntungan yang diharapkan, atau tanggung jawab hukum kepada pihak ketiga yang mungkin akan diderita tertanggung, yang timbul dari suatu peristiwa yang tidak pasti, atau untuk memberikan suatu pembayaran yang didasarkan atas meninggal atau hidupnya seseorang yang dipertanggungkan.

KUH Dagang
Asuransi atau pertanggungan adalah suatu perjanjian, di mana penanggung dengan menikmati suatu premi mengikat dirinya terhadap tertanggung untuk membebaskannya dari kerugian karena kehilangan, kerugian, atau ketiadaan keuntungan yang diharapkan, yang akan dapat dideritanya karena suatu kejadian yang tidak pasti.

• Objek asuransi
Benda dan jasa, jiwa dan raga, kesehatan manusia, tanggung jawab hukum, serta semua kepentingan lainnya yang dapat hilang, rusak, rugi dan atau berkurang nilainya.

Subject matter of insurance (buku Principle of Insurance John T. Steele) yaitu dapat berupa properti atau kejadian yang menimbulkan kerugian atas hak atau menimbulka kewajiban hukum.

• Program asuransi sosial
a. asuransi yang bersifat wajib berdasarkan suatu undang-undang tersendiri;
b. asuransi yang memberikan perlindungan dasar bagi kesejahteraan masyarakat
c. program itu ditetapkan dalam undang-undang dan atau peraturan pelaksanaannya
d. tertanggung tidak memiliki kebebasan untuk memilih penanggung
e. badan penyelenggaranya adalah badan usaha milik negara yang khusus dibentuk untuk itu

Contoh yang tergolong sebagai program asuransi sosial berdasarkan Undang-undang No 2/1992 adalah:
a. Dana Pertanggungan Wajib Kecelakaan Penumpang (UU No 33 Tahun 1964)
b. Dana Kecelakaan Lalu Lintas Jalan (UU No 34 Tahun 1964)
c. Program Jaminan Sosial Tenaga Kerja (UU No 3 Tahun 1992)

Program asuransi untuk pegawai negeri sipil dan ABRI, yaitu meliputi asuransi tabungan hari tua (THT) dan asuransi kesehatan (askes) pada dasarnya bukan merupakan program asuransi sosial, melainkan merupakan asuransi yang bersifat captive.
• Afiliasi
Adalah hubungan antara seseorang atau badan hukum dengan satu orang atau lebih, atau badan hukum lain, sedemikian rupa sehingga salah satu dari mereka dapat mempengaruhi pengelolaan atau kebijaksanaan dari orang yang lain atau badan hukum yang lain, atau sebaliknya, dengan memanfaatkan adanya kebersamaan kepemilikan saham atau kebersamaan pengelolaan perusahaan.

2. BIDANG, JENIS DAN LINGKUP USAHA
• Bidang
a. bidang usaha asuransi atau usaha penanggung resiko:
 usaha asuransi kerugian;
 usaha asuransi jiwa
 usaha reasuransi
b. bidang usaha penunjang usaha asuransi atau perantara (intermediaries):
 usaha pialang asuransi;
 usaha pialang reasuransi
 usaha penilai kerugian asuransi;
 usaha konsultan aktuaria;
 usaha agen asuransi
• Jenis asuransi:
Asuransi kerugian;
Asuransi jiwa

• Lingkup usaha
 Asas spesialisasi
 Perusahaan asuransi kerugian hanya usaha asuransi kerugian
 Perusahaan asuransi jiwa hanya usaha asuransi jiwa
 Perusahaan reasuransi hanya usaha reasuransi
 Perusahaan broker asuransi hanya broker asuransi
 Perusahaan broker reasuransi hanya broker reasuransi
 Perusahaan adjuster hanya adjuster asuransi
 Perusahaan konsultan aktuaria hanya konsultan aktuaria
 Agen asuransi hanya sebagai agen 1 perusahaan asuransi
 Cabang asuransi kecelakaan diri dan asuransi kesehatan yang merupakan jenis asuransi kerugian dapat diselenggarakan oleh perusahaan asuransi kerugian dan perusahaan asuransi jiwa

3. PENUTUPAN OBJEK ASURANSI
• Kebebasan memilih penanggung (free choice)
• Kecuali program asuransi sosial;
• Memilih penanggung harus perusahaan asuransi di dalam negeri;
• Kecuali:
- tidak ada perusahaan yang mau atau mampu;
- pemilik kepentingan asuransi bukan warga negara Indonesia atau badan hukum Indonesia
• terkandung juga penutupan reasuransi

4. BENTUK HUKUM
• Perseroan Terbataas
• Koperasi
• Usaha bersama (mutual)
• Perseorangan

5. KEPEMILIKAN
• Warga negara Indonesia
• Badan hukum Indonesia
• Perusahaan perasuransian asing
• Perusahaan perasuransian yang di dalamnya terdapat kepemilikan asing digolongkan sebagai perusahaan patungan
• Kepemilikan pihak asing maksimum 80%
• Kepemilikan pihak asing dalam kurun waktu 20 tahun harus menurun, menjadi maksimum 49%

6. PERIJINAN USAHA
Pemberian ijin usaha dilakukan dalam 2 tahap, yaitu:
• ijin prinsip
• ijin usaha
Dalam masa ijin prinsip pemohon mempersiapkan pemenuhan persyaratan untuk memperoleh ijin usaha

Persyaratan ijin usaha Perusahaan Asuransi, Perusahaan Reasuransi:
 Dalam anggaran dasar hanya dicantumkan salah satu jenis usaha asuransi dan tidak memberikan pinjaman kepada pemegang saham;
 Dalam susunan organisasi harus ada fungsi pengelolaan resiko, pengelolaan keuangan, dan fungsi pelayanan;
 Memiliki tenaga ahli
 Memiliki modal setor minimum
 Rencana kerja untuk 3 tahun mendatang

7. TENAGA AHLI
• Kualifikasi Tenaga Ahli
Kualifikasi ahli asuransi kerugian dan berpengalaman di bidang pengelolaan resiko asuransi kerugian minimal 3 tahun;
Kualifikasi ahli asuransi jiwa dan berpengalaman di bidang pengelolaan resiko asuransi jiwa minimal 3 tahun;
Kualifikasi ahli aktuaria dan berpengalaman di bidang aktuaria minimal 3 tahun;
Kualifikasi ajun ahli asuransi kerugian dan berpengalaman di bidang teknis asuransi kerugian minimal 2 tahun;
Kualifikasi ajun ahli asuransi jiwa dan berpengalaman di bidang teknis asuransi jiwa minimal 2 tahun;

8. TENAGA AHLI ASING
Penggunaan tenaga ahli asing sebagai tenaga ahli atau penasehat hanya untuk melaksanakan proyek yang berkaitan dengan operasional, untuk jangka waktu paling lama 5 tahun.
Kualifikasi tenaga ahli asing sama dengan tenaga ahli.
Tenaga ahli asing harus memberikan pendidikan dan pelatihan pada karyawan perusahaan.
Penggunaan tenaga ahli asing sebagai tenaga eksekutif di luar pengurus kalau jabatan tersebut belum dapat diisi oleh WNI.

9. KANTOR CABANG
• Pembukaan kantor cabang harus memperoleh ijin.
• Kriteria kantor cabang:
a. memiliki kewenangan untuk menerima penutupan
b. memiliki kewenangan untuk menerbitkan polis
c. memiliki kewenangan untuk menyelesaikan klaim
• Persyaratan:
a. memenuhi tingkat solvabilitas
b. mempekerjakan tenaga berkualifikasi minimal ajun ahli asuransi
c. menyelenggarakan administrasi dan pengolahan data yang memadai

10. MERGER DAN KONSOLIDASI
• Persyaratan:
a. antar perusahaan sejenis
b. hak tertanggung tidak dikurangi
c. kondisi keuangan tetap memenuhi ketentuan tingkat solvabilitas
• Prosedur:
a. laporan keuangan terakhir dari perusahaan yang akan merger
b. laporan keuangan proforma dari perusahaan hasil merger
c. perjanjian pengalihan hak dan kewajiban dari perusahaan yang akan merger
d. rancangan anggaran dasar perusahaan merger
e. pengumuman dalam surat kabar tentang rencana merger

11. TINGKAT SOLVABILITAS (SOLVENCY MARGIN)
• Batas tingkat solvabilitas (solvency margin):
a. perusahaan asuransi kerugian/reasuransi 10% dari premi neto
b. perusahaan asuransi jiwa : 1% dari cadangan premi
10% dari premi neto
• Kekayaan yang diperkenankan (Admitted Assets):
a. dimiliki dan dikuasai (own dan held)
b. siap diuangkan dan disediakan untuk membayar (readily realizable and available for pay)
c. sesuai dengan jenis ditentukan
d. sesuai dengan ketentuan pembatasan
e. sesuai dengan ketentuan penilaian
• Jenis admitted assets:
a. kas dan bank
b. investasi
c. tagihan premi
d. tagihan reasuransi
e. tagihan hasil investasi
f. perangkat keras komputer
g. properti dipakai sendiri
• Pembatasan admitted assets:
a. kas dan bank yang tidak diblokir
b. tagihan premi, tagihan reasuransi, tagihan hasil investasi yang umurnya tidak lebih 3 bulan
c. perangkat keras komputer maksimum 10% dari modal sendiri
d. properti dipakai sendiri maksimum:
20% -- perusahaan asuransi kerugian/reasuransi
40% -- perusahaan asuransi jiwa
dari modal sendiri
• Penilaian admitted assets:
a. kas dan bank, tagihan premi, tagihan reasuransi, tagihan hasil investasi, ditetapkan dengan nilai nominal
b. perangkat keras komputer, properti dipakai sendiri, ditetapkan dengan nilai buku
• Jenis investasi
a. Deposito, sertifikat deposito
b. Saham, obligasi, surat berharga, yang dipasarkan di bursa efek di Indonesia
c. Sertifikat Bank Indonesia (SBI)
d. Surat Berharga Pasar Uang (SBPU)
e. Surat promes berjangka lebih dari 1 tahun
f. Penyertaan langsung
g. Properti
h. Pinjaman hipotik
i. Pinjaman polis
• Pembatasan:
a. deposito, sertifikat deposito, pada satu bank maksimum 5% dari total admitted assets
b. efek yang tercatat di bursa maksimum 5% untuk setiap emiten
c. promes (SBPU dan promes lebih dari 1 tahun):
- secara total maksimum 10% admitted assets
- per emiten maksimum 2% admitted assets
- diterbitkan oleh badan hukum Indonesia
- ada bank penjaminnya
- emitennya bukan afiliasi
d. penyertaan langsung
- pada badan hukum Indonesia (kecuali penyertaan langsung pada bidang usaha asuransi)
- sebagai pemegang saham mayoritas (kepemilikan minoritas dimungkinkan untuk penyertaan langsung pada perusahaan asuransi asing atau joint venture)
- secara total maksimum 50% ekuitas
- per penyertaan maksimum 20% ekuitas
e. properti untuk investasi
- maksimum 5% admitted assets, per unit property
- maksimum 15% admitted assets, total
f. pinjaman hipotik
- hipotik pertama
- penghipotekan didaftarkan
- dijamin dengan properti
- maksimum 75% nilai pasar jaminan, per pinjaman
- maksimum 10% admitted assets, total
g. pinjaman polis
- pada pemegang polis asuransi jiwa
- pemegang polis memiliki nilai tunai
- maksimum 80% nilai tunai polis, per pinjaman
• Penilaian
a. deposito, dihitung berdasarkan nilai nominal
b. sertifikat deposito, SBI, Promes dengan nilai tunai
c. efek-efek, dengan nilai pasar
d. penyertaan langsung dengan nilai apraise
e. properti dihitung dengan nilai apraise
f. pinjaman polis, pinjaman hipotik, dihitung dengan nilai sisa pinjaman
• Larangan investasi:
a. bentuk transaksi turunan
b. perdagangan berjangka
c. investasi di luar negeri, kecuali pada perusahaan asuransi
d. penyertaan pada perusahaan penunjang

12. CADANGAN TEKNIS
- Cadangan premi dihitung dengan metode harian
- Cadangan klaim, mencakup :
a. hutang klaim
b. klaim yang masih dalam proses
c. klaim IBNR
- jumlah cadangan teknis ditambah 25% modal sendiri harus sama dengan jumlah investasi

13. RETENSI SENDIRI
a. Maksimum 10% modal sendiri, untuk setiap resiko
b. Penetapan retensi sendiri harus didasarkan pada profil resiko
c. Jumlah premi neto minimum 30% dari premi bruto
d. Jumlah premi neto maksimum 300% modal sendiri

14. REASURANSI
a. Dukungan reasuransi berdasarkan reasuransi treaty
b. Dukungan reasuransi fakultatif hanya untuk reasuransi yang tidak tercakup dalam reasuransi treaty
c. Dukungan reasuransi treaty minimal harus dari satu perusahaan asuransi lain dan satu perusahaan reasuransi dalam negeri
d. Dukungan reasuransi treaty dengan perusahaan asuransi lain harus secara timbal balik

Reasuransi ke luar negeri:
a. penanggung ulang dari luar negeri memiliki modal sendiri minimal sama dengan modal setor dipersyaratkan bagi perusahaan reasuransi di dalam negeri
b. penanggung ulang di luar negeri yang memiliki reputasi baik



SOAL NOVEMBER 1993

1. Berikan batasan dan uraikan perbedaan elastisitas permintaan terhadap harga (price elasticity of demand) dan elastisitas permintaan terhadap pendapatan (income elasticity of demand). Kaitkan analisa Saudara dengan permintaan jasa asuransi.

2. Tujuan utama perusahaan asuransi adalah untuk memaksimalkan keuntungan. Berikan komentar Saudara sejauh mana pernyataan di atas benar!

3. Permintaan terhadap jasa asuransi dipengaruhi oleh faktor endogenous dan exogenous. Jelaskan dan uraikan pendapat Saudara yang memperkuat pernyataan tersebut.

4. Berikan penjelasan bagaimana cara perusahaan asuransi kerugian menentukan harga jual produknya. Bagaimana hal ini diatur dalam UU No 2/1992 dan peraturan pelaksanaannya.

5. Jelaskan secara ringkas 3 dari hal-hal sebagai berikut:
a. Abnormal profit
b. Diskriminasi harga
c. Contingecy loading
d. Skala ekonomi (economic of scale)

6. Mengapa jasa asuransi diperlukan dan bermanfaat bagi perekonomian nasional suatu negara?

7. Jelaskan sekurang-kurangnya 5(lima) faktor yang menentukan permintaan akan jasa asuransi!


SOAL APRIL 1994.

1. Investasi merupakan hal penting dalam operasional perusahaan asuransi sehingga pemerintah perlu mengaturnya dalam Keputusan Menteri Keuangan RI No 224/KMK.017?1993.
a. Jelaskan peranan investasi bagi perusahaan asuransi kerugian
b. Jelaskan sifat investasi dalam perusahaan asuransi kerugian, dikaitkan dengan sifat resiko yang dikelolanya
c. Jelaskan hal-hal pokok yang diatur dalam KMK tsb yang berkaitan dengan perusahaan asuransi kerugian

2. Jelaskan bagaimana sumber-sumber ekonomi yang terbatas dialokasikan kepada pengguna yang bersaing (competiting users).

3. Untuk mendirikan suatu perusahaan asuransi baru di Indonesia perlu diperhitungkan secara cermat aspek-aspek ekonomi yang dapat merupakan hambatan/kelemahan bila dibandingkan dengan perusahaan asuransi yang sudah berjalan baik (established company). Jelaskan!

4. Efisiensi operasi suatu perusahaan asuransi sangat ditentukan oleh kemampuan perusahaan mengendalikan biaya, baik biaya tetap maupun biaya variabel.
a. Uraikan biaya tetap dan biaya variabel suatu perusahaan asuransi kerugian
b. Bagaimana upaya perusahaan asuransi kerugian mengendalikan biaya variabel tersebut?

5. a. Uraikan berbagai sumber daya (resources) yang diperlukan untuk memproduksi barang dan jasa
b. Jelaskan bagaimana mobilitas penggunaan sumber daya tersebut

6. Jelaskan secara singkat hal-hal berikut:
a. Marginal cost
b. Law of diminishing returns
c. Monopolistic competition
d. Neraca pembayaran
e. Invisible export

7. Uraikan berikut contoh dalam kaitan asuransi kerugian, faktor-faktor yang mempengaruhi permintaan asuransi!


SOAL JULI 1994

1. a. Uraikan apa yang Saudara ketahui mengenai bentuk-bentuk persaingan pasar (market competition)
b. Jelaskan beserta alasan Saudara, bentuk persaingan pasar asuransi kerugian Indonesia

2. Jelaskan bagaimana terjadinya inflasi dan uraikan cara-cara yang dapat ditempuh pemerintah untuk mengendalikannya.

3. Berikan uraian singkat mengenai 4 (empat) dari hal-hal berikut:
a. Risk Assumption
b. Captive Insurance
c. Obligasi
d. Price discrimination
e. Normal profit

4. Dalam menentukan harga jual produknya, perusahaan asuransi kerugian memperhitungkan beberapa unsur. Uraikan unsur-unsur dimaksud.
Bagaimana hal ini diatur dalam UU No 2/1992 dan peraturan pelaksanaannya?

5. Penetapan Tarif Standar dijumpai di banyak pasar asuransi. Diskusikan kebaikan dan keburukan pemberlakuan tarif standard tersebut, dilihat dari sisi Penanggung maupun dari sisi Tertanggung.

6. a. Apa yang dimaksud dengan “income elasticity of demand”.
b. Menurut Saudara, income elasticity of demand untuk asuransi positif atau negatif? Berikan alasan Saudara!

7. Bos Saudara akan memberikan presentasi mengenai “economic of scale” dalam arahan kepada group perusahaan yang sebagian besar di antaranya adalah perusahaan asuransi kerugian. Siapkan bahan presentasi tersebut.

8. Jelaskan apa yang dimaksud dengan pasar modal dan uraikan kepentingan-kepentingan timbal balik antara lembaga ini dengan perusahaan asuransi.


SOAL OKTOBER 1994

1. a. Uraikan ciri-ciri monopoli dan jelaskan kerugian-kerugiannya bagi konsumen
b. Bedakan monopoli dari persaingan sempurna (perfect competition) dan berikan contoh masing-masing

2. Jelaskan apa yang dimaksud dengan hukum Penawaran dan Permintaan (Supply and Demand) dan uraikan faktor-faktor yang menentukan penawaran dan permintaan

3. Uraikan 5 (lima) dari istilah-istilah di bawah ini:
a. Equilibrium Price
b. Neraca dan laba rugi
c. St. Petersburg paradox
d. Average cost
e. Non price competition
f. Marginal utility

4. Dalam kaitan dengan pemenuhan dana suatu Perseroan Terbatas:
a. Uraikan berbagai cara pembelanjaan (penarikan dana) yang dapat dilakukan, baik jangka pendek maupun jangka panjang.
b. Jelaskan sumber-sumber pembelanjaan (penarikan dana) utama bagi suatu perusahaan asuransi

5. Permintaan akan jasa asuransi antara lain dipengaruhi oleh karakteristik keuangan suatu perusahaan pengguna “jasa asuransi (corporate client) dan kenaikan pendapatan konsumen individu. Jelaskan!

6. Bedakan hukum hasil yang menurun (the law of diminishing returns) dan hukum guna marginal (the law of marginal utility).
Jelaskan bagaimana relevansi konsep-konsep ini dengan jasa asuransi

7. Investasi merupakan hal penting dalam operasional perusahaan asuransi sehingga pemerintah perlu mengaturnya dalam Keputusan Menteri Keuangan RI No 224/KMK.017?1993.
a. Jelaskan peranan investasi bagi perusahaan asuransi kerugian
b. Jelaskan sifat investasi dalam perusahaan asuransi kerugian, dikaitkan dengan sifat resiko yang dikelolanya
c. Jelaskan hal-hal pokok yang diatur dalam KMK tsb yang berkaitan dengan perusahaan asuransi kerugian

8. Jelaskan secara ringkas 3 dari hal-hal sebagai berikut:
a. Abnormal profit
b. Diskriminasi harga
c. Contingecy loading
d. Skala ekonomi (economic of scale)


SOAL MEI 1995

1. Tujuan utama perusahaan asuransi adalah memaksimalakn keuntungan
Diskusikan!

2. Jelaskan hambatan-hambatan yang mungkin dihadapi oleh perusahaan asuransi/reasuransi dalam transaksi internasional dan bagaimana pendapat Saudara berhubungan dengan hambatan-hambatan tersebut dalam menghadapi era perdagangan bebas!

3. Definisikan elastisitas silang (cross elasticity) atas permintaan dan jelaskan pentingnya konsep ini bagi penanggung dalam permintaan asuransi!

4. Jelaskan secara singkat hal-hal berikut :
a. Contingency loading
b. Oligopoli
c. Abnormal profit
d. Price discrimination

5. Asuransi mempunyai peranan yang sangat penting dalam perekonomian dan kehidupan sosial di suatu negara. Jelaskan!

6. Tingkat persaingan suatu industri dipengaruhi oleh berbagai faktor.
Uraikan 5 (lima) faktor yang dapat mempengaruhi persaingan dalam industri asuransi

7. Bedakan hukum hasil yang menurun (the law of diminishing return) dan hukum guna marginal (the law of marginal utility).

8. Penetapan tarif standard asuransi dijumpai di banyak pasar asuransi.
Diskusikan kebaikan dan keburukan pemberlakuan tarif standard tersebut dilihat dari sisi penanggung maupun tertanggung!


SOAL JULI 1995

1. a. Jelaskan apa yang dimaksud dengan keseimbangan harga (The equilibrium price)
b. Bagaimana pengaruh penetapan harga maksimum dan minimum oleh pemerintah terhadap pasar?

2. a. Jelaskan apa yang dimaksud dengan skala ekonomis (ecomies of scale) dan sejauh mana konsep ini penting dalam asuransi
b. bagaimana skala ekonomi dapat dicapai dalam asuransi

3. a. Bedakan konsep “total utility” dan “marginal utility”
b. Jelaskan pengertian keseimbangan konsumen (consumers in equilibrium) dan kondisi-kondisi apa yang harus ada untuk mencapai tingkat keseimbangan tersebut.

4. a. Jelaskan apa yang dimaksud dengan neraca pembayaran negara
b. Bagaimana kontribusi industri asuransi terhadap neraca pembayaran negara
c. langkah-langkah apa yang dapat dilakukan pemerintah untuk mengoreksi bila terdapat defisit neraca pembayaran di sektor asuransi

5. a. Bedakan struktur pasar monopoli dengan persaingan sempurna dan berikan contoh masing-masing
b. Jelaskan bagaimana pengaruh ekonomi pada konsumen apabila produk asuransi hanya dipasok oleh satu sumber.

6. Berikan uraian singkat dari istilah di bawah ini:
a. Consumer rationality
b. Opportunity cost
c. Captive insurance
d. Obligasi
e. Super normal profit

7. Efisiensi operasi suatu perusahaan asuransi sangat ditentukan oleh kemampuan perusahaan mengendalikan biaya, baik biaya tetap maupun biaya variabel
a. Uraikan biaya tetap dan biaya variabel suatu perusahaan asuransi kerugian
b. Bagaimana upaya perusahaan asuransi kerugian mengendalikan biaya variabel tersebut

8. Berikan batasan dan uraikan perbedaan elastisitas permintaan terhadap harga (price elasticity of demand) dan elastisitas permintaaan terhadap pendapatan (income elasticity of demand).
Kaitkan analisa Saudara dengan permintaan jasa asuransi.


SOAL NOPEMBER 1995

1. Uraikan pengertian dari istilah di bawah ini:
a. Cost plus pricing
b. Cross elasticity of demand
c. Harga pokok asuransi
d. Law of diminishing return
e. Pasar modal

2. “Kurva biaya rata-rata jangka panjang suatu perusahaan dipengaruhi oleh increasing, constant dan decreasing return to scale”. Jelaskan pengertian tersebut di atas.

3. Dalam situasi pasar oligopolistik, perubahan harga cendrung bergerak perlahan. Jelaskan pengertian Saudara.

4. a. Jelaskan apa yang dimaksud dengan perusahaan asuransi captive
b. Uraikan masing-masing 5 (lima) keuntungan dan kerugian pendirian perusahaan asuransi captive

5. Perubahan jumlah permintaan atas barang yang disebabkan oleh perubahan harga dapat dibagi menjadi “Efek Substitusi” (Substitution Effect) dan “Efek Pendapatan” (Income Effect).
Jelaskan efek tersebut pada barang normal, barang inferior dan barang giffen

6. Jelaskan sejauh mana Pemerintah dapat mempengaruhi persaingan dalam pasar asuransi

7. Dalam menentukan harga jual pokok produknya perusahaan asuransi kerugian memperhitungkan beberapa unsur.
Uraikan unsur-unsur dimaksud!

8. Investasi merupakan hal penting dalam operasional perusahaan asuransi sehingga pemerintah perlu mengaturnya dalam Keputusan Menteri Keuangan RI No 224/KMK.017?1993.
a. Jelaskan peranan investasi bagi perusahaan asuransi kerugian
b. Jelaskan sifat investasi dalam perusahaan asuransi kerugian, dikaitkan dengan sifat resiko yang dikelolanya
c. Jelaskan hal-hal pokok yang diatur dalam KMK tsb yang berkaitan dengan perusahaan asuransi kerugian


SOAL MARET 1996

1. Dalam PP No 73/1992 disebutkan bahwa perusahaan asuransi harus menjaga tingkat solvabilitas.
a. Apa yang dimaksud dengan solvabilitas dan mengapa solvabilitas merupakan indikator penting untuk menilai kesehatan perusahaan?
b. Bagaimana rumusan perhitungan tingkat solvabilitas perusahaan asuransi sesuai surat KMK No 224/KMK.017/1993 tentang kesehatan Keuangan Perusahaan Asuransi dan Perusahaan Reasuransi?
c. Jelaskan arti margin solvabilitas

2. Apa yang saudara ketahui mengenai mekanisme pembentukan harga di dalam suatu perekonomian yang menganut “Market Economy”. Kekuatan-kekuatan utama apa yang memberikan kontribusi pada mekanisme tersebut. Jelaskan!

3. Jelaskan secara ringkas (pilih lima dari enam):
a. Opportunity cost
b. Solvency margin
c. Price equilibrium’
d. Soft market dan Hard market
e. Modal sendiri
f. Harta yang diperkenankan

4. Jelaskan secara singkat (pilih lima dari enam):
a. Premium Reserve
b. Claim reserve
c. IBNR
d. Underwriting year
e. Run-off system
f. Claims made basis

5. Jelaskan 5 (lima) faktor yang mempengaruhi permintaan jasa asuransi

6. a. Permintaan akan suatu barang berakar pada landasan : barang tersebut akan mendatangkan kepuasan (utility) kepada pembeli. Jelaskan perilaku konsumen dalam kaitan dengan utility ini. Jawaban Saudara harus meliputi total utility, marginal utility dan diminishing marginal utility.
b. Apabila terdapat keterbatasan anggaran, bagaimana rumus untuk tercapainya total utility yang maksimum dalam mengkonsumsi dua atau lebih barang. Jelaskan!
c. Sehubungan dengan (a) dan (b) tersebut di atas, jelaskan perihal kurva permintaan yang menurun dari kiri atas ke kanan bawah dalam bentuk slope.

7. a. Uraikan 3 (tiga) kategori biaya utama pada perusahaan asuransi.
b. Uraikan hal-hal yang dapat menjadi Barrires to Entry di Industri Asuransi Indonesia


8. Dalam kaitan dengan pemenuhan dana suatu Perseroan Terbatas:
a. Uraikan berbagai cara pembelanjaan (penarikan dana) yang dapat dilakukan, baik jangka pendek maupun jangka panjang.
b. Jelaskan sumber-sumber pembelanjaan (penarikan dana) utama bagi suatu perusahaan asuransi



SOAL MEI 1996

1. Sebuah perusahaan yang bergerak di bidang bahan baku industri memiliki nilai investasi sebesar Rp 1 Trilyun, omset tahun 1995 mencapai Rp 500 milyar dan diperkirakan akan bertambah sebesar 30% pertahun untuk lima tahun mendatang. Dengan komposisi pasar domestik dan luar negeri sebesar 40% dan 60%, perusahaan tersebut mengamankan penjualannya dengan kontrak-kontrak penjualan yang meliputi berbagai jangka waktu.
Bersamaan dengan rencana go-public untuk menarik dana masyarakat sebesar Rp 200 milyar guna meningkatkan kapasitas produksinya, management perusahaan juga mengadakan penghematan di berbagai bidang termasuk mengurangi anggaran premi asuransi sehingga di sana sini terjadi “under insurance” yang sangat mencolok. Sindikasi perbankan yang memberikan kredit sebesar Rp 300 milyar mensyaratkan asuransi atas agunan yang bersangkutan. Jelaskan pendapat saudara:
a. Apakah Saudara setuju dengan keputusan management melakukan under insurance? Berikan alasan Saudara?
b. Apabila tindakan pencegahan resiko telah dilakukan secara memadai, exposure finansial apa yang masih akan dihadapinya
c. Sebagai calon investor yang dapat mengalokasikan dana Rp 0,5 milyar pada perusahaan untuk pembelian saham di bursa, apakah Saudara akan memutuskan untuk membeli saham perusahaan ini. Mengapa?

2. Jelaskan pengertian “Income Elasticity of Demand”. Apakah menurut anda income elasticity of demand untuk asuransi positif atau negatif? Berikan alasan saudara!

3. Sejauh mana kebenarannya bahwa sasaran utama asuradur adalah memaksimumkan keuntungan. Diskusikan alasan Saudara!

4. Apabila terdapat dua alternatif sebagai berikut bagi suatu perusahaan untuk membiayai kemungkinan kerugian dari bahaya kebakaran:
- Menyiapkan sejumlah dana untuk memulihkan kembali kerusakan akibat kebakaran
- Membeli polis asuransi untuk memperoleh sejumlah dana yang cukup untuk memulihkan kerusakan tersebut pada alternatif pertama, dengan membayar premi asuransi.
Jika perusahaan memilih alternatif kedua dengan pertimbangan akan lebih menguntungkan (dengan pengertian bahwa dengan biaya yang sama dapat memperoleh proteksi tambahan seperti banjir dan gempa bumi) mengeluarkan biaya premi daripada mengeluarkan biaya untuk penyertaan dana khusus.
a. Konsep biaya apakah yang dipakai oleh perusahaan tersebut
b. Dalam hal bagaimana konsep biaya ini bermanfaat
c. Berikan contoh problema apa yang dapat timbul di dalam evaluasi konsep biaya ini

5. “Premi adalah harga yang harus dibayar tertanggung dan ditetapkan asuradur di dalam akseptasi suatu resiko”
Berikan pendapat Saudara atas pernyataan tersebut di atas dan jelaskan bagaimana harga tersebut ditetapkan!

6. Uraikan hal-hal berikut:
a. Contingency loading
b. Opportunity cost
c. Revenue maximization
d. Consumer surplus

7. a. Uraikan perhitungan nilai wajar atas investasi yang dipersyaratkan oleh pasal 20 (Surat KMK No 224/KMK.017/1993) mengenai penilaian investasi.
b. Uraikan larangan berinvestasi menurut pada pasal 21 SK yang sama.

8. Bos Saudara akan memberikan presentasi mengenai “economic of scale” dalam arahan kepada group perusahaan yang sebagian besar di antaranya adalah perusahaan asuransi kerugian.
Siapkan bahan presentasi berikut!


SOAL JULI 1996

1. a. Apakah yang Saudara ketahui tentang barang ekonomi (economic goods) dan barang bebas (free goods)
b. Bagaimana hubungan kedua macam barang tersebut dengan kelangkaan (scarcity)
c. Jelaskan 2 (dua) macam sistem ekonomi yang digunakan dalam kaitannya dengan kelangkaan tersebut

2. Suatu perusahaan manufaktur yang sudah beroperasi selama tiga tahun masih mengalami kerugian. Setelah diadakan evaluasi, disimpulkan bahwa walaupun produk yang dijual disukai oleh konsumen dan kualitasnya baik, harganya belum bisa dijangkau oleh sebagian besar pasar yang dituju. “Harga yang tidak kompetitif disebabkan oleh belum tercapainya skala ekonomi (economies of scale)” demikian dikatakan oleh pimpinan perusahaan tersebut. Jelaskan:
a. pengertian skala ekonomis
b. penerapan skala ekonomis pada perusahaan asuransi dan bagaimana mencapainya

3. a. Jelaskan 4 (empat) jenis kompetisi pasar
b. Pasar asuransi Indonesia termasuk jenis kompetisi pasar yang mana? Diskusikan!

4. a. Berikan pengertian Permintaan dan Penawaran
b. Jelaskan bagaimana harga dapat mempengaruhi permintaan dan penawaran, serta terbentuknya keseimbangan harga
c. Faktor-faktor apakah yang dapat mempengaruhi permintaan dan penawaran. Uraikan!

5. a. Permintaan mempunyai hubungan yang erat dengan harga dan pendapatan. Perubahan pada harga dan pendapatan dapat memberikan pengaruh yang berbeda pada permintaan akan barang yang berbeda pula. Di dalam ilmu ekonomi, hubungan tersebut disebutkan sebagai apa? Jelaskan!
b. Uraikan hal-hal yang dapat mempengaruhi hubungan tersebut!

6. Uraikan:
a. Faktor-faktor produksi
b. Diminishing return
c. Variable costs
d. Entry barrier
e. Cost plus pricing

7. a. Uraikan 2 (dua) sumber penerimaan terbesar perusahaan asuransi di luar modal setor
b. Dari sisi “assets”, apa perbedaan perusahaan asuransi kerugian dibandingkan dengan perusahaan manufaktur.
c. Di pasar modal, kita sering mendengar “institutional investor” mempunyai peranan yang dominan. Apa yang saudara ketahui tentang "institutional investor” dan jelaskan kaitannya dengan industri asuransi.

8. Dalam kaitan dengan UU RI No 2/1992 tentang usaha perasuransian. Uraikan:
a. Jenis usaha perasuransian yang dapat dilakukan di Indonesia
b. Lingkup usaha perusahaan perasuransian untuk jenis usaha tersebut pada (a)


SOAL OKTOBER 1996

1. a. Pada asuransi, skala ekonomi (economies of scale) secara relatif tidak terlalu penting. Bagaimana tanggapan Saudara terhadap pernyataan ini, dan berikan alasannya.
b. Uraikan sumber skala ekonomi yang dapat diperoleh pada perusahaan asuransi
c. Dalam era kompetisi dan globalisasi, apakah skala ekonomi pada perusahaan asuransi dapat diabaikan. Uraikan alasan saudara!

2. Jelaskan disertai dengan kurva yang relevan, hal-hal berikut:
a. Total Revenue, Average Revenue dan Marginal Revenue
b. Uraikan hubungan antara Total Revenue, Total Cost dan Profit

3. Jelaskan:
a. Faktor-faktor yang mempengaruhi permintaan dan penawaran (masing-masing lima)
b. 3 (tiga) macam hubungan antara satu macam barang dengan barang lain, dan bagaimana pengaruh perubahan harga satu barang terhadap permintaan barang lain tersebut.

4. a. Jelaskan tentang Earning Per Share (EPS) dan Return on Equity (ROE)
b. Pada pasar modal, jelaskan apa yang dimaksud dengan pasar perdana dan pasar sekunder
c. Pada Laporan Neraca, terdapat perkiraan Neraca berupa harta benda (Assets), Kewajiban (Liabilities) dan modal sendiri (Stock Holders Equity). Uraikan ketiga hal tersebut.

5. Uraikan hal-hal berikut:
a. Contribution Pricing
b. Fixed and Floating Exchange Rates
c. Indifference Curve
d. Risk Premium

6. a, Uraikan berbagai sumber daya (resources) yang diperlukan untuk memproduksi barang atau jasa
b. Jelaskan bagaimana mobilitas penggunaan sumber daya tersebut

7. Dalam kaitan asuransi kerugian, jelaskan faktor-faktor yang mempengaruhi permintaan akan asuransi

8. Dalam menentukan harga jual produknya perusahaan asuransi kerugian mempertimbangkan beberapa unsur. Uraikan unsur-unsur dimaksud.
Bagaimana hal ini diatur dalam UU No 2/1992 dan peraturan pelaksanaannya?


SOAL MARET 1997

1. Premi adalah harga yang ditetapkan untuk akseptasi suatu resiko
a. Jelaskan bagaimana harga tersebut ditetapkan
b. Apakah penentuan harga yang demikian masih relevan dalam kaitan dengan pasar asuransi Indonesia saat ini? Berikan alasan Saudara!

2. “Sasaran utama perusahaan asuransi adalah memaksimalkan keuntungan”. Diskusikan pernyataan tersebut!

3. Uraikan:
a. Indeks Harga Saham Gabungan
b. Revenue maximization
c. Price Earning Ratio
d. Price discrimination

4. Investasi perusahaan asuransi diatur dalam KMK RI No 224?KMK.017? 1993
a. Uraikan larangan investasi dana asuransi menurut pasal 21 SK tersebut
b. Mengapa investasi dana asuransi perlu diatur oleh Pemerintah? Diskusikan!

5. Jelaskan bagaimana sumber-sumber ekonomi yang terbatas dialokasikan kepada pengguna yang bersaing (Competitive users)

6. Asuransi adalah bisnis yang bersifat internasional sehingga akseptasi perusahaan asuransi dapat dilakukan dalam berbagai mata uang. Hal ini menimbulkan masalah “matching asset-liability”.
a. Jelaskan apa yang dimaksud dengan “matching”
b. Bagaimana “matching” diatur dalam Surat KMK No 224/KMK.017?1993 pasal 7
c. Adakah perbedaan antara perusahaan asuransi kerugian dan asuransi jiwa dalam kaitan dengan “matching” ini
d. Kemungkinan apa yang dapat timbul apabila terjadi mis-match

7. Uraikan:
a. Agio saham
b. Captive insurance
c. Obligasi
d. Marginal utility

8. Biaya bagi perusahaan asuransi pada dasarnya terdiri dari Biaya tetap (Fixed Cost) dan Biaya variabel (Variable Cost).
a. Jelaskan biaya-biaya apa saja yang termasuk dalam biaya tetap dan biaya variabel
b. Jelaskan disertai gambar bahwa perusahaan dengan biaya tetap relatif lebih rendah akan lebih fleksibel menghadapi naik turunnya tingkat kerugian dalam jangka pendek


SOAL JUNI 1997

1. Harga sering digunakan untuk memenangkan persaingan pasar
a. Apakah strategi harga tersebut relevan dipergunakan di pasar asuransi kerugian di Indonesia? Diskusikan!
b. Jelaskan faktor-faktor yang mempengaruhi Price Elasticity of Demand!

2. Uraikan 4 (empat) dari hal-hal berikut:
a. Pinjaman subordinasi
b. Modal sendiri
c. Witholding tax premi asuransi
d. Capital gain
e. Risk averter

3. Opportunity cost merupakan konsep biaya yang abstrak. Jelaskan dan berikan contoh problema yang dapat timbul dalam evaluasi opportunity cost.

4. Salah satu ketentuan kesehatan keuangan perusahaan asuransi yang harus dipenuhi adalah tingkat solvabilitas.
a. Jelaskan arti solvabilitas
b. Uraikan batas tingkat solvabilitas sesuai ketentuan Surat KMK no. 224/KMK.017/1993 Bab II

5. Di antara perusahaan asuransi ada yang ingin memperoleh pertumbuhan premi yang sebesar-besarnya. Jelaskan:
a. Kaitannya dengan sasaran perusahaan untuk memaksimalkan keuntungan
b. Alternatif apa yang dapat ditempuh perusahaan untuk mencapai tujuannya

6. Pemakai jasa asuransi baik individu maupun korporasi mempengaruhi permintaan akan jasa asuransi
Jelaskan faktor-faktor endogen dan exogen yang berpengaruh terhadap permintaan asuransi oleh pemakai tersebut

7. Penempatan reasuransi keluar negeri seringkali dipandang sebagai pemborosan devisa.
a. Jelaskan keuntungan dan kerugian penempatan reasuransi keluar negeri
b. Uraikan solusi yang dapat ditempuh untuk menetralisir pemborosan devisa sekaligus mencapai tujuan penyebaran resiko.

8. Berikan uraian ringkas mengenai 4 (empat) dari hal-hal berikut:
a. Normal profit
b. Captive insurance
c. Revenue maximization
d. Fixed dan floating exchange rate
e. Neraca pembayaran


SOAL AGUSTUS 1997

1. Fluktuasi nilai mata uang akhir-akhir ini telah berakibat pada depresiasi beberapa mata uang Asia terhadap US Dollar.
a. Jelaskan konsekuensi yang dapat terjadi pada perusahaan asuransi kerugian yang menjual polis dalam mata uang US Dollar di samping mata uang lokal yang mengalami depresiasi tersebut (jawaban Saudara supaya mencakup pula jenis-jenis kewajiban yang terkait)
b. Uraikan SK Menteri Keuangan No 224/KMK.017/1993 pasal 7 yang berkaitan dengan hal tersebut

2. Uraikan 4 (empat) dari hal-hal berikut ini:
a. Floating Exchange Rate
b. Marginal Propensity to Consume
c. Current Account Deficit
d. Kekayaan yang Diperkenankan (Admitted Assets)
e. Pinjaman polis

3. Dalam laporan keuangan perusahaan asuransi selalu dijumpai adanya cadangan teknis.
a. Uraikan bagaimana cadangan teknis disajikan dalam Neraca dan Laporan Rugi Laba
b. Jelaskan mengapa cadangan teknis diperlukan dan konsekuensi apa yang dapat timbul apabila cadangan teknis tidak memadai
c. Uraikan ketentuan cadangan klaim sesuai SK Menteri Keuangan No 224/KMK.017/1993 pasal 23

4. Pada “soft market” sekarang ini, persaingan harga cenderung menjadi fokus utama strategy penjualan pada pelaku pasar asuransi.
a. Uraikan unsur-unsur yang membentuk harga jual produk asuransi
b. Bagaimana hal ini diatur dalam Undang-Undang No 2 tahun 1992 dan peraturan-peraturan pelaksanaannya
c. Apa yang akan terjadi pada industri asuransi Indonesia apabila penetapan harga tidak lagi mengikuti ketentuan seperti tersebut pada a) dan b) di atas, melainkan hanya semata-mata untuk memenangkan persaingan. Diskuskan.

5. Berikan uraian ringkas mengenai hal-hal berikut:
a. Risk premium
b. Normal profit
c. Premium reserves
d. Solvabilitas

6. Pertumbuhan ekonomi Indonesia rata-rata di atas 7% memberikan dampak pertumbuhan pendapatan percapita yang pesat sehingga diharapkan dapat mencapai US $ 2.000 pada lima tahun mendatang.
Percepatan kenaikan permintaan akan asuransi dipengaruhi oleh Income Elasiticity of Demand.
a. Jelaskan apa yang dimaksud dengan Income Elasticity of Demand
b. Pada industri asuransi di Indonesia apakah Income Elasticity of Demand akan positif atau negatif? Berikan alasan Saudara?

7. Dalam situasi persaingan yang ketat skala ekonomi (economies of scale) makin berperan untuk kelangsungan hidup perusahaan pada umumnya. Jelaskan:
a. Pengertian skala ekonomi
b. Penerapan skala ekonomi pada perusahaan asuransi dan bagaimana mencapainya

8. Ilmu ekonomi bersumber pada kelangkaan (scarcity) barang dan jasa yang dihasilkan oleh faktor-faktor produksi untuk memenuhi kebutuhan yang tak terbatas
a. Jelaskan 2 (dua) macam sistem ekonomi yang digunakan dalam kaitan dengan kelangkaan tersebut
b. Uraikan apa yang dimaksud dengan faktor-faktor produksi



SOAL OKTOBER 1997

1. “Soft market” dikatakan terjadi sebagai akibat dari kelebihan pasok kapasitas reasuransi dan asuransi. Hal ini mengindikasikan bahwa produk asuransi tunduk pula kepada hukum permintaan dan penawaran.
a. Uraikan apa yang dimaksud dengan permintaan dan penawaran
b. Jelaskan bagaimana harga dapat mempengaruhi permintaan dan penawaran, serta terbentuknya keseimbangan harga
c. Uraikan faktor-faktor yang dapat mempengaruhi permintaan dan penawaran

2. Dengan dilepaskannya “pita intervensi” Bank Indonesia, maka telah dimulai era penerapan sistem nilai tukar rupiah yang mengambang penuh terhadap US dollar dan mata uang asing lainnya, sehingga nilai tukar rupiah terhadap US dollar dapat bervariasi dari waktu ke waktu.
Bagi perusahaan asuransi kerugian yang menerima pertanggungan baik dalam Rupiah maupun US dollar.
a. Jelaskan langkah-langkah yang harus diterapkan untuk selalu dapat memenuhi kewajiban-kewajibannya dalam kaitan dengan fluktuasi nilai tukar tersebut
b. Uraikan tindakan preventif untuk menghindari “mis-match” sebagaimana diatur dalam SK Menteri Keuangan No 224/KMK.017/1993

3. Cadangan teknis kadangkala terabaikan dalam penilaian performa suatu produk asuransi yang dipasarkan, walaupun diketahui bahwa sudah banyak perusahaan asuransi yang mengalami kesulitan keuangan karena penentuan cadangan tehnis tidak memadai.
Jelaskan konsekuensi berantai apakah yang dapat terjadi apabila cadangan tehnis ditentukan:
a. secara berlebihan
b. tidak memadai
Jawaban Saudara harus mencakup seluruh jenis cadangan tehnis yang diperlukan.

4. “Ketiadaan statistik klaim yang akurat dalam asuransi Harta Benda menimbulkan kesan bahwa produk ini harga pokoknya abstrak, sehingga premi dpat dibanting ke bawah tanpa batas dan tanpa acuan”.
Berikan tanggapan Saudara mengenai komentar tersebut di atas dengan menguraikan:
a. unsur-unsur yang membentuk Harga Pokok produk asuransi
b. perbandingan harga pokok produk asuransi dengan produk yang bersifat ‘tangible’ (misalnya televisi)

5. Dikatakan bahwa ‘Income Elasticity of Demand’ terhadap produk asuransi cendrung positif.
a. Jelaskan mengapa terjadi fenomena tersebut
b. Di samping pendapatan, jelaskan faktor lain yang juga dapat mempengaruhi permintaan asuransi!
c. Jelaskan bagaimana elastisitas permintaan terhadap pendapatan!

6. Uraikan apa yang dimaksud dengan istilah di bawah ini:
a. Engel curves
b. Perfect competition
c. Cross-demand curves
d. Dynamic risk and static risk

7. Perusahaan asuransi adalah salah satu “institutional investor” di pasar modal.
a. Uraikan apa yang dimaksud dengan Pasar Modal
b. Uraikan ketetentuan investasi dana asuransi di Pasar Modal sebagaimana diatur dalam SK Menteri Keuangan No 224/KMK.017/1993
c. Jelaskan peran perusahaan asuransi dalam Pasar Modal

8. Dalam bisnis pada umumnya, ‘Revenue’ dan ‘Profit’ hampir selalu menjadi agenda pokok yang ingin dicapai perusahaan. Jelaskan:
a. Total Revenue, Average Revenue dan Marginal Revenue
b. Hubungan antara Total Revenue, Total Cost dengan Profit

Tidak ada komentar:

Mengenai Saya

Indonesian Open University studentut Online Kammarkollegiet Swedish State's Insurance Institute Affairs Education